Sejarah Tabuik di Pariaman
Oleh : Nurul Haq Adita

By Administrator 08 Mar 2021, 17:09:39 WIB Seni & Budaya
Sejarah Tabuik di Pariaman

Keterangan Gambar : Istimewa


Di Sumatera Barat, lebih tepatnya di Pariaman. Disana masyarakat selalu melaksanakan pesta tabuik pada pertigaan awal bulan Muharram. Hal ini sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Sumatera Barat.  Pesta tabuik ini, konon didasari sejarah Islam.

Sepeninggal Nabi Muhammad SAW secara berturut-turut diangkat empat orang Khalifah. Abu Bakar Siddiq, Umar bin Khatab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Ali bin Abi Thalib dibunuh dalam perjalanan ke Mesjid. Sewafat beliau, pengikutnya menobatkan Hassan sebagai pemimpin. Hassan adalah anak dari Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah binti Muhammad.

Baca Lainnya :

Tapi itu semua tidak berjalan lama, Hassan diracun oleh para pengikut Yazid bin Muawiyah. Lalu Hussein adiknya Hassan tampil untuk menuntut balas kematian saudaranya dan menegakkan kehormatan keluarganya. Dalam perjalanan menuju Damaskus pusat pemerintahan Yazid. Maka terjadilah Perang Karbala pada tanggal 1 hingga 10 Muharram 61 Hijriah.

Sayangnya, Hussein terkena anak panah dari musuh. Dengan permintaan terakhir Hussein seusai sholat Jum’at, dia dieksekusi di halaman Masjid Damaskus dengan leher yang dipancung. Hal ini meninggalkan duka yang amat besar.

Jenazah Hussein diselamatkan oleh para malaikat yang turun dari langit. kepingan- kepingan jasadnya disatukan, dimasukkan ke dalam sebuat peti kayu diterbangkan ke langit oleh buraq. Pada saat itulah seorang pengikut Syiah berkebangsaan Cipei Atau Sipahi yang berasal dari India membuat model arakan seperti apa adanya. Tabuik, yang harus diarak berkeliling wilayah desa/kota setiap 10 Muharam.

Kebangsaan Cipei membawa tradisi ini ke Bengkulu dengan nama Tabot. Pesta tabot ini berkembang ke Pariaman, Sumatera Barat. Pada sebelumnya bangsa Cipei memilih jalan yang membuat mereka terdampar di Pariaman, yaitu yang dulunya pusat pelayaran dan perniagaan di jalur pesisir barat Sumatera. Dilanjutkanlah pada pumukiman mereka yang baru di Pariaman.

Sejalannya waktu pada perkembangan zaman, tabuik pun mengalami perubahan. Disamping hal ritual kegamaan, dan sekrang terdapat nilai sosial kemasyarakatan, seni dan permainan rakyat. Dan digelar tidak hanya di Pariaman saja, tetapi sudah menyebar ke kota-kota lain seperti Padang.

Prosesinya, meliputi tanggal 1 Muharram. Pada hari ke-5 Muharram menebang batang pisang.Pada hari ke-7 mengarak jari-jari pada malam hari. Hari ke-8 ritual mengarak sorban. Selanjutnya puncak dari acara 10 Muharram pada waktu shubuh tabuik naik pangkek dilanjutkan pada pagi hari mahoyak tabuik, dan selanjutnya menjelang maghrib membuang tabuik ke laut.

Sementara pesta tabuik ini diiringi musik tradisional seperti tabuik lenong, tasa, gendang.  Dalam mengiringi pemusik serta penonton sering meneriakkan “Hoyyak Hussein” berkali-kali yang berasal dari kata Hassan dan Hussein. (*)





Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Kanan 1 - Iklan Sidebar

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Instagram, Youtube dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Kanan 2 - Iklan Sidebar