Bernilai Ekonomis, Warga Simaruok Budidayakan Jahe Merah

By Administrator 30 Sep 2020, 10:13:04 WIB Agam
Bernilai Ekonomis, Warga Simaruok Budidayakan Jahe Merah

WARTA ANDALAS, AGAM - Jahe (Zingiber officinale) adalah salah satu rempah yang memiliki banyak manfaat. Selain menghasilkan rasa dan aroma yang khas dalam makanan dan minuman, tumbuhan ini juga dapat memberikan sensasi pedas dan membuat tubuh terasa hangat.

Tidak hanya sebagai bumbu dapur, jahe juga banyak manfaatnya untuk kesehatan, diantaranya mencegah penyakit kulit, mencegah masalah perut, berperan sebagai antioksidan di dalam tubuh dan dipercaya dapat membantu meringankan batuk, pilek, sakit tenggorokan, serta mampu meningkatkan daya tahan tubuh.

Jahe yang ada di Indonesia nyatanya tidak hanya satu. Jahe berwarna putih pasti sudah sangat familiar dan mudah dijumpai di pasar tradisional. Jenis jahe ini lebih banyak digunakan untuk masakan. Ternyata, masih ada lagi jenis jahe lainnya, yaitu jahe merah. Jahe jenis ini lebih sering digunakan sebagai campuran minuman kesehatan.

Baca Lainnya :

Dikutip dari situs Halodoc.com, jahe merah lebih banyak manfaatnya jika dibandingkan dengan jahe putih. Jahe merah mengandung minyak atsiri yang lebih banyak, begitu pula kandungan zat oleoresin, gingerol, dan zingeron. Kandungan minyak atsiri pada jahe merah efektif untuk meredakan batuk yang aman untuk dikonsumsi siapa saja, termasuk anak-anak. Lalu, zat zingeron pada rempah ini efektif untuk mencegah peradangan pada usus dengan bekerja secara aktif dalam menghambat enzim pemicu inflamasi.

Saat ini, budidaya jahe merah menjadi salah satu alternatif bagi sebagian masyarakat untuk menopang perekonomiannya. Pasalnya di masa pandemi Covid-19, permintaan terhadap jenis jahe meningkat.

Melihat peluang ini, Pera (40) warga Simaruok, Jorong II, Nagari Garagahan, Kecamatan Lubuk Basung, memanfaatkan lahan di sekitar rumahnya untuk bertanam jahe merah.

“Karena manfaatnya inilah yang menjadi alasan utama saya membudidayakan jahe merah,” ujar Pera pada AMC, Selasa (29/9).

Pera mengaku, membudidayakan jahe merah ini, baru digelutinya sejak beberapa bulan yang lalu. Awalnya dirinya tidak memiliki ilmu dan pengalaman dalam membudidayakan jahe.

Hal ini tidak menjadi halangan baginya, karena diera digital saat sekarang ini, informasi sangat mudah didapati.

“Mulai dari cara memilih rimpang jahe untuk dijadikan bibit, penyemaian, penanaman, panen, dan perawatan, serta media tanamnya-pun, ilmunya didapat dari media online,” jelasnya.

Saat ini, Pera membudidayakan jahe di tiga media tanam, yaitu karung, kotak dan tanam langsung di tanah. Hal ini dilakukannya agar dapat membandingkan media tanaman mana nantinya yang lebih efisien dalam membudidayakan jahe.

“Tanah yang ada di setiap medianya telah dicampuri dengan pupuk kandang, sekam, dan abu sisa pembakaran, agar tanah tersebut kaya dengan unsur hara,” tambahnya.

Secara keseluruhan, jumlah jahe merah yang ditanamnya sekarang berjumlah lebih kurang sebanyak 450 bibit, yang berasal dari 5 kilogram rimpang jahe.

Dari pengalamannya, Pera menerangkan, dalam 1 kilogram rimpang jahe, bisa menghasilkan lebih kurang sebanyak 100 bibit jahe.

Namun saat penyemaian, tidak 100 persen berhasil, ada beberapa bibit tidak tumbuh, karena mengalami pembusukan. Saat usia sekitar 30-40 hari, bibit sudah bisa dipindahkan ke media tanamnya, dan menunggu sampai jahe siap panen, sekitar umur 7-8 bulan.

Menurutnya, dalam perawatannya tidaklah sulit, jahe bukan tanaman yang manja, hanya saja yang harus diperhatikan adalah kelembaban tanahnya, karena jahe tidak akan bagus hasilnya jika tanahnya terlalu basah ataupun terlalu kering. Serta terbebas dari gulma atau tanaman liar lainnya.

“Bukti membudidayakan jahe ini tidak sulit adalah, saya masih bisa beraktivitas seperti biasanya tanpa menganggu pekerjaan yang lainnya,” tegasnya.

Selain itu, kedepannya ia juga berencana untuk lebih mengembangkan dan menanam tanaman rempah lainnya, serta memanfaatkan semaksimal mungkin lahan-lahan kosong yang ada di sekitar rumahnya.

“Semoga dengan melihat budidaya jahe merah ini, masyarakat lainnya bisa termotivasi untuk memanfaatkan lahan-lahan kosong menjadi lahan yang produktif, nan di laman untuak dimakan, nan di parak baok ka pakan” pangkasnya. (AMC/H)





Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Kanan 1 - Iklan Sidebar

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Instagram, Youtube dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Kanan 2 - Iklan Sidebar