Berkah Muhasabah dan Masjid Agung Sawahlunto
Oleh: Amin Perwira

By Administrator 15 Feb 2020, 23:37:59 WIB Opini
Berkah Muhasabah dan Masjid Agung Sawahlunto

Tak seperti biasanya, Jum’at malam kemarin istri tercintaku memulai pembicaraan di ruang tamu. Padahal, biasanya ia akan ajak aku bicara di meja makan saat tengah menikmati sarapan pagi, atau ketika sedang bersantap malam.

"Pah, besok pagi mama harus berangkat ke luar kota membawa anak-ansk siswa kelas IX. Tolong besok papa hadiri undangan dari sekolah Adek (panggilan untuk anak semata wayang kami). Jangan sampai telat ya pah," ujarnya.

Sambil sedikit enggan, akupun menjawab, " emang acara apaan sih mam," tanyaku sambil menyeruput kopi sedikit gula, hasil adukan jemari istriku.

Baca Lainnya :

"Itu loh pah, nggak lama lagi kan Adek ujian. Jadi sekolah mau ngadain Muhasabah di masjid Agung, dan harus didampingi orangtua," terang istriku, seperti sedang menerangkan suatu pelajaran pada  muridnya.

"Hmmm.. Gitu aja kok harus didampingi sih mam.. Papa kan juga banyak kerjaan," sahutku, dengan nada menolak.

"Ooh gitu ya pah.. kalo emang papa gak mau ya nggak apa apa. Tapi, emangnya papa mau anak kita dibilang nggak punya bapak?," sergah istriku.

"Maksud mamah?," tanyaku, mulai penasaran dengan apa dan bagaimana sebenarnya acara Muhasabah.

Dari pertanyaanku, istriku tampak mengerti bahwa aku tak paham dengan undangan kegiatan sekolah anakku ini. Ia pun mulai menerangkan dengan seksama.

"Pah, jadi dalam acara itu nanti bakal ada salahsatu sesi, dimana murid harus sungkem pada orangtua. Minta maaf dam minta do'a restu untuk dimudahkan dalam menghadapi ujian," paparnya, sambil terlihat meyakinkan aku.

“Oohh.. begitu ya mam… ya udah, besok papa hadir deh,” jawabku singkat, menutupi ketidaktahuanku.

“Naah.. gitu dong papa saying… ini surat undangannya,” ujarnya, sambil menyodorkan sehelai kertas surat undangan berlogo SMA Negeri 1 Sawahlunto.

Malam pun berlalu, dan seperti biasa aku bangun pagi dan menemani istriku masak dan cuci pakaian sebelum adzan subuh berkumandang.

“Papah nggak lupa hari ini ke Masjid Agung kan pah?,” Tanya istriku, sambil menyodorkan segelas kopi, lengkap dengan tatakan dan tutup gelasnya.

“Ya enggaklah mamah.. Papa pasti datang kok,” jawabku, sambil mencubit kecil pipi istriku.

Selanjutnya, aktifitas dalam keluarga kecilku pun berjalan seperti biasanya, hingga tepat pukul 5.30 WIB, istriku pamitan untuk berangkat ke sekolah, tempatnya mengabdi pada nusa dan bangsa.

Sementara usai solat subuh, aku lihat anakku sibuk bergelut dengan buku dan Laptop di mejanya. Maklum, anak semata wayangku ini sedang berjuang untuk dapat lulus ujian dan masuk kuliah di Universitas Indonesia.

Hingga hampir pukul 7.00 WIB, anakku terdengar memanggil. “Paah.. papaah.. cepetan mandi pah, kita berangkat setengah delapan,” pintanya, dan akupun bergegas ke kamar mandi menuruti keinginan anakku.

Singkat cerita, kami pun sampai di Masjid Agung. Aku merasa tak ada yang istimewa, meski tampak ratusan pelajar SMANSA didampingi para orangtuanya. Dan justru akup hanya duduk-duduk di halaman masjid, sambil menikmati berbatang-batang rokok kretek yang sengaja kubawa dari rumah, hingga tiba-tiba ada salahseorang walimurid yang mengajakku masuk.

“Pak, masuk yuk.. acaranya sudah mulai dari tadi, kita sudah telat,” ajaknya, sambil memberi isyarat dengan kepalanya.

Aku pun menuruti ajakannya, dan duduk diantara para orangtua murid lainnya.

Entah apa yang merasuki pikiranku saat sang ustadz sedang memberikan ceramah. Aku ingin keluar dan merokok. Lalu, diam-diam akupun keluar dari dalam Masjid, dan segera membakar rokok keretekku.

Belum habis sebatang rokokku, terlihat ada juga orangtua murid yang keluar menuju toilet, dan kemudian menemaniku menghisap sebatang rokok. Kami pun sedikit berbincang dan berkenalan. Akhirnya, kami pun sama sama kembali masuk ke dalam Masjid.

Disinilah aku mulai merasakan sesuatu yang aneh. Semua yang ada di dalam masjid tampak tertunduk, dan begitu khusuk mendengarkan ceramah ustadz H. Afdal.

Aku pun mulai mendengarkan dengan seksama. Ternyata sang ustadz sedang menggugah hati nurani para murid agar berbakti pada orangtua. Bahkan, dalam ceramahnya pun sang ustadz terlihat menangis. Tak ayal, hamper seluruh yanga ad di sana pun ikut terharu dan meneteskan air mata.

Sejenak aku terdiam, sebuah perasaan aneh terus menyeruak dalam hati kecilku, hingga akhirnya akupun tak kuasa menahan lelehan airmata yang entah kapan terakhir kalinya menetes di pipiku ini.

“Sekarang… yaa.. sekarang.. cari orangtuamu, dan sekarang  saatnya kalian bersujud dan memeluk orangtuamua. Mintalah maaf, dan mintalah doa dari orangtua kalian. Sebab, mereka adalah orangtua yang telah membesarkanmu hingga kalian sebesar ini,” seru H. Afdal pada seluruh murid.

Sesaat kemudian seluruh murid pun berhamburan mencari orangtuanya masing-masing, termasuk anak semata wayangku.

Ya.. pagi itu Masjid Agung Nurul Islam yang menjadi kebanggan muslim Sawahlunto, memang penuh sesak. Namun sepertinya mereka tak kesulitan menemukan ortunya masing-masing. Begitu juga dengan anak bujangku.

Ia langsung merenggut tanganku, lalu memeluk sambil menciumiku sambil tersedu-sedu seperti tengah menyesali kesalahan yang begitu besar.

“Maafin adek ya pah..adek banyak salah sama papah..,” sebutnya, sambil terus tersedu-sedu.

“Iya sayang.. papa dan mamah sudah maafin adek. Papa dan mamah bahagia punya anak soleh seperti kamu, nak. Teruslah berbakti pada papa dan mamah. Buatlah kami bangga, karena adek anak satu-satunya,” bisikku, yang tak sanggup lagi menahan haru.

“Amieen..Iya pah.. Insya Allah pah. Do’akan adek agar dimudahkan dalam segala urusan yap ah...,” jawbnya lirih, sambil terus terisak.

Hingga panitia acara menyudahi sesi ini, anak bujangku masih terisak dalam pelukanku, yang kini benar-benar merasakan betapa berbaktinya dia.

Jika aku boleh jujur, betapa beruntungnya aku dapat hadir dalam acara itu. Sebab, aku dapat menyaksikan secara langsung, betapa suasana dalam masjid itu mampu menggetarkan hati setiap anak manusia yang bahkan sebandel apapun, mau  bersujud dan meneteskan airmata dihadapan orangtuanya. Secara pribadi, aku merasa bahwa ini merupakan pengalaman spiritual dan berkah Muhasabah di Masjid Agung. (**)

 





Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Kanan 1 - Iklan Sidebar

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Instagram, Youtube dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Kanan 2 - Iklan Sidebar