Opini

Oleh: Sherlina Sesilia Candra

Widyaiswara Bersikap Berlawanan Arah

Warta Andalas | Rabu, 05 Desember 2018 - 11:19:06 WIB | dibaca: 180 pembaca

Sebagaimana kita tahu bahwa guru merupakan pahlawan tanpa tanda jasa yang mempunyai tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik hingga mengerti seluk beluk mengenai kehidupan  ilmu pengetahuan yang tanpa ada dirinya kita bukanlah apa-apa. Seperti kata Albert Einstein,”Seni tertinggi guru adalah untuk membangun kegembiraan dalam ekspresi kreatif dan pengetahuan”. Oleh karena itu sebelum mengajarkan sesuatu hal terhadap muridnya, diharapkan sang guru memahami bagaimana karakteristik kepribadian guru yang di perlukan sebagai panutan siswanya. Namun dibalik semua itu sudahkah kita mengetahui apa yang telah terjadi pada guru saat ini?.

Indonesia, negara kita tercinta yang katanya negara patuh akan hukum, negara yang cinta akan perbedaan, negara yang selalu menjujung tinggi rasa persatuan dan kesatuan, tetapi masih saja terdapat banyak kasus kriminalitas. Contohnya saja kasus kekerasan yang sedang marak terjadi dengan melibatkan sosok pendidik yaitu seorang guru. Ada saja oknum yang ber title kan guru melakukan hal yang tak senonoh kepada muridnya. Seperti seorang guru menampar 9 murid di depan kelas, tamparan yang dilayangkan tampak begitu keras hingga mengakibatkan tubuh muridnya terpelanting ke belakang. Kasus itu terjadi pada 8 bulan silam tepatnya di SMK Kesatrian, Purwokerto. Aksi tersebut direkam oleh salah satu murid dan beradar luas hingga seketika video itu viral dan banyak kecaman dari masyarakat.

Dari kasus tersebut sudah terlihat jelas guru yang seharusnya menjadi tempat berlindung dan mengadu para murid disekolah kini malah jadi malaikat maut bagi mereka. Alasan guru itu  melakukan tindakan penamparan adalah  lantaran para murid terlambat masuk ke ruang kelas saat jam belajar-mengajar berlangsung. Dilihat dari hasil visum yang dilakukan, beberapa murid  mengalami nyeri di bagian rahang, telinga berdengung, memar, lecet, hingga mengeluh pusing berkelanjutan.  Apakah itu bentuk dari kasih sayang guru kepada muridnya? Apakah itu yang dinamakan guru tegas dalam hal mendidik?.

Begitu miris dunia pendidikan pada zaman sekarang. Hancur sudah nilai moral di negara tercinta ini, pelanggaran kode etik makin marak terjadi dan tidak ada lagi yang takut akan hukum yang berlaku. Bukan hanya kasus kekerasan guru pada murid yang terjadi adapun sebaliknya, tindak kekerasan juga terjadi oleh murid kepada gurunya. Bahkan ada yang menyebabkan sang guru meninggal dunia dengan keadaan yang mengenaskan. Tidak hanya itu kerap juga terjadi kasus pelecehan seksual terhadap murid sekolah dasar oleh gurunya sendiri. Bukan hal baru kita mendengar kasus tersebut, hingga pekak telinga ini belum juga akan tuntas. Kasus yang tak henti-hentinya terjadi membuat Indonesia di pandang sebelah mata. Lantas siapa yang akan disalahkan atas semua kasus yang terjadi secara silih berganti?.

Banyak dari kaum guru yang melakukan tindakan tersebut mengaku bahwa ia juga pernah mendapatkan perlakuan yang sama. Mereka juga pernah mendapat perlakuan kekerasan atau pun pelecehan dari seseorang. Jadi perlakuan keji tersebut akan terus menerus berlanjut bak tali rantai yang tak kan putus. Karena siswa cenderung menuruti kemauan guru bahkan bujuk rayu dan ancaman pun terpaksa di turutinya. Kenapa begitu? Karena sejatinya siswa memang harus menghormati dan menghargai guru seperti hal nya orang tua sendiri.. Rata-rata para siswa yang mendapat perlakuan tidak wajar takut untuk mengadu pada orang tua mupun pihak berwajib karena ancaman dari sang guru. Peluru ancaman guru tersebut mampu menembus mental dari siswa hingga mengakibatkan depresi dan trauma yang mendalam. Seharusnya bukan hanya guru yang membenahi diri, namun siswa pun haruslah berpandai-pandai memilah mana perlakuan yang baik dan mana yang buruk dan jika terdapat suatu tindakan tidak wajar segeralah melapor agar terdapat efek jera bagi pihak pelaku.

Sosok seorang guru memang sangat dibutuhkan dalam upaya pembentukan akal dan karakter bangsa. Memang benar kata Jazuli selaku Ketua Komisi I Fraksi PKS, kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kualitas guru dan tenaga kependidikan. Begitu pentingnya pendidikan, sudah menjadi rahasia umum bahwa maju atau tidaknya suatu negara diukur dari kualitas pendidikan di negara tersebut. Jadi guru adalah mata rantai kemajuan bangsa bukannya malah jadi “perusak” karakter bangsa karena memberi contoh yang tidak patut kepada muridnya. Nampaknya kini wajah pendidikan di Indonesia justru dirusak oleh perbuatan kaum terdidik, walaupun bukan sepenuhnya namun berita-berita yang beredar tak hentinya membahas akan hal tersebut.

Untuk itu seharusnya Indonesia segera berbenah diri karena terlepas dari semua itu masih banyak anak-anak yang ingin mendapatkan pendidikan yang layak, masih banyak diluar sana yang ingin mengecap indahnya ilmu pengetahuan. Indonesia sangat  membutuhkan tenaga didik yang bukan hanya kaya akan ilmu pengetahuan tetapi juga kaya akan etika moral. Guru adalah profesi yang  mulia, bagaimana Indonesia kedepannya tergantung kepada bagaimana guru di dalamnya. Namun jika keguruan masih sebengis ini mau jadi apa Indonesia kelak, jika terus menerus begini penjajahan serupa akan melanda Indonesia kembali. Lambat laun generasi penerus bangsa akan merubah diri menjadi penghancur bangsa.

Dilihat dari dunia perfilman Indonesia juga sudah banyak tontonan-tontonan yang memperlihatkan betapa rusaknya tali silaturrahmi antar sesama umat manusia, seperti pembunuhan tragis yang makin membudaya dan lihatlah betapa banyak yang dirugikaan atas kejadian-kejadian tersebut. Seharusnya itu yang menjadi referensi kita dalam menyikapi persoalan dunia pada zaman sekarang ini. Jangan hanya melihat dari sisi buruknya saja, ambil pesan-pesan positif yang terkandung di dalamnya. (**)

 





Komentar : 0


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)