Lintas Provinsi

Warga Silawan ‘Mulai’ Budidaya Kepiting Bakau

Warta Andalas | Kamis, 18 Mei 2017 - 10:17:17 WIB | dibaca: 72 pembaca

WARTA ANDALAS, TASIFETO TIMUR - Budidaya kepiting bakau menggunakan sistim “Crabb Ball” merupakan kegiatan perdana yang dilaksanakan oleh Yayasan ‘Crabb Ball’ Mangrove Indonesia di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Sistim budidaya ramah lingkungan yang hanya memanfaatkan lahan mangrove/bakau berlumpur itu mulai diperkenalkan kepada warga Desa Silawan, dalam kegiatan Pelatihan Budidaya Kepiting Bakau yang berlangsung di Aula Kantor Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, Rabu (10/5).

Kegiatan pelatihan tersebut di ikuti 50 peserta yang terbagi di 5 kelompok nelayan di antaranya ; Kelompok Nelayan Kuda Laut, Nokar Kiik, Pantai Sarobon, Sarobon Indah, dan Kelompok Nelayan Rusa Fuik.

Drs. Sartoto Direktur Eksekutif Yayasan Crabb Ball Mangrove Indonesia menjelaskan, keunggulan budidaya kepiting dengan sistem Crabb Ball adalah tidak perlu pengadaan lahan khusus seperti tambak, keramba, kolam, pond, farm dan lain-lain, tetapi cukup memanfaatkan lahan mangrove berlumpur yang ada. Budidaya ini sangat ekonomis dan cocok untuk nelayan modal kecil.

“Secara teknis crabb ball hanya diletakkan dengan dikaitkan berantai dan diikat pada pohon. Setiap kepiting dipisahkan, ditempatkan dalam satu crabb ball sehingga terhindar kanibalisme. Apabila terjadi bencana, mudah dievakuasi satu persatu tanpa alat berat. Tidak merusak ekosistem, mendorong untuk memperbanyak hutan mangrove, tempat diperamnya kepiting dalam crabb ball. Harga sarang crabb ball mudah terjangkau dan dapat dipakai selama 4 tahun,” terang Sartato.

Menyinggung pemasaran, Sartato mengetengahkan budidaya kepiting bakau ini memiliki peluang usaha yang sangat strategis mengingat permintaan pasar dunia akan kepiting bakau semakin meningkat dari tahun ke tahun.

“Dari 234 jenis kepiting di Indopacific dan 125 jenis kepiting di Indonesia, yang banyak diperdagangkan adalah jenis kepiting bakau yang habitatnya di sekitar hutan mangrove. Sementara untuk kebutuhan kepiting di pasar domestik dan pasar ekspor, lebih disukai dalam bentuk segar, beku, kering maupun dalam kemasan,” sebutnya.

Untuk pengembangannya, pihak Yayasan ‘Crabb Ball’ Mangrove Indonesia telah menetapkan lokasi pilot project di sejumlah daerah yang memiliki lahan hutan mangrove.

“Khususnya di Kabupaten Belu mulai dalam proses pelatihan. Lahan yang di sediakan seluas 180 hektar are. Untuk penanaman crabb ball sudah dipesan sebanyak 15.000 unit. Yang sudah dikirim sebanyak 3.000 unit. Sebelumnya kepiting bakau dikembangkan di Provinsi Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Jawa Barat, Riau, dan Provinsi Papua,” katanya. (pkpsetdabelu)





Komentar : 0


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)