Nasional

Warga Muslim Bali Pertanyakan Konsep Pariwisata Halal Sandiaga Uno

Warta Andalas | Rabu, 27 Februari 2019 - 08:35:50 WIB | dibaca: 556 pembaca

WARTA ANDALAS, DENPASAR - Ide calon wakil presiden dari pasangan 02 Sandiaga Uno untuk mengembangkan pariwisata halal di Bali, tidak hanya memantik penolakan dari para pelaku pariwisata. Tetapi juga dari warga Muslim sendiri.

Salahsatunya adalah Mohammad Bakkri, tokoh komunitas muslim yang bermukim di Canggu, Kuta Utara.

“Gak masuk akal ide- nya Pak Sandi itu,” ujar lelaki kelahiran Madura yang sudah bertahun-tahun tinggal di Bali pada Selasa (26/2) petang di Denpasar, Bali.

Menurut Bakkri, selama bertahun-tahun tinggal dan berwiraswasta di daerah yang dikenal sebagai pusat turis di Bali itu, ia sangat jarang berjumpa dengan wisatawan dari negara-negara Arab.

“Yang jumlahnya membludak itu bule dan turis Cina. Itu makanya ide Pak Sandi itu saya bilang gak masuk akal. Ngapain sibuk-sibuk ngurusin yang jumlahnya sedikit?. Kan lebih bagus yang sudah pasti jumlahnya banyak yang diurusi,” katanya sembari tersenyum.

Bakkri juga khawatir bahwa ide tentang pariwisata halal itu akan menimbulkan kegaduhan yang tidak bermanfaat.

“Apa Pak Sandi itu tidak paham ya bahwa dengan berapi-api ngomongin pariwisata halal itu sama saja artinya dengan bilang bahwa pariwisata Bali itu belum halal,” katanya.

Hal-hal kayak gini, kan bikin kita susah karena kan pariwisata Bali itu sudah menjadi sumber penghidupan jutaan orang, termasuk warga muslim Bali,” tegasnya.

Dikatakannya, sejumlah warga muslim yang bekerja di sektor pariwisata sudah mulai resah dan menghubunginya terkait ketidaksetujuan mereka terhadap apa yang disampaikan Sandiaga Uno itu.

“Kalau urusannya cuma masalah adanya restoran bersertifikat halal dan tempat ibadah, saya rasa Bali memiliki jumlah yang sangat memadai. Hotel-hotel bintang lima di Nusa Dua tiap kamarnya bahkan ada petunjuk arah kiblat-nya. Kayaknya Pak Sandi belum sempat ngecek hal-hal seperti ini sebelum mengeluarkan pernyataan,” imbuhnya.

Bakkri meminta para tokoh politik pusat untuk lebih bijaksana dalam mengeluarkan pernyataan tentang pariwisata di Bali.

“Bali ini daerah yang paling rukun urusan hubungan antar agama. Mohon jangan diusik-usik kerukunan itu semata-mata untuk urusan kampanye politik,”

Bakkri juga mengingatkan bahwa pariwisata Bali itu maju karena budaya-nya yang unik.

“Jadi gak usah kasi ide aneh-aneh lah. Di mana langit dipijak, di situ langit dijunjung,” pungkasnya.

Pendapat senada juga disampaikan oleh Rektor Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, Prof. Dr. Ir. Made Damriyasa.

Menurutnya, tidak ada keraguan bahwa keunikan budaya Bali merupakan faktor yang paling menentukan dalam keberhasilan Bali menjadi destinasi wisata terbaik di Indonesia dan, bahkan, di dunia.

Dalam konteks ini, sebut dia, keberlanjutan pariwisata Bali akan ditentukan oleh kemampuan pemerintah, pelaku pariwisata, serta masyarakar Bali dalam menjaga keunikan budaya tersebut. Termasuk dalam mempertahankan nilai-nilai tradisi, spiritualitas serta kearifan lokal yang menjiwai kebudayaan Bali.

“Konsep-konsep pariwisata yang berpeluang mengikis keunikan budaya tersebut tentunya harus ditolak dengan tegas. Pariwisata halal termasuk ke dalam konsep-konsep itu,” terangnya.

Damriyasa menghargai dukungan yang diberikan komunitas muslim Bali dalam penolakan atas konsep pariwisata halal tersebut.

“Komunitas-komunitas muslim di Bali banyak yang usianya sudah melampaui beberapa abad, sehingga mereka tidak hanya paham tentang kebudayaan Bali tetapi juga telah menjadi bagian dari kebudayaan Bali itu sendiri. Karena itum saya tidak heran bahwa mereka menolak konsep pariwisata halal ini,” ungkapnya. (rel)





Komentar : 0


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)