Tokoh

Wahyu Purnama, Putra Minang yang Sukses Berkarier di Perbankan

Warta Andalas | Jumat, 29 November 2013 - 14:20:19 WIB | dibaca: 3422 pembaca

Dikalangan pengusaha, khususnya para pelaku perbankan serta seluruh mitranya, siapa yang tak mengenal Wahyu Purnomo?. Sosok sederhana nan ramah dan penuh wibawa yang telah malang-melintang di dunia perbankan Nasional ini.

Ya, pria kelahiran Padang Sumatera Barat, 2 Maret 1968 silam itu menappakan kaki serta memantapkan diri untuk menekuni dunia perbankan, hingga akhirnya ia pun dipercaya untuk memimpin sebuah cabang perwakilan di Bank Indonesia (BI).

                                                                     Bersama keluarga tercinta

Selain dibantu staf-staf handalnya, dalam debutnya memanage sebuah bank, Wahyu, panggilan akrab Wahyu Purnomo ini memang tak lepas dari dorongan atau support istri tercintanya, Dr. Diana Faizah yang selalu memberikan motifasi dalam setiap jenjang karier yang dilaluinya.

Kebahagiaan mereka pun kian lengkap dengan hadirnya tiga putrid yang mereka cintai, yakni Wina Annisafitri Purnama yang kini telah duduk di kelas II SMA Jakarta Islamic School, Hanifa Salma Fauziah yang tengah menempuh pendidikan kelas 5 SD, serta Aiesha Salma Nadira, si bungsu  yang kini telah berusia 5 tahun.

Memimpin dan memanage sebuah bank, memang tidaklah semudah yang dibayangkan. Butuh keseriusan, kematangan berpikir dan bertindak, serta harus ekstra teliti dan hati-hati dalam mengambil sebuah keputusan.

 Bersama Mentri Kelautan, Fidel Muhammad

Namun, bagi wahyu Purnama hal itu telah ia buktikan sehingga ia pun dipercaya untuk menjadi Kepala perwakilan.

Buktinya, setelah sukses memimpin Bank Indonesia (BI) di Gorontalo selama 2 tahun 9 bulan, kini sejak empat bulan yang lalu Wahyu Purnama kembali dipercaya untuk memimpin BI perwakilan Tasik Malaya Jawa Barat, Wilayah Priangan Timur yang kini telah memiliki asset sebesar Rp.170,5 Triliun, dengan membawahi 5 kabupaten/ kota, yaitu Kabupaten Banjar, Ciamis, Pangandaran, Tasik, serta Kota Tasik Malaya.

Tak tanggung-tanggung, diwilayah ini kepiawaian Wahyu Purnama juga teruji dalam memanage perbankan yang berjumlah 48 Bank Cabang, belum termasuk Cabang Pembantu dan kantor Kas, yang keseluruhannya mencapai 361 kantor.

 
                            Bincang-bincang bersama awak media

 

Wahyu Purnama yang ditemui diruangkerjanya, Senin (25/11) kemarin itu menyampaikan bahwa pada Bank yang dipimpinnya itu kini telah menyalurkan kredit sebsar Rp 15,5 Triliun. Sedangkan dana pihak ketiga yang meliputi Giro, Deposito dan Tabungan, telah mencapai angka Rp 9,7Triliun.

Dalam kesempatan itu, Wahyu juga mengatakan bahwa volume kontribusi keberadaan Bank Indonesi yang ia pimpin itu mempunyai kontribusi yang besar terhadap masyarakat.

“Jika ada BI, pasti aktifitas perbankan akan lebih mudah. Selain itu, kemitraan dengan Pemerintah Daerah  juga akan lebih baik,”terang pria jebolan Fakultas Ekonomi Universitas Andalas Padang, Sumatera Barat tahun 1992 ini.

  Bincang-bincang dengan Mentri BUMN, Dahlan Iskan

Untuk mendukung perkembangan ekonomi kemasyarakatan, BI Tasik Malaya itu juga telah melakukan pengembangan Klaster Ayam Ras Pedaging di wilayah Ciamis dan Banjar, serta pengembangan klaster cabe merah di Tasik dan Ciamis.

Bukti lain dari konsistensi Bank di bawah managemantnya itu, BI Tasik Malaya juga telah melounching program “Pangan Mandiri” pada 15 November 2013 yang lalu.

Peluncuran program tersebut merupakan bukti kepedulian BI yang ia pimpin, mengingat masih banyaknya hal yang ketergantungan dari darah lain.

“Secara umum, kita akan menuju kondisi krisis pangan dunia. Alasannya, kalau  dulu kita sudah swasembada, sekarang telah mengimpor berbagai bahan pokok, dan sekarang hal itu sudah dibatasi, seperti yang dilakukan  oleh Thailand. Selain itu, alih fungsi lahan yang membuat semakin sempitnya lahan pertanian serta banyaknya petani yang telah beralih ke sektor lain. Sehingga kesejahteraan pangan berkurang, dan krisis pangan akan terjadi,”paparnya.

                                                                                           Bersama Gubernur Gorontalo 

Tasik sebagai daerah subur, imbuh Wahyu, ternyata ketergantungannya dengan daerah lain masih cukup tinggi, meski potensi lain masih cukup banyak.

“Akibatnya, inflasi dan gejolak harga menjadi cukup ekstrim, dan dampaknya jelas akan sangat dirasakan oleh masyarakat itu sendiri,”terangnya.

3 Kegiatan Program Mandiri Pangan

Dalam merealisasikan Program Mandiri pangan ini, Bank BI Tasik Malaya membagi dalam tiga pola, yakni Kampung Hortikultura, dimana telah dilakukan penanaman di kecamatan Taman Sari. Program ini merupakan pemanfaatan pekarangan, yakni dengan menanam satu atau lebih tanaman hortikultura seperrti cabe, tomat,bawang dan lainnya.

“Salahsatu tujuannya adalah, minimal untuk dapat mengurangi kebutuhan pasar sehingga bisa meminimalisir ketergantungan dari daerah lain,” ujarnya.

                                                                  Staf BI Perwakilan Tasik Malaya

Selanjutnya adalah Program Pembibitan, Dalam program ini, BI melakukan  kerjasama dengan Pemerinbtah Daerah, dalam hal ini adalah SKPD terkait..

Sedangkan pola lainnya dalah, Pengendelaian Inflasi Daerah. Dalam hal ini, BI juga telah merencanakan bahwa kedepannya akan ada pengembangan klaster Bawang Merah.

“BI bukan leaders, tetapi akan terus mencoba membuktikan komitmen dalam membantu memprovokasi pemerintah dan masyarakat, untuk ikut peduli terhdap perkembangan ekonomi daerah,”sebutnya.

BI Juga Konsisten Lakukan Pembinaan Bank

Disinggung seputar permasalahan sering timbul dalam urusan bank dengan nasabah, dalam bincang-bincang ringan diruangkerja Wahyu  Purnama yang cukup luas dan sejuk itu, ia mengatakan bahwa pihaknya tetap konsisten sesuai tugas dan fungsinya, yaitu melakukan pembinaan terhadap bank-bank yang berada didalam wilayahnya.

  Bersama Petani di Kampung Hortikultura

“Namun hal yang banyak kita temui adalah kenakalan dari para nasabah itu sendiri, salahsatunya adalah dengan adanya kredit macet.lbh banyak nasabah yg nakal seperti kredit macet,”terangnya.

Akan tetapi, imbuh Wahyu, sepanjang itu merupakan urusan internal bank terkait dengan nasabah, kami juga tidak akan mencampuri urusan mereka, kecuali ada hal-hal yang dirasa butuh bantuan BI.

Entry data BI Cheking Bukan Dilakukan Pihak BI

 

Mengakhiri perbincangan yang diiringi gemuruh derasnya hujan di luar gedung kantornya, Wahyu juga menyampaikan bahwa selama ini sering terjadi kesalahpahaman terkait BI Cheking.

“Terkadang memang ada pihak bank yang saat terjadi permasalahan dengan nasabah, beralasan menunggu dari pihak BI. Disinilah seringnya timbul kesalahpahaman oelh para nasabah,”paparnya.

“Yang perlu saya garisbawahi adalah bahwa BI Cheking adalah sarana yang disediakan oleh BI, sedangkan yang meng-input atau meng-entry data adalah bank-bank terkait,imbuhnya.

Adapun kegunaan BI Cheking, menurut wahyu Purnama, adalah untuk mengawasi agar bank bisa mengetahui kondisi nasabah atau calon kreditur. (ap)





Komentar : 0


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)