Sawahlunto

Upayakan 3 Kali Panen, Petani Harus Rubah Pola Tanam

Warta Andalas | Rabu, 12 September 2018 - 12:28:53 WIB | dibaca: 143 pembaca

WARTA ANDALAS, PURBALINGGA - Pola tanam bagi sebagian besar petani di Purbalingga dirasa masih kurang maksimalkan potensi yang ada, karena sebagai besar lahan yang tersedia di Purbalingga hanya mengalami masa panen sebanyak 1 sampai 2 kali dalam setahun, sedangkan potensi yang ada dapat diupayakan menjadi 3 kali panen dalam setahun.

“Panen terakhir pada tahun 2017 adalah di bulan Oktober, seharusnya dengan pola tanam yang baik yaitu dengan segera mengolah lahan untuk ditanami kembali, akan berhasil panen 3 kali dalam setahun tepat pada bulan September ini,” demikian disampaikan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Purbalingga Ir. Lily Purwati dihadapan para petani di Desa Wanogara Kulon Kecamatan Rembang, pada kegiatan hari temu lapang dalam rangka percepatan tanam padi mendukung UPSUS Pajale 2018 menuju swasembada pangan Kabupaten Purbalingga, Senin (10/09).

Namun menurutnya, budaya pola tanam bagi sebagian besar petani khususnya di Kec. Rembang hanya bertanam 2 kali dalam setahun. Namun kalau melihat potensi yang sebenarnya, petani dapat memaksimalkan menjadi 3 kali panen, baik itu untuk 3 kali menanam padi, maupun menanam padi 2 kali dan diselingi tanam palawija 1 kali.

“Seharusnya setelah panen pada Oktober 2017, tidak terlalu lama dibiarkan terbengkalai lahannya. Apabila segera diolah dan ditanami lagi, pada bulan Februari 2018 sudah panen pertama, Juli panen kedua dan September panen ketiga di tahun 2018,” katanya.

Lily berharap, petani mau merubah pola tanam sehingga mencapai 3 kali panen untuk memperbesar dukungan terwujudnya swasembada beras di Purbalingga. Dirinya melanjutkan, Wanogara Kulon dipilih sebagai percontohan percepatan tanam karena air yang masih melimpah di bulan September, dan untuk lahan lainnya yang kekurangan air, pihaknya telah menyerahkan bantuan alat penyedot air dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Tengah.

Lily menjelaskan, berdasarkan evaluasi pelaksanaan program ubsus pajale yang dimulai tahun 2015, pada tahun 2017 telah tercapai luas panen sebanyak 43.235 ribu ton gabah kering giling (GKG) sehingga surplus 53.937 ton. Sedangkan untuk tahun 2018 prognosa (rencana perolehan) dari keseluruhan lahan pertanian di Purbalingga seluas  20.674 hektar adalah 42 ribu ton GKG.

“Luas lahan dari Oktober 2017 sampai Agustus 2018 telah tercapai 39.804,1 hektar sedangkan kami mentargetkan sampai bulan September 2018 seluas 42.647 hektar. Namun kekurangan sejumlah 2.843 hektar kami optimis dapat tercukupi dari beberapa wilayah yg memulai masa tanam di September ini,” jelasnya.

Lily merinci, luas panen dari bulan Januari sampai dengan Agustus 2018 adalah 28.093 hektar dengan prognosa 182.975 ton GKG dan apabila dikonversi yaitu sekira 63% dihasilkan 115.320 ton beras. Pihaknya mengakui adanya penyusutan produksi sejumlah 10.49% dari produksi bersih sampai dengan Agustus sejumlah 103.232 ton beras.

“Namun apabila merujuk pada data  Badan Pusat Statistik, dibanding kebutuhan konsumsi masyarakat Purbalingga sejumlah 955.865 orang, dengan kebutuhan per tahun adalah 87 kilo/kapita sehingga kita membutuhkan 83.160 ton, maka sampai dengan Agustus 2018 kita telah mencapai surplus 20.063 ton,” kata Lily. (t/humas)





Komentar : 0


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)