Purbalingga

Temukan Konten Negatif di Internet, Segera Laporkan

Warta Andalas | Rabu, 20 Februari 2019 - 09:54:30 WIB | dibaca: 112 pembaca

WARTA ANDALAS, PURBALINGGA - Jika masyarakat menemukan konten negatif di internet baik media sosial, media online atau lebih dikenalnya lini masa segera laporkan ke Kementrian Kominfo. Konten negatif antara lain ujaran kebencian, hoaks, pornografi, penipuan, radikalisme atau yang lainnya. Konten-konten tersebut memiliki efek negatif yang merusak, untuk itu perlu dilaporkan agar tidak menyebar.

Hal tersebut disampaikan oleh Kasi Komunikasi Publik pada Dinas Kominfo Purbalingga, Sapto Suhardiyo pada saat dialog di Radio Gema Soedirman, Bojong, Purbalingga, Selasa (19/2). Dialog rutin dilaksankan setiap hari Selasa dengan waktu 8.00 sampai 9.00 WIB. Isi dialog terkait dengan seputar informasi yang berkaitan dengan tupoksi dan kegiatan pada Dinas Kominfo Purbalingga.

Cara melaporkannya menurut Sapto, pertama srcreenshoot konten yang memiliki efek negatif, kemudian catat alamat url-nya. Kedua buka website pengaduan konten di http://aduan.konten.di/ dan ikuti semua petunjuk yang ada. Ketiga selain dikonten aduan masyarakat juga bisa mengadukan di email aduankonten@mail.kominfo.go.id atau melalui WhatsApp di nomor 08119224545.

“ Dalam aduannya masyarakat harus menyertakan alasan yang jelas dan memantau proses penanganan yang dilakukan oleh Tim Aduan Konten Kementrian Kominfo. Dinas Kominfo dalam hal ini bidang IKP siap memberikan bantuan jika masyarakat belum paham dengan caranya,” katanya.

Sapto berharap dengan peran aktif masyarakat untuk mengadukan konten-konten negatif, dapat menjadikan internet lebih aman, nyaman, dan bermanfaat dengan berkurangnya konten-konten negatif. Situasi dan kondisi masyarakat, khususnya warganet pun menjadi lebih kondusif karena tidak terpapar adanya berita-berita hoaks, ujar kebencian ataupun pornigrafi.

Berdasarkan survei dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) pada tahun 2017, sebanyak 97% dari 1.600 anak kelas tiga sampai enam SD sudah terpapar pornografi secara langsung maupun tidak langsung. Ketika sudah terpapar lebih dari 20-30 kali, anak mulai merasa ketagihan dengan konten itu. Sedangkan paparan paling banyak melalui interneti dan gawai (gadget).

Mengutip perkataan Asisten Deputi Perlindungan Anak, Kemen PPPA, Valentina Ginting, bahaya pornografi sama dengan narkoba dan ini berdampak pada kerusakan otak. Narkolema alias narkoba lewat mata. Pornografi bagai narkoba yang masuk ke mata dan merusak otak bagian depan bernama prefrotal cortex. (PI-2)





Komentar : 0


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)