Opini

Oleh: Lismomon Nata, S.Pd, M.Si, Ch, Cht (Generasi Muda Kota Sawahlunto)

Sawahlunto Butuh Pemimpin Seperti Apa?

Warta Andalas | Senin, 18 September 2017 - 21:54:11 WIB | dibaca: 458 pembaca

Kata pemimpin dan kepemimpinan adalah dua kata yang sering didengar serta dekat dalam kehidupan manusia. Baik apakah diartikan secara luas (sosial), maupun sederhana yaitu setiap individu adalah pemimpin bagi dirinya sendiri dan merupakan hal yang mesti dipertanggungjawabkan.

Lebih jauh pada kehidupan manusia, tentu telah menjadi kodrati untuk hidup tidak saja sebagai makhluk individu, melainkan juga secara sosial (zoon politicon) karena faktanya memang tidak satupun manusia yang mampu hidup sendiri begitu saja, murni tanpa adanya keterkaitan dengan manusia lain. Sejarah menceritakan bahwa sejak duhulunya kehidupan manusia telah berkelompok serta memiliki pemimpin sebagai upaya agar tujuan hidup mereka tercapai. Meskipun untuk mencapainya mesti menelusuri jalan yang berliku-liku dan tantangan yang cukup besar.

Terkait dengan konsep pemimpin banyak ahli yang menjelaskan definisinya, kepemimpinan atau memimpin. Jika ditilik kata-kata tesebut berasal dari kata dasar yang sama, yaitu pimpin. Menurut Maya Malinda (2007), pemimpin dapat diartikan dengan suatu peran dalam sistem tertentu. Menurut Maya lebih jauh pada praktiknya, seseorang dalam peran formal belum tentu mampu memimpin, karena kepemimpinan pada dasarnya berhubungan dengan keterampilan, kecakapan, dan tingkat pengaruh yang dimiliki oleh seseorang. Oleh karena itu, kepemimpinan dapat dimiliki oleh seseorang, meskipun ia bukan pemimpin. Sementara, memimpin diartikan dalam konteks hasil penggunaan peran seseorang berkaitan dengan kemampuannya untuk mempengaruhi orang lain dengan berbagai cara. Ketiga kata tersebut digunakan pada konteks yang berbeda.

Kota Sawahlunto dan beberapa kabupaten/ kota yang ada di Sumatera Barat pada waktu dekat akan melaksanakan pemilihan kepala daerah serentak pada tahun 2018 yang akan datang. Layaknya perhelatan rakyat periodik ala demokrasi ini tentu memiliki dinamika yang menarik perhatian besar dalam kehidupan bersama, terkhusus bagi daerah yang bersangkutan. Hal ini didasarkan secara sederhana karena akan berimplikasi terhadap kehidupan mereka dimasa depan. Oleh karena itu tertumpang berbagai harapan kepada calon pemimpin kota yang dipilih untuk kehidupan mereka lebih baik, begitupun dengan penulis yang berkeinginan untuk sumbangsih saran berupa pemikiran, semoga saja bermanfaat.  

Apabila diamati secara seksama, Sawahlunto memiliki sejarah panjang dalam perkembangannya. Semenjak W.H. de Greve (1867) melakukan penelitian dan ‘menemukan’ kandungan hasil alam berupa batu bara telah mencatat sejarah Sawahlunto sebagai salah satu daerah yang awalnya sepi dan terpencil kemudian menjadi salah kota penting serta berkontribusi terhadap pembangunan, baik nasional hingga internasional, terbukanya berbagai akses, kereta api, didatangkan para pekerja tambang (orang rantai), ‘hidupnya’ pelabuhan Teluk Bayur.

Seiring dengan perjalanan waktu, pascakolonial (setelah Indonesia merdeka) pemerintah mengambil alih pengelolaannya, yaitu diserahkan kepada PT Bukit Asam Unit Pertambangan Ombilin (PT. BA UPO). Namun dari waktu ke waktu seperti halnya hukum yang berlaku pada sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, deposit batu bara terus berkurang.

Sehingga pada awal tahun 2000-an disinyalir tidak seimbangnya antara biaya produksi dengan yang dihasilkan, maka penambangan yang dilakukan oleh PT. BA UPO geliatnya semakin menurun. Kondisi demikian juga berimplikasi pada soal kependudukan.

Dimana komposisi penduduk ketika itu didominasi oleh para pekerja tambang mulai berkurang tersebab dipindahkan pada daerah kerja perusahaan Bukit Asam lainnya, seperti Kalimantan, Bengkulu dan Tanjung Enim atau diberlakukannya program Pensiun Dini (PD). Ditambah lagi dengan dibuatkannya perumahan bagi pekerja tambang batu bara di Padang Sibusuk, Kabupaten Sijunjug semakin berdampak besar terutama bagi perekonomian masyaraat lokal.

Kota Sawahlunto telah melakukan berbagai upaya untuk melanjutkan visi dan misi kota menjadi “Kota Wisata Tambang yang Berbudaya 2020”. Beberapa aset dan bekas daerah tambang dijadikan serta dikelola sebagai destinasi wisata tambang, seperti Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto yang awalnya pada jaman Belanda bernama Rumah Bola, Museum Gudang Ransoem, Museum Tambang Batu Bara Ombilin, Lubang Mbah Suro, Museum Kereta Api yang ditandai dengan  dijemputnya ‘Mak Itam’ sebagai lokomotif tempo doloe.

Di samping itu pengembangan pariwisata yang sengaja dibuat belakangan hari untuk memperkuat sebagai daerah wisata, seperti Water Boom Muaro Kalaban, Taman Satwa Kandi, Puncak Cemara.

Dari salah satu informasi yang diungkapkan oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota sawahlunto, Efri Yanto yang dilansir oleh Kompas.com mengampaikan bahwa angka kunjungan wisatawan ke Sawahlunto tercatat hingga Oktober 2015 sebanyak 650.000 hingga 700.000 kunjungan (http://bola.kompas.com/read/2015/12/30/082100827/Kembangkan.Pariwisata.Sawahlunto.Siapkan.Rp.8.Miliar).

Penulis pikir, angka tersebut adalah angka yang cukup fantastis. Artinya, cukup signifikan kunjungan wisatawan Kota Sawahlunto tersebut dan patut diberikan apresiasi atas pencapaian. Idealnya, tentu akan memberikan ‘gairah’ serta semangat secara terus-menerus untuk selalu dioptimalkan.

Namun yang menjadi pertanyaannya saat sekarang ini adalah, apakah konsep dan arah pembangunan Kota Sawahlunto kedepannya akankah sama, atau perlu strategi baru (inovasi) guna mengoptimalkan potensi sumber daya yang ada di kota atau mengubahnya sama sekali?. Karena potensi yang dimiliki tentu menjadi prospek dalam kemajuan kota. Maka di sinilah pentingnya seorang pemimpin untuk memiliki visi yang jelas ketika ia memimpin, dalam hal ini maksud penulis adalah visi walikota dan wakil walikota yang akan maju pada pilwako nantinya.

Misalnya terkait dengan pariwisata di atas, yaitu bagaimana mengupayakan pencapaian kemajuan pariwisata dengan tidak hanya dorongan kuat dari pemerintah saja, melainkan perlu dukungan dari masyarakat kota (lokal). Dimana mereka tidak hanya sebagai penonton di rumah mereka sendiri, tetapi selaku subjek (pelaku) dan sekaligus ‘penikmat’ dari dampak positif pariwisata.

Dengan demikian tentu diperlukan keterlibatan dari masyarakat secara aktif. Namun, kenyataannya partisipasi masyarakat secara aktif ini tentu masih menjadi salah satu masalah utama dalam pembangunan pada kehidupan masyarakat yang sedang berkembang, tidak tertutup kemungkinan terjadi pada Kota Sawahlunto.

Covey (2004) mengungkapkan bahwa visi seringkali dipahami sebagai cara hal untuk melihat sebuah kondisi masa depan yang terlihat oleh mata pikiran. Nah, sudah semestinya potensi-potensi dasar yang dimiliki setiap manusia untuk dioptimalkan, seorang pemimpin sudah seharusnya memiliki kemampuan melihat visi yang jauh ke depan untuk mampu membaca peluang-peluang guna kemajuan kota dan masyarakatnya, termasuk menemukan formulasi serta strategi agar masyarakat dapat berperan secara aktif untuk memajukan pariwisata, jika tidak dapat diasukmsikan akan terus ‘jalan ditempat’.

Perlu dirasa untuk pemimpin kota bersinergi dengan berbagai pihak untuk lebih serius menyediakan berbagai infrastruktur menunjang terhadap kemajuan masyarakat kota, baik secara ekonomi maupun psikologis dan sosial. Kemampuan dalam mencari investor tidak kalah penting guna mendorong potensi yang ada. Setidaknya, kemampuan walikota dan wakil walikota mengoptimalkan penggunaan dana desa yang memiliki ‘titik singgung’ guna mendukung kemajuan bersama, karena pemimpin tidak hanya sebagai individu yang berada pada posisi status sosial puncak dengan berbagai kompensasi, melainkan sebagai manager yang mengatur segala hal secara proporsional dan profesional.

Oleh karena itu, menjadi pemikiran kita bersama sebagai masyarakat dan yang memiliki kepedulian bersama terhadap Kota Sawahlunto bagaimana kedepan terhadap siapa pun yang akan memimpin kota adalah pribadi yang memiliki kepribadian yang terbuka dan mau membuka diri, yaitu mereka yang mau menerima masukan bahkan kritikan membangun dari siapa saja dalam rangka kebaikan bersama. Gardner (2003) memberikan pengetahuan kepada kita bahwa pada dasarnya manusia mempunyai banyak potensi (multiple intelligence); kecerdasan linguistik, matematika dan logika, visual dan spasial, musik, inter-personal, intrapersonal, kinestetik dan naturalis.   

Maka di sinilah tugas dari para pemimpin untuk mendorong Aparatur Sipil Negeri (ASN) bahkan masyarakatnya untuk pintar, bukan pintar hanya menyanjung-nyanjung pimpinan, melainkan terhadap kinerja dan prestasi kerja. Begitupun jika memang mencitrakan bahwa Kota Sawahlunto adalah kota wisata, adalah suatu kemestian untuk mesyarakat kota memiliki ‘sensitifitas’, pengetahuan, mentalitas kepariwisataan yang tangguh dan berdayaguna.

Tugas dari pemimpin untuk mempersipakan mentalitas para ‘bawahannya’ untuk saling bekerja sama, jika pun ada kompetisi, kompetisi yang ‘fair’ karena cukup banyak fakta yang mempertunjukkan akibat ‘euphoria’ otonomi daerah yang justru terjadi adalah situasi dan kondisi yang kontra produktif, sehingga menjadi ‘PR’ yang mesti diselesaikan.

Diantaranya, apakah penting juga dirasa untuk bahwa Kota Sawahlunto membutuhkan pemimpin yang hanya berfikir hanya untuk kepentingan pribadi atau golongan saja, sehingga terciptanya ‘kotak-kotak’ atau Ia yang “telah selesai terhadap dirinya” (Prof. Komaruddin Hidayat), yaitu memimpin untuk memberi, menyediakan diri bagi orang banyak (masyarakat kota), bukankah ‘Sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang paling banyak memberikan manfaat bagi orang lain’ (H.R Muslim)?

Berdasarkan data KPU Kota Sawahlunto, diprediksi Jumlah Pemilih Pilwako 2018 berjumlah 44.117 jiwa. Dengan estimasi Pemilih Pemula 3,5-5 persen. Ketua KPU Kota Sawahlunto, Afdhal Muhammad menjelaskan tahapan untuk persiapan pemilihan Walikota/ Wakil Walikota Sawahlutno periode 2018-2023 saat ini telah dimulai, yaitu semenjak 14 Juni 2017 yang lalu dalam bentuk sosialisasi dan persiapan anggaran hibah. Dijadwalkan pengumuman pendaftaran bakal calon tanggal 1-7 Januari 2018. Pendaftaran Bakal Calon (Bacalon), 8-10 Januari 2018. Setelah dilakukan verifikasi dan kesempatan untuk Bacalon melengkapi persyaratan, maka 12 Februari 2018, KPU kota Sawahlunto menetapkan calon Wako/Wawako Sawahlunto.

Kenyataannya, memiliki satu orang anak saja kita belum tentu dapat memenuhi semua keinginan anak, namun sebagai seorang pepimpin hampir seluruh harapan warga mesti diupayakan semaksimal mungkin, karena seorang pemimpin akan dilihat saat kondisi sulit dan tentu memiliki ‘nilai  lebih’. Mungkin saja sudah waktunya untuk berdiskusi dan berdialektika bersama secara positif, seperti halnya gaya demokrasi Yunani dulunya, termasuk bertanya pemimpin seperti apakah yang dibutuhkan oleh kota yang dijuluki ‘kota arang’ ini kedepannya? Allahu ‘alam bi shawab. (**)





Komentar : 0


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)