Purbalingga

Safa Nur Latifah, Bocah Yatim Piatu Penderita Hidrochepallus

Warta Andalas | Rabu, 08 Februari 2017 - 17:17:37 WIB | dibaca: 186 pembaca

Wabup Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi mencoba menghibur Safa Nur Latifah, bocah penderita Hidrocephalus

WARTA ANDALAS, PURBALINGGA - Lagu ‘Selamat Ulang Tahun’ menggema di sebuah rumah kecil di RT 1/RW I Desa Karangdure, Kecamatan Bobotsari, Purbalingga, Rabu (8/2) sore. Meski tanpa potong kue dan tiuoan lilin, setidaknya bisa menghibur Safa Nur Latifah (7) bocah penderita Hidrocephalus. Lagu itu spontan dinyanyikan Wakil Bupati Dyah Hayuning Pratiwi, SE, B.Econ setelah mengetahui bocah malang itu berulangtahun ke tujuh pada tanggal 6 Pebruari kemarin.

Suasana sedikit gembira, karena tamu yang berkunjung seperti Camat Bobotsari Drs Harsono, Kepala Bidang Humas dan Informasi Komunikasi Publik, Ir Prayitno, M.Si, Kepala Puskesmas Bobotsari Drg Yenawati Hartanto, M.PH beserta jajaran staf ikut menyanyikan pula lagu itu. Sesaat kemudian Wabup menyerahkan satu dus bantuan dan sejumlah uang tunai kepada Suritno (50), kakek Safa yang merawatnya saat ini.

Meski mencoba menghibur Safa, kesedihan Wabup Tiwi tampak tak bisa ditutupi. Naluri sebagai seorang ibu yang melihat anak kecil mengalami hidup yang susah dan harus menderita penyakit. “Safa, tetap gembira ya, jangan patah semangat. Bu dokter akan mencoba terus menyembuhkan Safa,” tutur Wabup Tiwi kepada Safa yang berada digendongan kakeknya, Suritno.

Keseharian Safa tinggal bersama kakeknya, Suritno. Suritno terpaksa harus keluar dari pekerjaan sebagai kuli batu di Jakarta dan memilih merawat Safa. Ibu kandung Safa, Tri Susanti telah meninggal dunia saat Safa berusia lima tahun. Tri Susanti meninggal karena penyakit Typus. Sedang sang ayah Yusup Susanto juga telah meninggal beberapa waktu kemudian menyusul Tri Susanti. Yusup meninggal karena penyakit liver. Sebelum meninggal, Yusup sudah meninggalkan Tri Susanti bersama Safa. “Saat Tri Susanti, anak ketiga saya meninggal, Yusup tak datang ke rumah. Setelah itu, dia tak pernah datang ke rumah lagi dan akhirnya kami diberitahu jika Yusup juga telah meninggal. Safa kini harus saya rawat sendiri,” tutur Suritno.

Dengan kondisi yang tidak memungkinkan untuk bekerja, dan disisi lain harus merawat Safa, untuk hidup sehari-hari, Suritno hanya menggantungkan dari anak keduanya yang bekerja di pabrik rambut. Selain itu bantuan dari Kementerian Sosial, juga bisa sedikit menopang kehidupan Suritno sdan Safa.

Meski menderita Hidrochepalus, Safa bisa diajak komunikasi. Dengan bahasa yang sedikit kurang jelas, namun bisa diajak komunikasi. Sayangnya, kepala Safa tidak bisa tegak, dan tubuhnya lemas. Untuk duduk, Safa tidak mungkin. Kepalanya tetap harus disangga dengan tangan jika hendak digendong. “Kalau ditinggal sebentar saja, sudah panggil-panggil saya. Ia harus saya gendong terus,” tutur Suritno yang kini juga hidup menduda.

Suritno menuturkan, kepala cucu keempatnya itu mulai membesar sejak bayi. Sang ibu, ketika itu masih hidup sudah berusaha membawa ke rumah sakit secara rutin. Pengobatan juga terus dilakukan. Namun, karena keterbatasan biaya, akhirnya, Safa hanya berobat ke Puskesmas. Sang ibu ketika itu sudah pasrah, apapun yang akan terjadi pada Safa. Namun, sang ibu kini sudah berpuang dan tak mungkin mengetahui penderitaan anak satu-satunya itu.

Safa dengan suara tidak jelas langsung menimpali, kepalanya dimasukin selang. Rasanya sakit. “Sakit sekali, ada selang di kepala saya,” tutur Safa.

Suritno kini juga hanya bisa pasrah.  Hidupnya kini khusus untuk merawat Safa, salah satu cucu dari empat cucunya yang tengah bernasib malang. “Siapa lagi yang akan merawat Safa. Anak saya yang lain harus bekerja mencari nafkah untuk keluarga. Di rumah hanya tinggal saya, dan sayalah yang harus merawat Safa. Terkadang kalau saya sambi memasak, Safa juga sering menangis. Saya tidak sampai hati jika harus meninggalkannya. Mumpung saya masih sehat, entah jika kelak saya juga sudah meninggal, siapa yang akan merawat Safa,” tutur Suritno.

Kepala Puskesmas Bobotsari, Drg Yenawati hartanto, MPH mengatakan, Safa mengalami gangguan aliran cairan di dalam otak. Cairan itu dalam istilah kedokteran disebut serebro spinal. Akumulasi cairan serebro spinal itu yang semakin bertambah banyak selanjutnya menekan jaringan otak disekitarnya khususnya pusat syaraf yang vital.

“Untuk mengurangi pembesaran kepala tindakan yang dilakukan adalah dengan pemasangan selang kepala guna mengalirkan cairan yang menumpuk berlebihan di otak. Sayangnya tindakan itu tidak rutin dilakukan terhadap Safa. Jika sekarang dilakukan, sedikit sudah terlambat. Apalagi, tulang leher seperti lemas sehingga kepala tidak bisa tegak,” kata Yenawati. (y)

 





Komentar : 0


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)