Opini

Oleh : Lismomon Nata, S.Pd, M.Si, Cht (Widyaiswara BKKBN Perwakilan Propinsi Sumatera Barat)

Rumah, Kita (Hanya) Terlalu Sering Menyebutnya

Warta Andalas | Selasa, 20 Juni 2017 - 19:19:03 WIB | dibaca: 332 pembaca

‘Semegah apapun rumah yang dibuat, sebesar apapun rumah yang dibangun, perhiasan bak istana yang menghiasi. Tapi, jika tidak diisi dengan senyuman apalagi cinta, maka ia sering memperlihatkan ‘wajah seperti neraka’ yang membuat diri resah gelisah berada di dalamnya, ya…mungkin saja kita (hanya) terlalu sering menyebutnya- rumah!’

Apa yang terpikirkan ketika mendengar kata rumah? Mungkin banyak hal. Bisa saja membayangkan tentang sebuah tempat, bangunan, orang-orang yang menepatinya atau apa saja yang menjadi imajinasi ketika pertanyaan itu muncul. Ya, dapat dipastikan berbagai macam interpretasi akan mencuat ketika membicarakan tentang rumah. Namun, pernahkah kita percaya bahwa kehidupan manusia berawal dari rumah? Dapat diartikan seseorang bisa dikatakan berhasil dalam karir atau malah hancur kehidupannya karena rumah? Bagaimana tidak, apalagi jika kita mengkaji rumah dalam perspektif konflik yang menekankan bahwa manusia-manusia di dalamnya sangat rentan dengan pertentangan dan konflik.

Hampir setiap manusia yang lahir di atas bumi ini berawal dari sebuah rumah, terlepas dari bentuk atau rupa dari rumah tersebut. Tidaklah mengapa, karena memang rumah seringkali memiliki tafsir yang multiinterpretatif. Begitupun dengan makna akan rumah yang membentuk falsafah yang beragam, baik secara ekonomi, sosial budaya dan politik sekalipun. Hal ini dapat terjadi karena untuk memahami rumah dapat dikaji dengan berbagai perspektif dan disiplin ilmu, dimana setiap individu yang ada di dalam rumah dibesarkan dan memiliki pengalaman serta pengetahuan bahkan kepentingan yang berbeda satu sama lainnya. Di samping itu, dalam rumahlah setiap ucapan dan tindakan orang tua serta orang-orang terdekat disaksikan, terutama oleh anak yang kemudian melalui alam pikiran bawah sadar ia akan mengendap dalam batin, menjadi ingatan hidup, serta asupan yang membentuk kepribadian.

Kita menyadari bahwa banyak faktor yang menentukan berfungsi atau tidaknya sebuah rumah, tapi seringkali terkesan bahwa persoalan tentang rumah belumlah menjadi sesuatu yang menarik bahkan dianggap sepele untuk diperhatikan secara sadar oleh sebahagian besar masyarakat. Padahal jika kita lengah tentu akan berpengaruh kuat terhadap indvidu di dalamnya, bias saja bermasalah, sedih, atau senang. Bisa saja mulai dari peristiwa yang dianggap kecil di dalam rumah, tapi jika terakumulasi secara terus-menerus, maka dapat bak bola salju yang siap menggelinding dan berubah menjadi ‘bom waktu’ dan siap meledak kapan saja. Dampaknya bisa saja menimbulkan lemahnya ikatan emosional antar masing-masing anggota keluarga (desorganisasi keluarga), bahkan dapat berujung pada kekerasan rumah tangga hingga perceraian (devorce) sebagai bentuk langkah terakhir ketika hubungan dianggap tidak dapat dipertahankan. Sehingga, melalui kenyataan-kenyataan yang terjadi pada rumah dalam kehidupan sehari-hari, baik dialami secara langsung atau hanya dengan memperhatikan, menyaksikan terhadap rumah orang lain, ataupun melalui berbagai media, tidak jarang membuat shock, seolah-olah tidak percaya terhadap apa yang disaksikan. Misalnya, sebuah rumah yang di dalamnya anggota keluarganya, suami dan istri serta anak-anak yang dilihat harmonis, akan tetapi tiba-tiba saja terdengar kabar terjadinya keretakan rumah tangga atau perceraian. Namun itulah faktanya, yang sebetulnya ia tidak ada secara tiba-tiba atau terjadi begitu saja.

Dalam konteks ini yang penulis maksud adalah rumah yang juga terdiri dari institusi keluarga di dalamnya. Dimana ada nilai-nilai atau norma serta ikatan emosional yang kuat di dalamnya. Pandangan umum berpendapat bahwa apabila mampu mengelola rumah, maka dapat dipercayai akan berhasil dalam kehidupannya dan sebaliknya, yaitu apabila rumah terabaikan, maka dapat dipastikan kehidupan dalam keluarganya ‘hampa’ dan ‘gersang’. Terkait dengan itu, Prof. Achmad Mubarok mengungkapkan bahwa pada tingkat masyarakat dimana saja, keluarga merupakan rujukan keberhasilan dan kebahagiaan. Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa seseorang mungkin gagal dalam karir sosial, tetapi jika ia sukses dan berbahagia dalam kehidupan keluarganya, maka ia tetap dipandang sebagai orang yang sukses. Sebaliknya, ada orang yang dianggap sukses pada karir sosial, namun kehidupan keluarga berantakan, maka orang itu tetap dipandang sebagai orang yang gagal (2005).

Dengan demikian dipahami bahwa benarlah rumah sangatlah penting dan memiliki peranan yang esensial terhadap kehidupan seseorang (individu). Rumah yang terlekat di dalamnya institusi keluarga tersebut, dimana terdiri dari individu-individu yang memiliki status sosial dan sekaligus peran sosial yang semestinya dijalankan sebaik mungkin (fungsional). Contohnya, kecendrungan laki-laki dewasa yang melakukan ikatan dengan seorang perempuan melalui pernikahan yang berstatus sosial sebagai suami, papa, ayah atau sebutan lainnya. Begitupun dengan status sosial yang ada lainnya yaitu sebagai istri, ibu, mama, mami atau sebutan lainnya dan anak, jika itu pada keluarga inti (nucleus family). Namun lebih jauh lagi, apabila itu keluarga luas (exstended family), maka ada banyak status sosial lainnya, seperti nenek, kakek, paman, tante, kakak, adik, ipar dan lain sebagainya sesuai dengan masyarakat dan kebudayaannya. Seperti halnya telah disebutkan di atas bahwa status-status sosial tersebut idealnya mestilah menjalankan perannya. Misalnya, bagaimana menjalankan fungsi sebagai seorang suami terhadap istri dan anaknya atau peran istri terhadap suami dan anaknya atau status sosial sebagai anak yang harus berperan sebagaimana seorang anak kepada ayah dan ibu dengan sebaik mungkin sesuai dengan nilai dan norma yang dianut dan dianggap baik secara universal oleh masyarakat. 

Diantara hal yang menyebabkan pentingnya untuk menyadari pentinganya rumah tersebut adalah karena di dalam rumahlah nilai dan norma, proses pembelajaran (sosialisasi) pertama dan utama berlangsung. Di rumahlah nilai dan norma ditanamkan, dirawat dan dikembangkan, terutama kepada anak. Hal ini bertujuan agar si anak kelak dapat bertahan hidup (survival of life) di tengah-tengah masyarakat. Pada rumahlah para anggota keluarga dapat merasakan kebahagiaan hidup. Nabi Muhammad SAW sendiri bersabda bahwa ‘baiti jannati’ (rumahku adalah sorgaku). Meskipun dalam sejarah kita tidak menemui bahwa Sang nabi memiliki istana semasa hidupnya. Namun, maksud ‘istana’ tersebut tentu dapat dipahami secara umum sebagai tempat menemukan dan merajut kebahagiaan.

BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) sebagai salah satu institusi pemerintah yang diamanahkan disamping mengatur jumlah dan pertumbuhan penduduk juga berkaitan dengan pembangunan keluarga. Agar dapat berfungsinya keluarga, maka ada delapan fungsi keluarga yang mesti dijalankan pada setiap keluarga yaitu; fungsi yang pertama adalah agama, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi serta kepedulian terhadap lingkungan. Misalnya kita ambil satu contoh terhadap penerapan fungsi cinta dan kasih sayang. Dimana sebuah keluarga yang di dalamnya terdapat nilai-nilai cinta kasih diantaranya ditandai oleh beberapa hal.

Pertama, setiap individu di dalamnya memiliki rasa rela bekorban yang tinggi antar sesama anggota keluarga. Berbicara tentang rela berkorban tentu tidak ada ‘hitung-hitungan’ dan berbuat segala sesuatu yang terbaik dan sebaik mungkin untuk orang-orang yang dicintai (keluarga). Kedua, saling berbagi pengalaman, saling mendengarkan satu sama lainnya. Hal ini dapat dirasakan dengan meluangkan waktu untuk duduk bersama dan saling berbagi cerita, penuh dengan kehangatan dan menghargai pembicaraan serta saling memberdayakan dan tolong-menolong. Kemudian adalah bagaimana menikmati secara bersama-sama, jadi cukup ironi memang apabila semisal ada dari anggota keluarga yang ‘sukses’, namun hanya dia yang menikmati sendiri, sementara anggota keluarga yang lain dibiarkan begitu saja. Barbara Bush mengungkapkan bahwa keluarga itu memberikan arti untuk saling merangkul pundak dan selalu ada bagi satu sama lain.      

Nah, jika hari ini rumah kecendrungannya hanya dipahami sebagai tempat untuk beristirahat, maka tentulah hotel jauh lebih menjajikan penuh kesenangan. Jika rumah hanya sebagai tempat berteduh dari panas dan hujan, bukankah pos ronda juga bisa melakukan hal yang serupa. Tentu rumah bukan sekedar tempat untuk melepaskan rasa letih dan penat atau berlindung dari panas dan hujan saja, namun rumah sesungguhnya adalah tempat dimana kita berasakan, menyalurkan dan menemukan cinta dan kasih sayang dengan tulus di dalamnya, karena jika kita tidak menemukan lagi perasaan cinta dan kasih sayang, saling menghargai, saling memberdayakan dan bercurah rasa di dalam rumah, jangan-jangan kita hanya terlalu sering menyebut rumah. (**)





Komentar : 0


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)