Opini

Oleh : Desri Erniza

Rindu yang Terpecah Belah

Warta Andalas | Sabtu, 10 Februari 2018 - 06:56:47 WIB | dibaca: 559 pembaca

Pagi adalah keindahan. Pagi adalah semangat dan pagi adalah kesegaran. Setiap hari saya selalu menunggu datangnya pagi. Menatap indahnya daun-daun hijau diseluruh penjuru. Hampir tidak ada yang tidak ditumbuhi pepohonan dan daun hijau. Udara sangatlah segar, tidak ada polusi, tidak ada asap rokok yang menggumpal dan tidak ada cerita carut marut di pagi itu. Berada di Sumatera Barat, seperti datangnya pagi hari. Indah, segar dan semangat.

Menjadi orang asing di Sumatera Barat, bukanlah penghalang bagi saya sebagai orang yang selalu menunggu datangnya pagi hari. Ya, April 2002 awal saya di undang untuk memberikan training manajemen pada Pimpinan dan Wakil Pimpinan Departemen di Sikuai Island Resort dan Pusako Hotel Bukittingi yang dimiliki Alm. Nasrul Chaz.

Satu minggu di Sikuai dan Satu minggu di Pusako Hotel. Setelah kembali ke Jakarta, Pada akhir Juni, saya di telfon oleh ibu Dita, putri tertua almarhum yang menjabat sebagai Dirop Pusako Group untuk segera Ke Sumatera Barat lagi.

“Di harapkan Bapak bisa membantu menyelamatkan perusahaan kami. Karena karyawan mengajukan pengunduran diri massal bila General Manager tidak diperiksa dan ditindak lanjuti,” pinta bu Dita.

“ok bu Dita,” jawaban spontan yang keluar begitu saja.

Padahal saya belum musyawarah dengan keluarga, belum bertanya kepada istri. Belum minta pendapat anak-anak. Ketegasan itu keluar. Karena kedatangan saya sebelumnya memberi kesan damai. Keindahan alam yang menyambut saya setelah meninggalkan kota Padang dari bandara.

Ya, saya terpesona pada hijaunya persawahan yang dihiasi dengan Mesjid atau Surau, berlatar belakang tiga gunung yaitu Tandikat, Singgalang dan Marapi dengan pohon-pohon menjulang dari hutan primer yang hijau. Berhawa sejuk. Ada Air Terjun Lembah Anai, Rel Kereta Api yang menyusuri jalan raya kemudian memasuki kawasan pepohonan lebat, dan keluar lagi menyeberang melalui jembatan besi yang melintas diatas jalan raya. Terlintas di benak saya betapa kekuatan adat istiadat Minangkabau erat terhubung dengan alam dan keramahan masyarakatnya.

”Alangkah baiknya bila kelestarian alam ini dipertahankan” kesungguhan tekad itu membuat saya sulit keluar dari ranah minang sampai sekarang. 

Saya diminta untuk memimpin investigasi. Layaknya KPK. Tuduhan terhadap GM adalah penggelapan uang. Saat itu GM sedang melakukan ibadah Umroh. Temuan investigasi bahwa GM memang menggelapkan dana operasional dan melakukan pelecehan seksual. Sekembali dari umroh, diminta untuk sidang.

Beliau mengakui “Ibu-Ibu dan Bapak-bapak, saya benar-benar minta maaf atas kesalahan dan kekhilafan saya selama ini. Dan saya bersedia untuk keluar dari perusahaan ini”.

Lagi-lagi permintaan itu tertuju pada saya. Mengambil alih pucuk pimpinan GM di Hotel Pusako Bukittingi.

± 15 tahun saya di sini. Menghirup udara di Ranah Minang, menikmati keindahan alam, mengenal watak warga Sumatera Barat dan berpetualang di dunia pariwisata Sumatera Barat. Terlibat menjadi bintang maupun menjadi penonton pariwisata.

Namun, saya masih merindukan suasana Minangkabau yang sebenarnya. Seperti perhelatan yang begitu mewah dan indah. Semua orang berlomba berdandan cantik, elegan dan serasi. Perhelatan itu akan terus dikenang lewat foto-foto.

Saya rindu pada situasi Batagak Penghulu, rindu pada Danau Maninjau yang elok dan Danau Singkarak penghasil Ikan Bilih, rindu pada kota Sawahlunto yang sudah mati tiba-tiba mekar bak bunga mawar, rindu pada Pulau Mentawai yang menawarkan sejuta pesona, rindu pada acara Tabuik yang tiap tahun di rayakan, rindu pada Kebun Teh dengan suasana dingin dan saat kita menulusuri jalannya akan di dapati Danau Kembar.

Ya, Danau Atas dan Danau Bawah. Rindu pada Puncak Mande dimana perikanan bersarang disana. Dan teramat rindu pada kota Bukittinggi untuk sekedar menyaksikan Jam Gadang berputar mengingatkan kita pada waktu. Waktu santai, waktu berpikir dan waktu merenung dari masa ke masa.

Hari-hari di Padang yang sesekali membawa tamu ke pantai Batu Malin Kundang, Muaro Lasak, di Museum Adityawarman, Danau Cimpago, Taman Budaya Sumatera Barat dan lain lain, masih juga melintaskan rasa rindu yang teramat dalam. Bahkan ketika membayangkan Payakumbuh dan Batusangkar. Saya tak lagi mampu menafsir keindahan nyata itu. Benar-benar terenyah. Saat hakim memukul palu dan mengutarakan suatu keputusan bahwa Branding Sumatera Barat itu adalah “Taste Of Padang”.

Keputusan itu membuat saya sontak layu. Bak bunga kembang yang tiba-tiba patah, terkulai layu. Tak ada lagi harapan pada sang bunga. Bermurung dan harus melupakan mimpi untuk menjadi pesaing penikmat keindahan.

Tak hanya saya, mungkin ketika itu juga urat nadi kota Sawahlunto, Mentawai, Bukittinggi, Padang Panjang, Pariaman, Painan, Batu Sangkar, Solok, Payakumbuh dan lain lain, terputus. Merasa tak dianggap, tak dilibatkan dan tak beguna. Dengan alasan Padang sering digunakan untuk menggambarkan Sumbar. Sudut pandang yang hanya mengutamakan area luar bukan mempertimbangkan intern. Alhasil, keputusan yang sudah tidak bisa diganggu gugat itu menjadi polemik.

Cukup terkagum dengan komentar Ibu Peneliti dari Pusat Pengembangan Pariwisata Universitas Andalas, Sari Lenggogeni berkata “Bahwa pemerintah terlalu terburu-buru membuat branding wisata bagi Sumatera Barat yang bertujuan untuk memperkenalkan identitas dan kekuatan produk wisata Sumatera Barat kepada pasar atas pertimbangan budaya, masyarakat, dan produk yang ditawarkan. Dan kita cukup tau, bahwa Sumbar ini unggul di nature. Alam, Bahari, dan Heritage”.

Pendapat itu juga senada dari bapak Bayu Hariyanto, pegiat promosi wisata  Sumatera Barat

“Tagline, ‘Taste of Padang’ belum kuat menunjukkan keragaman potensi wisata yang ada di Sumatera Barat. Padahal kekayaan wisata Sumatera Barat muncul dari alam, budaya, hingga kulinernya yang sangat kaya.”

Keputusan itu telah menelan biaya 1,6 M

Bukan, bukan bermaksud mengompori. 15 tahun adalah saksi bagi siapapun bahwa saya cinta Sumatera Barat. Saya pengintai ulung keindahan. Saya pengagum keramahtamahan masyarakat. Ambisi itu telah memberi jarak dengan keluarga. Ketika gempa sering terjadi di Sumatera Barat melahirkan keputusan untuk memulangkan keluarga ke Jakarta lagi. Keputusan yang begitu berat, saya lalui bertahun-tahun.

Disini saya tak hanya berjuang jauh dari keluarga, tapi juga berjuang untuk bertahan hidup demi perjuangan saya terhadap pariwisata Sumatera Barat. Disini sudah seperti kampung kelahiran saya. Walau tak memiliki uang,  saya masih bisa ngopi. Bahkan postur bule saya menyatu dengan warga Sumbar. Warna kulitpun sudah mulai sawo matang. Saya bukan lagi bule yang bengong-bengong dengar berbagai guyonan dari arah manapun. Telinga saya sudah nyaring dengan istilah bahkan pepatah Minang. Nama bule saya di dahului oleh nama islami, Abdullah Rudolf Smit.   

Polemik yang kita alami ini juga pernah di alami oleh Banyuwangi. Alhasil Banyuwangi memilih kata Majestic Banyuwangi yang berarti Keagungan Banyuwangi yang dianggap mewakili keterkandungan wisata yang ada di Banyuwangi.

Sementara, polemik kita di Sumatera Barat, kata Padang tidak menjadi keterkandungan wisata di Sumatera Barat. Menggambarkan bahwa para wisatawan akan hanya menuju kota Padang jika hendak ke Sumatera Barat. Bagaimana dengan Mentawai yang menjadi incaran peselancar ?.

Keindahan Sumatera Barat tak dapat digantikan oleh daerah manapun. Itulah tugas berat pemangku kepentingan untuk menjadikan Sumatera Barat sebagai tempat pariwisata yang dapat memberi penghasilan bagi masyarakat dimanapun berada.

Sederet lagu tak dapat mengusir kegundahan, sederet kata tak dapat merubah keputusan. Harapan menjadi tindak lanjut bagi kita bahwa “Taste of Padang” belum mewakili keterkandungan wisata di Sumatera Barat.

Mungkin sebagai orang asing yang merasa berada dikampung sendiri ini memberi usul mengenai Brand Sumbar itu “Magical west Sumatera” Magical dalam bahasa inggris tidak hanya gaib, sihir dalam artian harfiah tetapi sebagai kiasan berarti Sumatera Barat akan menyihir wisatawan mancanegara dengan keindahan alamnya, ekosistim budaya, cita rasa kulinernya dan keramahan rakyatnya.

Setiap kita, ingin hidup damai, tentram dan berguna. Oleh karena itu kita butuh perubahan dalam hidup. Kita butuh keterbukaan. Kita butuh musyawarah dan yang lebih penting pemangka kepentingan harus mengutamakan prinsip kebutuhan untuk saling ketergantungan demi tanah kelahiran, demi jiwa Nasionalisme, demi anak cucu kedepannya.

Sebagai Mamak, kita siap membimbing keponakan, sebagai Bapak kita siap menjadi ayah yang baik, sebagai pemimpin kita jauh lebih siap untuk bijaksana. Kebersamaan adalah nyata bagi kita untuk dapat hidup bahagia dan tenang setelah kemerdekaan.

Mungkin saja kata saya sedikit menyayat luka, tapi tujuan utama saya adalah mengikat rasa cinta, rasa saling memiliki dan untuk mengingatkan kita akan rasa peduli. Tanpa pilih kasih. Terima kasih. (***)





Komentar : 0


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)