Opini

Oleh: Hilma Dahliana (Mahasiswa Ilmu Komunikasi, Universitas Andalas)

Rendang Zaman Now

Warta Andalas | Jumat, 23 November 2018 - 13:32:43 WIB | dibaca: 371 pembaca

Payakumbuh, merupakan salahsatu kota yang ada di Sumatera Barat, Indonesia. Kota ini dikenal dengan beberapa destinasi wisata andalan seperti rumah gadang serta oleh-oleh khas daerah yaitu galamai, batiah dan randang. Sedangkan Malaysia, merupakan salahsatu negara yang tergolong maju di kawasan Asia Tenggara. Negara mantan jajahan Inggris ini sebenarnya memiliki penduduk asli yang hampir sama dengan penduduk asli Indonesia, bahkan kebanyakan warga Indonesia yang merantau ke Malaysia memilih untuk menetap disana selamanya. Begitupun sebaliknya. Hal inilah yang melatar-belakangi mengapa budaya Indonesia hampir mirip dengan budaya Malaysia.

Permasalahan budaya selalu menjadi sumber masalah utama antara dua negara ini. Seperti yang kita ketahui, beberapa warisan budaya khas Indonesia di klaim oleh Malaysia menjadi budayanya, seperi batik, wayang bahkan rendang. Rendang yang merupakan makanan khas Minangkabau dan menjadi makanan terlezat didunia (menurut UNESCO) di klaim Malaysia sebagai makanan budayanya. Hal ini tentunya menyulut amarah masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Sumatera Barat. Akan tetapi, mengapa kita hanya marah tanpa melakukan tindakan untuk merebut kembali rendang?

Menurut perspektif saya sebagai mahasiswa public relations, yang menjadi kekurangan kita adalah sebagian masyarakat Indonesia merasa puas dengan budaya yang hanya dikenal pada tahap awareness di dunia luar tanpa adanya pengklaim-an yang jelas dan tertulis. Sehingga, Malaysia melihat kekurangan ini sebagai suatu celah dan kesempatan untuk memberanikan diri mengklaim budaya Indonesia. Mengapa? Karena Indonesia tidak semua budaya Indonesia yang memiliki bukti budaya tertulis untuk ditunjukkan kepada dunia. Bukti budaya dapat berupa bukti tertulis dari UNESCO, pembuatan buku dan lain sebagainya. Selain bukti budaya, penegasan klaim dan penyebaran informasi melalui website ataupun media massa juga hal yang penting.

Ternyata, berdasarkan pengamatan sebagian masyakat Indonesia sadar akan kekurangan kita ini dan mencoba melakukan suatu tindakan yang dimulai di daerahnya. Payakumbuh, sebuah kota yang berada di Sumatera Barat ini berupaya untuk melakukan tindakan yang akan menjadi bukti budaya sehingga budaya kita tidak lagi di klaim negara lain. Tindakan ini dilatar belakangi oleh sang Wakil Walikota Payakumbuh yang dahulunya penggiat IT yang memiliki kesadaran dan keinginan untuk memajukan kampung halamannya.

“Payakumbuh sebagai Kota Randang” begitulah branding dan pengklaim-an yang dilakukan pemerintah Kota Payakumbuh untuk menyelamatkan “rendang” yang akan di klaim oleh Malaysia. Meskipun dunia tahu bahwa rendang berasal dari Kota Padang, Payakumbuh tetap memberanikan diri untuk melakukan pem-branding-an ini. Bukan karena maksud ingin memperoleh eksistensi belaka, tindakan ini merupakan langkah untuk mempertahankan rendang sebagai makanan khas Sumatera Barat, Indonesia.

Bukan hanya wacana belaka, Pemerintah Kota Payakumbuh telah melakukan upaya yang maksimal dalam kegiatan pem-branding-an ini. Mulai dari perencaan dana yang tertera pada APBD dimana kegiatan ini telah disetujui dan didukung oleh Gubernur Sumatera Barat, sehingga segala proses kegiatan dapat berjalan dengan lancar tanpa terbentur dana. Penetapan bahwa kata “rendang” diubah menjadi “randang”, mengapa? Karena sesuai dengan pertimbangan Pemerintah Kota Payakumbuh , hal ini dilakukan untuk memudahkan dunia luar untuk mengucapkannya.

Lalu, Pemerintah melakukan desain ulang untuk pengemasan atau packaging randang agar nantinya terlihat lebih mewah dan dapat bersaing dengan produk lainnya di pasar internasional. Pengemasan dilakukan dalam berbagai ukuran, mulai dari yang besar, menengah hingga sashet untuk sekali makan. Dan nantinya, produk randang dalam kemasan ini akan disebar luaskan keseluruh Indonesia dan pasar internasional sehingga siapapun yang menikmatinya akan teringat dan masuk ketahap top of mind bahwa randang itu merupakan makanan yang berasal dari Indonesia. Hal ini tentunya telah menjadi revolusi besar bagi kemajuan Randang Minangkabau.

Selain itu, pemerintah juga menyiapkan wisata Kota Randang Payakumbuh dimana nantinya wisatawan baik lokal maupun mancanegara dapat melihat secara langsung proses pembuatan hingga pengemasan randang, serta wisatawan juga dapat ikut merasakan bagaimana memasak randang dan menikmati sajian randang khas Payakumbuh.

Setelah itu, pemerintah juga telah menyiapkan sebuah buku yang membahas secara detail sejarah Randang Minangkabau yang ditulis ke dalam berbagai jenis bahasa seperti Indonesia, Inggris, Arab, China dan lainnya.

Dan untuk informasi seputar Payakumbuh sebagai kota randang, Humas Pemerintah Kota Payakumbuh telah mempersiapkan website dan sosial media sehingga seluruh lapisan masyarakat dapat dengan mudah memperoleh segala informasi yang dibutuhkan. Nah, dengan adanya wisata Kota Randang Payakumbuh dan buku sejarah randang ini, bukti budaya akan tercatat sehingga negara lain tak akan bisa merebut randang dari IndonesiaTak hanya pemerintah, peran masyarakat juga sangat dibutuhkan untuk kesuksesan branding ini.

Nantinya, Pemerintah Kota Payakumbuh mengatakan bahwa akan melakukan edukasi kepada masyarakat sekitar tentang apa saja hal yang perlu dipersiapkan sebelum membuka wisata Kota Randang Payakumbuh.

Hal ini melakukan tindakan yang sangat luar biasa dan sangat saya apresiasi terhadap Kota Payakumbuh atas keseriusannya mempertahankan budaya.Pemerintah Kota Payakumbuh berharap tindakan yang dilakukan pada saat ini akan menjadi langkah awal untuk mempertahankan budaya Indonesia sehingga daerah ataupun provinsi lain akan mengikuti langkah ini demi kelestarian budaya kita, budaya Indonesia. (**)

.





Komentar : 0


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)