Opini

Oleh: Pinto Janir

Politik itu Ibadah, Bukan Fitnah! (Sekalipun Dizalimi, Difitnah, Dukungan Pada Deje Makin Kuat)

Warta Andalas | Minggu, 19 Januari 2014 - 12:05:39 WIB | dibaca: 1124 pembaca

Percuma Menghasut Massa Membenci Deje

Politik itu amal ibadah yang baik. Mana bisa kita berharap sebuah kebaikan bila dimulai dengan keburukan-keburukan. Sesuatu yang diawali atau sesuatu yang diperoleh dengan cara yang buruk, dengan cara yang menyakiti, niscaya akan berujung bala petaka.

Kekuasaan itu penting dan perlu. Tanpa adanya kekuasaan, kekuatan kebenaran tidak akan pernah mencapai titik optimal. Optimalsisasi kebenaran itu berada pada “kekuasaan”. Panggung politik, pentas politik, arena politik, adalah jembatan untuk menghantarkan kita pada cita-cita bersama; yakni meraih kekuasaan untuk jihad kebenaran.

Tapi, kunci “kebenaran” itu adalah bagaimana cara kita “berjalan” meniti jembatan hingga sampai ke seberang, apakah dilakukan dengan cara yang benar pula?

Apakah dalam perjalanan itu, kita melakukan penungkaian, penyikutan, mencaci maki, menghujat, memfitnah, sehingga para pejalan-pejalan lain terhenti di depan jembatan, sehingga kita sampai sendiri berkat melakukan berbagai cara yang curang, penuh penistaan dan terkekeh-kekeh puas menyaksikan kejatuhan “orang lain”.

Niscaya, kekuasaan yang diperoleh dengan cara tidak baik, tak akan pernah diridhoi Tuhan. Yakinlah.

Ia akan menjadi pemimpin yang curang, sahabatnya setan. Ia tak akan pernah menjadi pemimpin umat, kecuali ia hanya akan menjadi pemimpin bagi golongannya sendiri. Golongan yang mendukung kecurang-kecurangan yang menghalalkan berbagai cara; cara apa saja, yang penting kekuasaan dalam genggaman.

Untuak syiar kebaikan, cara berpolitik kita adalah berpolitik santun,cerdas, dan sejuk di hati orang banyak. Aura-aura berpolitik kita adalah “menyaru” aura positif.Bukan negatif. Tak akan pernah sesuatu yang dimulai dengan negatif akan bermuara pada sesuatu yang positif.

Sekalipun ada upaya menyeolah-olahkan diri “bertopeng kebenaran” atau ingin dianggap paling benar, atau bila perlu memakai cara apa saja asal dianggap seperti malaikat, bahkan tak sungkan-sungkan “mengorbankan” kebenaran ayat-ayat Tuhan asal maksud dan tujuan tercapai, adalah sebuah sikap yang nista, hina dan rendah di mata “kebenaran”. Cara "berdakwah" harus santun, cara berpolitik pun harus sejuk bukan berbau hasutan mengundang keresahan...

Orang Minangkabau Berpolitik

Kita orang Minangkabau adalah orang yang mengarifi alam. Bagi kita, alam takambang menjadi guru. Ia cermin atas kekuasaan dan kekuatan Allah SWT. Amatilah alam, maka cinta dan kagummu pada Tuhan akan semakin tinggi dan tebal. Mengamati keindahan alam adalah salah satu cara meningkatkan nilai-nilai ketaqwaan. Ketika orang minang menyepakati “alam takambang menjadi guru” membuat nagari ini menjadi negeri yang berselimut aura positif yang melahirkan kalimat “lawik sati rantau batuah”.

Alam takambang jadi guru, lawik sati rantau batuah, saciok bak ayam sadanciang bak basi, indak adoh kusuik nan indak salasai, tasilang di sangketo-rundiang tampek baiyo-iyo, batuah saiyo dek sakato basipakaik dalam adaik basandi sayarak-syarak basandi Kitabullah adalah karakteristik alam yang mempengaruhi karakteristik Minangkabau nan tacinto.

Makanya, apapun jenis dan “persaingan dan bentuk pertandingan” di Minangkabau adalah persaingan yang berasaskan rasa berdunsanak bukan rasa “sakit hati” dan “dendam” kesumat yang menghancurkan. Bukan begitu.

Sesama Muslim kita adalah bersaudara. Berat untuk menyakiti hati sesama muslim. Kalau pun ada di antara kita, sesama muslim yang kita rasa “khilaf” atau lupa, kewajiban bagi kita untuk mengingatkannya.

Islam dan Minangkabau, sulit dipisahkan. Tidak diakui seseorang sebagai orang Minang, kalau dia bukan seorang Muslim. Kalau dia murtad, dia dibuang sepanjang adat, begitulah komitmet Perjanjian Marapalam atas konsekwensi  Adaik Basandi Syarak-syarak Basandi Kitabullah!”.

Cara berpolitik di Minangkabau berpolitik santun. Kalaupun ada cabik, cabiknya juga cabik-cabik bulu ayam, juga cabik-cabik berdunsanak, ujungnya akan saling bermaafan dan berangkulan dalam kasaiyoan.

Urang Minang tabu melakukan cara politik mambalah buluah. Ciek dipijak, nan ciek diangkek. Saya kecewa. Sangat kecewa.Ketika ada trend politik perbandingan yang melukai saudara sendiri. Itu jauh dari cara-cara orang Islam dan orang Minang berpolitik. Seakan-akan ada upaya, yang diawak rancak, nan di urang buruk.

Sikap itu diwujudkan, misalnya---dengan cara memasang poto si A dan memasang poto si B, dengan ruang yang sama. Si A dicitrakan dengan hebat dan seakan-akan sempurna, sementara si B dicitrakan dengan buruk dan jauh dari kesempurnaan. Seakan-akan hanya pilihan awak saja yang sempurna, pilihan orang buruk. Hanya pilihan awak saja nan benar, pilihan orang salah. Hanya awak saja yang paling benar, orang lain paling salah.

Saya melihat, gaya trend berpoltik seperti memasang poto yang mirip pepatah mambalah buluah itu sangat berbahaya. Dan sangat bisa menyebar dan mengusik kenyamanan massal. Sangat berpotensi membuat massa menjadi “gaduh”.

Asas “perbandingan” seperti itu, apapun alasannya adalah sangat tidak “islamis” dan sangat tidak “Minangkabauisme”. Itu melukai hati orang lain. Kalau akan berupaya melakukan apapun bentuk pencitraan selalulah berpegang teguh pada “ tarangkan sajo lampu awak-lampu urang jan dimatikan atau jan dipudurkan!”.

Orang Minangkabau adalah orang pintar, orang cerdik, orang hebat. Namun, pintarnya kita jangan pintar melukai. Cerdiknya kita jangan cerdik membohongi. Hebatnya kita, jangan hebat mempermalukan atau menhina atau memfitnah dunsanak surang.

Ketika kita apungkan sesuatu yang memberi luka, sesuatu yang beraroma fitnah, hasutan, dan lain-lain yang buruk, itu akan memicu munculnya aura negatif. Kalau aura negatif dilawan dengan aura negatif pula, yang akan lahir adalah kegaduhan yang berkerat rotan.

Mencari, memunculkan, meniupkan, menghasut, menciptakan, menghimpun opini negatif, itu sangat sepele. Kalau bagi saya, itu sampah dan debu. Sekali tiup, debu di atas tunggul itu lenyap dan berderai di udara. Dengan kasih sayang, dan atas izin Allah, debu itu lenyap dan terbakar bersama setan-setannya. Yakinilah.

Tidak Kaget Benar Ketika Beragam Fitnah Menghujani Desri Ayunda Dan James Hellyward

Menyikapi situasi politik lokal di Padang, saya mengamati dan mencatat trend yang sebenarnya tidak baru-baru benar. Trend seperti ini sudah mulai tampak dan ada ketika Pilkada langsung mulai dilakukan di republik ini. Tampaknya, berbagai cara menjatuhkan pasangan Desri dan James sudah mulai ditiup-tiupkan.

Mulai dengan gaya membanding-bandingkan poto, sampai ke hal-hal yang kental dengan fitnah yang beragam-ragam. Perbandingan, ia sebut sebaga sesuatu sikap analisis. Ada yang terlupa yakni “ awak orang Minangkabau ini” adalah orang yang senantiasa bertiang pada tenggang dan menenggang. Kalau tenggang dan saling menenggang tak ada, itu namanya alamat buruk, alamat tanda hilangnya sebuah “perasaan”.

Pertama Desri Ayunda “dihina” dengan namanya yang seperti nama wanita. Bayangkan, soal nama saja mereka hina. Kemudian Desri dituduh bukan orang Padang, bukan orang Minang ia disebut-sebut beretnis lain. Padahal, Desri itu asli orang Koto Tangah, jelas sosok jeraminya. Kedua orangtua Desri, adalah asli orang Padang.

Masih untung, loyalis Desri tak membalas. Kalau membalas, bisa pula dicari sosok jerami yang lain ini. Bisa pula ditanyakan ayahnya, ibunya orang mana? Kok bisa?Mengapa? Banyak pertanyaan yang bisa dimunculkan dalam kampanye gelap yang sungguh tak sesuai dengan karakteristik dan budaya orang Minang dan orang Islam.

Desri Ayunda dituduh orang beragama kristen. Olala, padahal Desri dan kaumnya di Koto Tangah adalah penganut Islam yang taat dan sangat agamis. Desri dituduh antizakat, padahal tokoh pertama pencetus zakat umat adalah Desri melalui wadah PT Semen Padang. Lebih dahulu PT Semen Padang mewajibkan zakat bagi karyawannya ketimbang Pemko Kota Padang mewajibkan zakat bagi seluruh PNS di lingkungkan Pemkot. Bedanya, PT Semen Padang tidak mewajibkan zakat bagi karyawan golongan rendah, karyawan golongan rendah adalah pihak yang menerima zakat dari karyawan golongan “mampu”. Sementara di Padang, PNS golongan I hingga atas, wajib zakat. Sudut pandangnya, harusnya PNS golongan I adalah orang yang “kurang” yang berada di posisi menerima zakat, bukan penzakat.

Bagi lawan politik Desri, pikiran Desri tentang zakat, diyoutubekan (disiarkan) sepotong-sepotong sehingga seolah-olah menggambarkan Desri antizakat.

Desri dituduh prochina, lantaran Deje meraih kemenangan besar di Pilkada putaran I di etnis-etnis China. Padahal bukan begitu, Deje itu prorakyat dari segala lapisan, bukan lapisan tertentu saja. Deje itu calon walikota untuk semua lapisan...untuk semua orang....

Desri dituduh akan mengganti sejumlah kepala sekolah, sehingga mengundang keresahan sebagian kepala sekolah dan kemudian dari isu ini tukang kampanye gelap berharap kepala sekolah akan membenci Deje. Hasutan, fitnahan yang tidak-tidak memang sedang menghujani Deje.

Ketika dukungan deras, berdatangan dari partai-partai besar, tokoh-tokoh Sumbar, bahkan 15 kepala daerah di daerah ini menyatakan dukungan kepada Deje, hasutan dan fitnah lain pun muncul. Yakni, munculnya fitnah bahwa bila Deje didukung banyak orang, maka kalau Deje jadi walikota, ia akan sulit lepas dari keindependenannya. Bahkan, Deje juga difitnah membeli dukungan tersebut.

Begitu sangat kejamnya fitnah dan tindankan penzaliman yang ditujukan pada Deje. Padahal, saya tahu benar, bahwa dukungan itu tak pernah didapatkan Deje dari hasil membeli. Setahu saya, pasangan Deje adalah pasangan yang sederhana, baik dalam “materi” maupun  dalam kehidupan sehari-hari.

Setahu saya dan saya sangat yakin bahwa tak satupun dari dukungan itu yang diperoleh Deje dengan cara membeli seperti yang difitnahkan orang kepada Deje.

Ya, benar adanya bila Deje tak akan “independen” dan tak akan bebas lantaran terikat oleh kontrak dan kesepakatan sosial dalam ruang ilaihiyah. Kontrak yang mengikat Deje tersebut adalah “kontrak moril” yakni bila Deje menjadi walikota Deje harus melakukan berbagai perubahan kebaikan di segala bidang demi umat yang banyak.

Deje tak bisa lepas dari kesepakatannya untuk melakukan berbagai perubahan dan memperbaiki beberapa “sendi” kota yang lenyap dan rusak di tengah kota Padang.

Dengan banyaknya dukungan itu, niscaya Deje tak akan bisa “bebas” atau lepas dari keindependenannya dalam berbuat “buruk” bagi kota ini sehingga semena-mena merusak kota. Deje terikat banyak kontrak “moril” dengan banyak lapisan untuk membangun kota Padang. Bila Deje, tak amanah, maka para “pendukung” Deje akan balik menyerang Deje.  Itu yang membuat Deje kehilangan keindependenan ,Deje tak akan mungkin memimpin “semau gue” dan Deje adalah pemimpin untuk semua, bukan pemimpin atas golongan tertentu atau atas golongan partai tertentu.

Banyaknya dukungan kepada Deje bisa menjadi ukuran atas “keamanahan” Deje. Dukungan ke Deje itu adalah sebuah tanda, bahwa banyak orang yang sudah bosan dengan keadaan kota yang makin lama makin “terpuruk” juga. Banyak orang yang ingin berubah ke arah yang lebih baik. Makanya, mereka percaya mengarahkan suara  dan dukungan kepada Deje.

Kekuasaan harus kuat. Tak boleh lemah. Legitimasi kekuasaan adalah “pengakuan” yang besar. Makin banyak pengakuan, makin besar pengakuan, makin banyak dukungan, makin besar dukungan, maka kekuasaan itu akan makin “kuat” sehingga tak pernah ragu untuk menyampaikan kebenaran-kebenaran.

Makin Kencang Hasutan, Makin Tajam Fitnah, Makin Banyak Simpatisan Deje

Yah, Allah tak pernah meridhoi sesuatu yang zalim, sesuatu yang menghasut, sesuatu yang menghina, sesuatu yang menyakiti. Berapi-api tuduhan dan fitnah buruk pada Deje. Tapi, Deje tetap menerima dengan penuh kesabaran. Semoga, Deje tetap sabar, tetap tabah, dan memaafkan segala tindakan penzaliman yang dilakukan pada Deje.

Adalah, sekali lagi tidak benar adanya Deje akan mengganti kepala sekolah, mengganti si A si B, kalau jadi walikota. Itu isu sengaja ditiupkan oleh tukang fitnah yang memang tampaknya mulai "bergerilya" dan  beredar di kota yang sangat kita cintai ini.

Kampanye hitam itu, bukan gaya kampanye orang Minangkabau.Bukan gaya kampanye orang Islam. Itu gaya kampanye “ Keparat Berlagak Malaikat”. Makanya mohon hentikan segala kampanye buruk yang membuat kita berpecah-pecah.

Ini hanya pesta demokrasi, bukan pesta memperebutkan “ameh sagadang gunuang”.

Setahu saya, salah satu program Deje yang sangat manusiawi adalah memperbaiki atau menambah gaji guru honor yang tidak sangat manusiawi. Kemudian, memperlancar urusan sertifikasi guru. Kemudian menghidupkan tunjada. Kemudian, menjadikan kota ini kota yang bersih, beriman, bertaqwa, damai, tentram, sejahtera dalam kebersamaan di ranah saciok bak ayam sadanciang bak basi. Deje menghargai kehidupan dan orang hidup..!

Bukan itu saja, James Helliward yang namanya memang mirip nama asing, difitnah pula beragama kristen. Dituduh-tuduh, James keturunan “bule”. Saya harus ketawa ngekeh juga, sumpah, kok masih ada gaya kampanye yang menghalalkan segala cara yang jauh dari cara-cara islami. Setahu saya, James itu Padang tulen, Minang tulen. Penganut islami yang taat. Bersosok jerami yang jelas, kaumnya intelek dan agamis. James (jim) adalah seorang professor yang hebat. Pernah jadi Kadis Pariwisata Sumbar. Ia pencetus ide Tour de Singkarak yang mendunia.

Untuk itu, berhentilah memfitnah Deje

Kita hidupkan saja lampu surang-surang.....

Jangan pakai gaya kampanye “tajam” menghina, keras memfitnah itu.

Gaya kampanye poto perbandingan itu bukan gaya orang Minang......

Salam perdunsanakan.....





Komentar : 0


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)