Sawahlunto

Polisi Ungkap Penyebar Fitnah Deri Asta dan BNN

Warta Andalas | Selasa, 16 Januari 2018 - 17:27:27 WIB | dibaca: 1894 pembaca

WARTA ANDALAS, SAWAHLUNTO - Kepolisian Resor Kota Sawahlunto berhasil mengungkap kasus pencemaran nama baik yang diunggah lewat media sosial Facebook.

Polisi berhasil  mengamankan satu orang terduga (JS) 29 tahun, warga Kecamatan Silungkang pada Senin (15 /1) sekitar pukul 02.15 Wib dini hari, di Koto Baru Solok, di rumah mertuanya.

Kapolres Sawahlunto, AKBP. Zamrony Wibowo, S.IK, SH mengatakan, revisi Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) mengatur soal pengurangan durasi hukuman penjara terkait pencemaran nama baik, penghinaan, dan sebagainya dikurangi menjadi di bawah lima tahun.

Dengan demikian, tak ada kewajiban bagi penyidik untuk melakukan penahanan karena hukumannya ringan. Jadi, kurungan di balik jeruji bukan satu-satunya jalan penyelesaian.

"Akan lebih baik jika ada mediasi antara pelaku dengan korban untuk mencari titik temu dari permasalahan mereka," ujar Kapolres Zamrony Wibowo diruang kerjanya Selasa, (16/1).

Polisi akhirnya tidak melakukan penahanan terhadap JS setelah menjalani pemeriksaan di Mapolres Sawahlunto selama 1 x 24 jam dan telah  melakukan mediasi antara pelaku dengan korban pencemaran nama baik yaitu dengan  keluarga Deri Asta.

Kronologis kejadian bermula pada tanggal 15 Desember 2017, JS dengan menggunakan nama akun samaran yaitu  Syafrudin Harum (SH) menulis status bermuatan fitnah dilinimasanya. SH juga menulis komentar bernuansa fitnah kepada Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Sawahlunto.

Pada tanggal 19 Desember 2017 Badan Nasional Narkotika (BNN) Kota Sawahlunto melaporkan akun Facebook SH ke Mapolres Sawahlunto. Laporan polisi juga dibuat oleh Doni Asta, mewakili keluarga Deri Asta pada tanggal 21 Desember 2017.  

Kepada polisi, JS mengakui perbuatannya bahwa itu dilakukan atas inisiatif sendiri lantaran Pilkada. Pelaku juga bersedia meminta maaf dengan menggelar konferensi pers.

" Kami berkordinasi dengan Mabes Polri untuk melacak pengguna akun dan   keberadaan pelaku. Pada tanggal 3 Januari kami berhasil mengindentifikasi dan pada tanggal 14 kasus ini naik ke penyidikan," ujar Kanit II  Reskrim Polres Sawahlunto, IPDA  Johannes Bregas diruang kerjanya,  Selasa, (16/1).

Johannes Bregas mengatakan, pelaku melanggar dua pasal sekaligus yaitu pelanggaran UU ITE dan penghinaan  institusi negara yang diatur dalam KUHAP.

" Ini pidana umum," ujar Johannes Bregas.

Pelapor Doni Asta mengatakan, ia telah dihubungi oleh JS untuk meminta maaf secara kekeluargaan. Doni mengatakan, pihak keluarga bersedia memaafkan dengan syarat JS harus menggelar konferensi pers dan berjanji tidak lagi mengulangi perbuatannya. 

" Pada prinsipnya kami sudah memaafkan dan bersedia untuk mencabut laporan," ujarnya.

Kepala BNN Kota Sawahlunto Guspriadi mengatakan, laporan polisi yang dilayangkan BNN Kota Sawahlunto pada tanggal 29 September 2017 lalu telah melalui persetujuan BNN Provinsi Sumatera Barat.

" Kami tidak dapat begitu saja mencabut kembali laporan. Karena BNN institusi negara, maka akan berlaku proses pemeriksaan oleh inspektorat jenderal. Sangat riskan bagi diri saya pribadi begitu juga dengan instusi BNN Kota dan Provinsi," jelas Guspriadi.

Kepolisian Polres Sawahlunto kini tengah menangani 7 laporan polisi terkait pelanggaran UU ITE 2008. Dari ketujuh laporan, polisi telah mengantongi identitas lima pelaku , satu orang diantaranya telah dimintai keterangan dan satu orang lainya belum terungkap.

Kapolres Zamrony Wibowo menghimbau warga masyarakat Sawahlunto agar  menggunakan media sosial dengan cara cara bijaksana tanpa merugikan orang lain dan tidak melanggar peraturan perundangan undangan. Apalagi ditahan politik seperti Pilkada. (tim)





Komentar : 0


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)