Hukrim

Pewarta Babel Diintimidasi Sekelompok Warga yang Diduga Orang Bayaran

Warta Andalas | Jumat, 18 Oktober 2019 - 11:28:56 WIB | dibaca: 10174 pembaca

WARTA ANDALAS, BELINYU - Aksi premanisme terhadap para pegiat pers kembali terjadi, dan dialami Rikky Fermana, seorang wartawan asal media Mapikor, Kamis (17/10). Bahkan aksi yang dilakukan oleh sekelompok oknum warga dengan gaya 'preman' itu sempat melecehkan profesi wartawan selaku pencari fakta di lapangan.

Kejadian tersebut berawal ketika rombongan wartawan dari berbagai media massa baik cetak maupun online, yakni Rikky Fermana (Mapikor), Wa (Radar Bangka), Rey (DetikNews.id), Ryan A Prakasa (Spotberita.com) dan Purna Yuda (lintasanberita.com), bermaksud melakukan kegiatan liputan investigasi di lapangan terkait kasus persoalan lahan di wilayah Dusun Mengkubung, Desa Riding Panjang, Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, Kamis (17/10/2019) siang sekitar pukul 14.30 WIB.

Saat meninjau ke lokasi, rombongan para wartawan pun didampingi seorang warga dusun setempat, Basoni (38). Tiba di lokasi, rombongan wartawan pun mencoba menanyakan seputar lahan yang menjadi persoalan hingga menuai protes warga.

Namun tak berapa lama kemudian, sekelompok massa diperkirakan berjumlah belasan orang mengendarai sepeda motor yang diduga dikoordinir oleh seorang oknum warga diketahui bernama Atok, datang ke lokasi dan langsung menghampiri rombongan wartawan yang berada di lokasi itu. Lalu, seseorang dari kelompok massa itu sempat melontarkan kalimat yang tak bersahabat dengan gaya preman.

Saat didatangi sekelompok massa itu, Rikky pun mencoba  menanyakan kepada seseorang dari kelompok massa yang  mendatangi mereka di lokasi setempat.

"Oh ya, bapak dari mana?," tanya Rikky, selaku ketua Himpunan Pewarta Indonesia (HPI) Provinsi Bangka Belitung.

Namun, tanpa basa-basi oknum warga bernama Sunarman alias Ceduk warga Bukit Ketok, Belinyu, spontan langsung menggertak Rikky dengan suara keras.

Tak cuma itu, aksi premanisme pun ditunjukan pula di hadapan rombongan wartawan. Bahkan Ceduk pun sempat mengancam wartawan yang merekam kejadian siang itu dengan ancaman ia akan membuang hand phone milik wartawan media online ini.

"Jangan foto-foto, nanti saya buang hand phone anda!," gertak  Ciduk, dengan nada keras.

Tak sampai di situ, selanjutnya Ceduk semakin beringas menunjukan arogansinya hingga mencekik leher Rikky, meski sempat dilerai oleh rekannya termasuk wartawan yang menyaksikan kejadian siang itu.

Meski cekcok terus berlanjut, namun Rikky terlihat tak melakukan perlawanan fisik apa pun hingga suasana semakin memanas.

Saat sedang dilerai, Ceduk malah terlihat mengambil sebuah potongan kayu yang tergeletak di atas tanah di lokasi kejadian, yang diduga kuat bermaksud hendak memukul Rikky dari arah belakang.

Untung saja, saat Ceduk hendak memukul Rikky, sempat dihalangi oleh seorang wartawan lainnya yakni Ryan A Prakasa asal media SpotBerita.com.

Akan tetapi sikap Ceduk malah terlihat semakin menjadi dan  mengancam hendak memukul Ryan namun niatnya itu dicegah oleh rekannya.

Tak mau keributan siang itu semakin memanas, Ryan pun terlihat bergegas mencoba menggiring Rikky ke tempat yang agak jauh dari kelompok massa tersebut, guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Namun lagi-lagi seorang rekan Ceduk terlihat mengambil sebongkah batu hendak melempar bahkan sempat mengejar Ryan dan Rikky yang mencoba menghindar dari kelompok massa siang itu. Untunglah seorang dari kelompok massa tersebut berupaya mendinginkan situasi.

Akan tetapi Ceduk pun sempat mengumpat kasar di hadapan wartawan. "Saya pecahkan mukamu!," umpat Ceduk.

Selain itu, seorang rekan Ceduk juga sempat melontarkan ujaran tak pantas hingga terkesan merendahkan profesi wartawan yang meliput di lokasi ini.

"Wartawan bodoh. Ke sini mau cari duit ya?," sebut seorang rekan dari kelompok massa tersebut.

Saat situasi ribut-ribut mulai mereda, seorang dari kelompok massa bernama Atok warga Mantung Belinyu yang mengaku orang suruhan H Fit. sempat memberikan penjelasan singkat terkait persoalan jual-beli lahan di dusun setempat, yang dijual oleh warga kepada perusahaan swasta di lokasi dekat bibir pantai yang hingga kini menuai protes warga.

"Permasalahannya warga tidak menerima jika lahan ini dijual,  karena dulu ada perjanjian kesepakatan bahwa lahan dekat lokasi bibir pantai tidak boleh ada aktiftas apapun," ujar Atok di hadapan wartawan, sambil menunjukan selembar kertas berupa gambar peta lokasi lahan yang kini menjadi persoalan.

Tanpa membuang waktu, rombongan wartawan pun langsung bergegas meninggalkan lokasi guna menghindari keributan dengan kelompok massa tersebut. 

Terkait kejadian itu, Rikky bersama rombongan wartawan lainnya sore itu juga langsung mendatangi kantor Polres Bangka di Kota Sungailiat guna melaporkan kejadian yang dialami beserrta rekannya.

Kedatangan rombongan wartawan itu diterima oleh petugas SPKT Polres Bangka dan diteruskan ke penyidik Reskrim Polres setempat.

Sementara, Kapolres Bangka, AKBP. Aris Sulistyono saat dikonfirmasi terkat kejadian dugaan tindak pengeroyokan terhadap wartawan oleh sekelompok oknum warga di Dusun Mengkubung, Desa Riding Panjang, Kecamatan Belinyu, Kamis (17/10/2019) sore, justru baru mengetahuinya.

"Laporannya sudah kita terima" ujar Kapolres.

Begitu pula Kapolda Babel, Brigjen Pol. Istiono, saat dikonfirmasi terkait kasus dugaan tindak pengeroyokan terhadap wartawan,  jenderal polisi bintang satu ini menyarankan agar kasus ini segera dilaporkan kepada kepolisian daerah setempat.

"Lanjut. Laporkan ke Polsek Belinyu," jawab Kapolda, melalui pesan singkat (WA) yang diterima, Kamis (17/10/2019). (hpi)





Komentar : 0


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)