Sawahlunto

Pengelolaan Cagar Budaya Oleh Pihak Lain, Harus Izin Balai Pelestarian Cagar Budaya

Warta Andalas | Senin, 08 Juli 2019 - 23:11:23 WIB | dibaca: 297 pembaca

WARTA ANDALAS SAWAHLUNTO – Mendapatkan pengakuan dunia dari UNESCO, tidaklah mudah. Butuh perjuangan panjang yang begitu berat dan melelahkan.Untuk itu, kota Sawahlunto harus bersyukur dan bangga, karena Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto menjadi satu-satunya di Indonesia, yang telah lolos dan sah sebagai warisan budaya dunia dalam Pertemuan Komite Warisan Dunia, di Azarbaijan, Sabtu (6/7/2019) yang baru lalu.

Hal tersebut disampaikan Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya, Agus Tri Mulyono yang membawahi Provinsi Sumatera barat, Riau dan Jambi, usai membuka lomba debat dalam bahasa Tangsi yang digelar di halaman parkir Gedung Pusat Kebudayaan (GPK) kota Sawahlunto, Senin 8/7).

Menurutnya, setelah mendapatkan pengakuan dunia, tugas Pemko dan masyarakatnya sekarang adalah untuk menjaga dan melestarikannya. Sebab, kata Agus Tri, menjaga dan memelihara itu lebih sulit daripada mendapatkan.

“Sekarang tinggal bagaimana sinergitas antara Pemerintah kota Sawahlunto dengan masyarakat. Sebab, jika tidak saling mendukung maka kedepannya akan sulit. Dan bahkan, bisa saja berkemungkinan akan dicabut statusnya dari UNESCO,” ujar pria asal Purwokerto Jawa tengah itu.

Untuk itu, lanjut dia, Pemerintah kota Sawahlunto harus betul-betul mampu membina dan melestarikan kebudayaan serta seluruh cagar budaya yang ada. “Rangkul masyarakat, dan terus lakukan pembinaan dan pengembangan terhadap para seniman dan budayawan,” imbuhnya.

“Saya melihat, adanya lomba debat bahasa Tangsi ini sungguh sangat luar biasa. Ini merupakan satu-satunya di Indonesia, dimana bahasa perpaduan antara Jawa, Minang, Batak dan sejumlah etnis lainnya yang ada di kota ini, sangat unik. Saya berharap, hendaknya kegiatan seperti ini terus dipertahankan,” pintanya.

Menanggapi rumor keberatan warga terkait Kantor PTBA, Hotel Ombilin serta Gedung GPK yang akan dikelola pihak lain, Agus Tri Mulyono mengatakan bahwa hal tersebut sah-sah saja.

“Tidak ada larangan, boleh saja dikelola pihak lain. Namun demikian, Pemko harus mengajukan izin pada Balai Pengelola Cagar Budaya,” pungkasnya.

Sementara itu, dalam lomba debat dengan dewan juri Purwoko, Ritu Kariyanto dan Yogi tersebut diikuti 10 tim yang terdiri dari berbagai kalangan usia, baik pria maupun wanita. (ap)





Komentar : 0


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)