Lismomon

Oleh : Lismomon Nata, S.Pd

Pengangguran Terdidik Dilema Kependudukan di Indonesia

Warta Andalas | Kamis, 13 Februari 2014 - 14:04:28 WIB | dibaca: 2580 pembaca

Diantara persoalan mendasar dalam sebuah negara adalah masalah pengangguran. Sekarang ini tercatat sebanyak 40 jutaan penganggur di Indonesia diisi sebagian besar angkatan kerja terdidik, di antaranya lulusan universitas (sarjana). Kecenderungan lonjakan pengangguran dari lulusan perguruan tinggi terlihat dari tahun ke tahun kian meningkat. Berdasarkan data statistik, pengangguran lulusan Diploma atau Akademisi sekitar 322.836 jiwa pemuda (138. 749); pemudi (184.087). Sedangkan sarjana lulusan universitas sekitar 385.418 jiwa pemuda (184.497); pemudi (200.921) dan bila ditotalkan sekitar 708.254 jiwa pengangguran dari kalangan sarjana muda. Belum lagi jumlah penggangguran dengan tingkatkan pendidikan di bawah sarjana. Jumlah pengangguran di kalangan pemuda Indonesia yang berpendidikan tinggi ini mengalami peningkatan. Keadaan ini cenderung meningkat dari tahun ke tahun.

Dalam salah satu laporannya, United Nation Development Programs (UNDP) juga melihat pola pengangguran di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, sebagai fenomena yang unik. Hal ini didasarkan karena ternyata tingkat pengangguran lebih banyak ditemukan di kalangan mereka yang mengenyam pendidikan tinggi. Fenomena ini menjadi tanda tanya besar bagi kita. Mengapa ini bisa terjadi? Orang yang tidak bekerja alias pengangguran merupakan masalah bangsa yang tak pernah selesai. Tapi lebih ironis lagi bila pengangguran itu banyak dari kalangan sarjana. Secara umum hambatan yang menjadi alasan kenapa orang tak bekerja diantaranya adalah dikarenakan karena hambatan kultural, mutu dan relevansi kurikulum pendidikan, kompetensi serta skill dan pasar kerja.

Hambatan kultural yang dimaksud adalah menyangkut budaya dan etos kerja, disamping tuntutan untuk ‘tidak berani’ mengadu nasib di tempat lain.Sementara yang menjadi masalah dari kurikulum pendidikan adalah belum adanya mutu dan relevansi kurikulum pengajaran di lembaga pendidikan tinggi yang mampu menciptakan dan mengembangkan kemandirian sumber daya manusia (SDM) yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Sedangkan hambatan pasar kerja lebih disebabkan rendahnya kualitas SDM yang ada untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja atau hanya sedikirnya formasi yang dibutuhkan di dunia kerja dibandingkan dengan jumlah sarjana yang ‘dilahirkan’ setiap dua kali dalam satu tahun. dengan demikian kenyataan yang ada cenderung menunjukkan, sistem pendidikan Indonesia (perguruan tinggi) jauh lebih produktif dalam mencetak lulusan ketimbang lapangan kerja kerja yang tersedia.

Pandangan ini dalam banyak hal turut serta memperparah banyaknya lulusan perguruan tinggi yang jobless. Kita menyaksikan dengan jelas bagaimana para sarjana masih terus disibukkan dengan persoalan mencari kerja, sementara ketersediaan lapangan kerja makin sempit. Dalam mencermati hal ini penuis mengira bahwa banyak element yang terkait di dalamnya, diantaranya adanya relasi antara kualitas individu dengan terpaan dalam pendidikan.

Makna dalam kualitas invidu penulis berpendapat bahwa pentingnya dalam sebuah keluarga dalam melakukan pengaturan anak serta dalam menjalankan peran masing- masing dalam keluarga tersebut, dalam hal ini BKKBN sebagai salah satu lembaga Negara berkomitmen untuk menciptakan jumlah penduduk yang tumbuh dan berimbang 2015 dengan harapan dapat menciptakan individu- individu yang berkualitas.

Di samping itu dapat dirasakan bahwa persaingan atau kompetisi dalam kehidupan yang semakin berat dan ketat. Artinya ketersediaan lapangan kerja dengan pencari kerja yang tidak berimbang. Dengan demikian maka menuntut untuk adanya pemampuan- kemampuan lain (skill) yang harus dimilki oleh setiap individu agar dapat bersurvive dalam kehidupan dan mendapatkan pekerjaan yang layak. Pekerjaan yang layak semestinya adalah sebuah efek yang diakibatkan dan didapatkan oleh individu- individu. Namun kenyataannya belumlah demikian.

Misalnya banyak kita jumpai fenomena dimana para sarjana yang masih bekerja yang serabutan seperti bekerja yang dapat dilakukan tanpa adanya pendidikan hanya terlatih seprti tukang ojek, buruh bangunan bahkan yang sangat membuat miris hati kita diantaranya adalah tidak sedikitnya dari para lulusan perguruan tinggi yang ‘sempat’ mengeyam pendidikan juah dari kampung halamannya mesti kembali lagi ke kampung halaman bukan karena panggilan untuk melakukan ‘sesuatu yang berarti’ di sana tetapi hanya ‘berdiam diri saja’, malamnya bergadang bermain Facebookan, bermain gitar, kongkow- kongkow bersama teman- teman hingga larut malam dan siang harinya tidur hingga maghrib menjelang.

Adanya fenomena ini bukan karena para lulusan sarjana tersebut tidak dapat melakukan ‘sesuatu’ namun karena ‘malas’. Setelah sekali, dua kali, dan jarang untuk sampai tiga kali untuk mencoba lalu putus asa, lalu kembali ke rumah orang tua, kembali menjadi tanggungan bagi orang tuanya. Di sinilah penulis piker bahwa faktor budaya, didikan dari orang tua sangat menentukan dalam ‘membentuk’ si anak. Ada dari budaya, kharakter orang tua yang ‘cuexs’, acuh tak acuh walaupun rasa kecemasan tentang nasib si anak masih saja ada, namun berusaha untuk ‘memendamnya’. Sebagian ada orang tua yang berprinsip yang penting anak sudah di sekolahkan dan tamat. Lantas setelah tamat? Itu yang jarang untuk difikirkan.

Kecendrungan dari orang tua umumnya di Indonesia berfikiran bahwa setelah tamat anaknya terutama pada Perguruan Tinggi maka harapannya adalah si anak dapat lulus untuk dapat bekerja dengan profesi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Hanya sedikit penulis pikir dari orang tua yang benar- benar berpemahaman untuk menyekolahkan anaknya dalam rangka mencerdaskan anaknya sehingga si anak memilki pengetahuan dan kepribadian. Biasanya, orientasi dari kebanyakan orang tua untuk menyekolahkan anaknya adalah untuk ‘keberlangsungan hidup’ anak terutama dalam menopang perekonomiannya kelak. Indikasinya kita lihat hanya sedikit dari orang tua yang mau dan mampu untuk menyekolahkan si anak setinggi- tingginya. Walaupun dilatarnelakangi oleh masih mahalnya pendidikan di Indonesia.

Lantas apakah persoalan ini dibiarkan saja? Tentu tidak. Masalah pengangguran bukan hanya menjadi masalah ayah atau ibu atau individu saja melainkan juga menjadi masalah Negara. Oleh karena itu diperlukan untuk mencarikan solusi terbaik untuk menyelesaikan permasalahan pengangguran ini. Diantara solusi yang penulis tawarkan adalah Pertama, ‘membenahi dunia pendidikan’. Pendidikan dapat dipastikan memiliki andil yang sangat besar dalam ‘menentukan’ masa depan seseorang. Selama ini kita ketahui pendidikan telah begitu banyak dapat ‘melahirkan’ para sarjana, namun apakah para sarjana tersebut telah dapat ‘menentukan kelanjutan hidpnya’, mendapatkan pekerjaan yang layak? Nah di sinilah kaitan dan masalahnya. Oleh Karena itu diharapkan sistem pendidikan di Indonesia tidak hanya memperhatikan keberhasilan secara kuantitasnya saja tetapi jauh dari itu yaitu kualitasnya.

Makna kualitas di sini adalah dapat menciptakan lulusan yang yang kreatif, inovatif dan memiliki mental dan skill sehingga dapat ‘melahirkan’ lulusan yang mandiri. Seperti dapat menciptakan para sarjana yang memiliki semangat kewirausahaan (entrepreneurship) atau kepemimpinan (leadership). Salah satu caranya adalah dengan ‘mengubah’ metode dalam proses belajar mengajar itu sendiri yaitu dari metode monolagis menjadi dialogis, memberikan kesempatan dan fasilatas untuk peserta didik untuk berkreasi dan berinovasi. Hal ini tentu didukung oleh sumber daya para pendidik yang juga kreatif, komunikatif serta sarana dan prasarana yang memadai. Oleh karena itu, dalam mencapai harapan ini perlunya dukungan dari berbagai macam pihak di dalamnya baik pemerintah maupun masyarakat.

Kedua, tawaran penulis adalah bagaimana untuk membangun budaya kreatif dan inovatif. Cara untuk meraihnya pertama sekali adalah dengan cara ‘membuang jauh- jauh’ sifat malas yang telah berurat berakar dalam diri para peserta didik. Membangun kharakter yang pantang menyerah, mau mencoba dan gigih serta mandiri. Penulis pikir pembentukan budaya ini sangat penting untuk menciptakan generasi yang tangguh dan berani dalam menghadapi persaingan serta tantangan yang ada. Budaya ini dapat ‘ditularkan’ melalui budaya diskusi, ajang kreatifitas yang dapat difasilitasi oleh berbagai macam pihak, baik pemerintah maupun swasta sehingga keterlibatan dari berbagai elemen bangsa ini dapat dirasakan.

Perhatian yang lebih ‘serius’ serta kepedulian dari berbagai sektor dalam bangsa dan negara ini dengan cara memikirkan serta mencari solusi kongkrit terhadap masalah pengangguran ini. Di samping dari generasi muda (warga negara) itu sendiri mau untuk berubah kearah yang lebih baik dengan cara mempersiapkan diri untuk menjadi generasi yang tangguh, mandiri serta memiliki kemampuan yang cukup dan berani untuk bersaing baik di dalam maupun luar negeri maka dengan penuh keyakinan kita sama- sama berharap dan optimis bahwa masalah pengangguran ini dapat diatasi setidaknya dikurangi. Dengan demikian negara ini akan menuju kepada pencapaian tujuan bangsa yaitu menciptakan masyarakat yang sejahtera.





Komentar : 0


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)