Sijunjung

Pasca Kecelakaan Tambang Ngalau Cigak, Warga Sijunjung Desak Pemkab Selesaikan Soal Batas Wilayah

Warta Andalas | Selasa, 28 Januari 2014 - 19:24:41 WIB | dibaca: 2958 pembaca

WARTA ANDALAS, SIJUNJUNG – Pasca kecelakaan tambang batubara di Ngalau Cigak, Jumat (24/1) yang menewaskan 5 tenaga kerjanya yang hingga hari ini, Selasa (28/1) baru satu korban yang berhasil di evakuasi sedangkan empat korban lainnya masih tertimbun dalam lubang tambang maut tersebut, Warga Nagari Bukit Bual, Kecamatan Koto VII kabupaten Sijunjung, mendesak agar pemerintah daerah Kabupaten Sijunjung segera menyelesaikan perihal kejelasan tapal batas wilayah antara Sijunjung dengan Kodya Sawahlunto.

Pasalnya, persoalan tapal batas antara Kabupaten Sijunjung dengan Kotamadya Sawahlunto sudah lama terjadi. Namun hingga kini belum ada titik temu.

Muslim, anggota DPRD Sijunjung mengatakan bahwa daerah yang mengalami musibah ledakan tambang tersebut tidak masuk kedalam wilayah Kota Sawahlunto, sebab daerah tersebut mempunyai Status Quo yang sampai saat ini belum jelas tapal batas wilayahnya antara kotamadya Sawahlunto dengan Kabupaten Sijunjung.

Menurut Muslim, permasalahan tersebut harus disikapi secara serius oleh Pemkab Sijunjung, sebab selama ini pemerintah Sijunjung tidak pernah menjadikan permasalahan tersebut sebagai permasalahan prioritas yang harus diselesaikan sesegera mungkin.

“Sebelumnya kan sudah dibahas oleh Gubernur Sumbar pada 2009 lalu, saat ledakan tambang di Ngalau Cigak Bukit Bual yang menewaskan 34 orang, bahwa persoalan tapal batas wilayah tersebut akan diselesaikan. Namun kenyataannya sampai saat ini permasalahan tersebut belum tuntas, bahkan tidak sedikit masyarakat yang menanti ujung dari persoalan tapal batas ini,” ujar Muslim.

Untuk itu, lanjut Muslim, sudah saatnya pemerintah kita mengambil tindakan tentang permasalahan tapal batas Sijunjung Dan Kota Sawahlunto biar jelas dan tidak terjadi kesimpangsiuran informasi.

“Apalagi yang menjadi korban ledakan tambang pada tahun 2009 dan 2014 ini, 90 persen korban merupakan warga kabupaten Sijunjung,” tegas Muslim.

Sementara itu, Wali Nagari Bukit Bual, Otri Wandi sepakat jika seluruh aktifitas pertambangan di perbatasan dan dalam wilayah kenagarian Bukit Bual tersebut ditutup karena tidak memberikan kontribusi bagi warga sekitar serta tidak mempedulikan pembangunan struktur dan infrastruktur di Nagari mereka.

Padahal, kata Otri Wandi, perusahaan batu bara yang beroperasi diperkirakan bisa meraup keuntungan hingga ratusan miliaran rupiah.

Selain mendesak pemerintah daerah kabupaten Sijunjung untuk sesegera mungkin menyelesaikan tapal batas wilayah, ia juga menegaskan bahwa jika pemerintah daerah tidak sanggup untuk menyelesaikan persoalan tersebut, maka sebagai pemerintahan terkecil, dirinya dan warga Bukit Bual siap bergabung dengan Kotamadya Sawahlunto dan meninggalkan Kabupaten Sijunjung.

“Kalau pemkab Sijunjung tidak sanggup atau tidak mampu untuk menyelesaikan tapal batas wilayah Sijunjung dengan Sawahlunto, kita siap kok untuk bergabung dengan Kotamadya Sawahlunto dan meninggalkan Kabupaten Sijunjung,”tegasnya. (gy)

 

 

 





Komentar : 0


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)