Solok

Nasrul Abit: 5000 Nelayan Bergantung Hidup di Danau Singkarak

Warta Andalas | Sabtu, 22 Juni 2019 - 07:33:29 WIB | dibaca: 366 pembaca

WARTA ANDALAS, SOLOK - Saat ini ada sekitar 5.000 nelayan tradisional secara keseluruhan yang menggantungkan hidupnya kepada Danau Singkarak. Jika bagan terus menerus dipasang tentu akan memusnahkan ikan bilih (ikan khas danau Singkarak) dan berdampak besar akan perekonomian nelayan tersebut.

Hal ini disampaikan Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit disela-sela kegiatan melepas 20.000 ekor benih ikan di Danau Singkarak, Jumat (21/6/2019).

Wagub Nasrul Abit berharap Danau Singkarak tidak seperti Danau Maninjau, yang saat ini tidak kondusif lagi dalam usaha karamba perikanan.

"Danau Maninjau tidak kondusif lagi karena jumlah kerambanya sekitar 21.000, sementara kapasitasnya hanya sekitar 6.000. Untuk itu kita minta pengguna bagan dan seluruh komponen masyarakat disekitar Danau Singkarak sadar, bagaimana bersama-sama menjaga danau ini, tetap produktif dan sehat dengan menyelamatkan keberadaan ikan bilih tidak musnah" himbau Wagub.

Selain itu, Wagub Nasrul Abit juga menyinggung tentang tata ruang yang ada disekitar Danau Singkarak agar di tata kembali untuk lebih baik.

" Jangan ada lagi tambahan bangunan pinggir danau Singakarak yang indah ini. Jika dipenuhi bangunan dipinggir danau, maka nantinya akan menutup anugrah keindahan pemandangan ke arah danau" sebutnya.

Nasrul Abit juga katakan, guna mewujudkan peningkatan kunjungan wisata ke danau Singkarak, kita perlu secara bersama-sama, tidak ada penertiban secara paksa, tapi kita inginkan kesadaran masyarakat menata tata ruang ini agar lebih hidup dan menarik.

Sementara itu Kadis Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumbar katakan, dengan dilepasnya 20.000 bibit ikan bertujuannya untuk meningkatkan populasi ikan asli Danau Singkarak yang kini mulai berkurang.

"Yang kita restocking adalah ikan ikan lokal asli Danau Singkarak. Selain itu kita juga sudah berhasil menetaskan ikan bilih yang kini sedang kita besarkan di hachery Singkarak" jelasnya.

Yosmeri sampaikan, kondisi saat ini kita prihatin atas keberadaan semakin langka nya ikan bilih di danau Singkarak. Saat ini UPTD KKP Sumbar sudah bisa melakukan pemijahan ikan bilih dengan dilakukan uji coba sebanyak dua kali.

"Dengan demikian, nantinya kita bisa menyebarkan bilih lebih banyak lagi guna mengantisipasi kepunahan ikan bilih yang mulai langka," ujarnya.

Jenis benih ikan yang dilepas adalah paweh dan asem.

Yosmeri tegaskan juga akan dilaksanakan razia bagan di Danau Singkarak dengan melibatkan Pemprov Sumbar, Pemda Solok, Tanah Datar, Polsek, Danramil, Camat, Walinagari yang ada disekitar danau Singakarak ini.

"Razia ini merupakan sebuah upaya dalam menjaga kelestarian ikan bilih yang mulai punah karena menggunakan alat tangkap terlarang yaitu bagan. Hal tersebut sesuai dengan Keputusan Gubernur Sumbar nomor 81 tahun 2017 tentang penggunaan alat dan bahan penangkapan ikan di perairan Danau Singkarak." ucapnya. (zd)





Komentar : 0


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)