Opini

Oleh: Esvidel Syukur, S.Pd

Minum Darah Makan Mayat

Warta Andalas | Minggu, 12 Januari 2014 - 12:52:31 WIB | dibaca: 1242 pembaca

Musibah adalah kehendak Allah SWT. Langkah ,rezeki,jodoh maut semua telah di atur olehnya. Kita sebagai manusia hanya menjalankannya saja. Tidak ada manusia di atas dunia ini yang menghendaki terjadinya musibah. Tetapi bila terjadi suatu musibah seperti peristiwa kecelakaan, rakyat kecil sangat merasakan betapa sulitnya mengurus surat yang diperlukan untuk proses mengeluaran kendaraan dari kantor yang berwenang dan surat BAP untuk proses pengambilan asuransi.

Setiap terjadi peristiwa kecelakaan lalu lintas maka pihak yang berwajib harus memprosesnya sesuai undang-undang yang berlaku. Akan tetapi bila kecelakaan terjadi bagi masyarakat kelas bawah, maka prosesnya begitu rumit sekali. Masyarakat harus mengeluarkan biaya yang sangat mahal untuk mengeluarkan kendaraan dari kantor yang berwenang. Jangankan peristiwa kecelakaan dengan kendaraan lain, jatuh sendiri saja harus mengeluarkan biaya yang diminta oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Beberapa tahun yang lalu mobil angkutan penumpang milik saya ditabrak oleh seorang anak muda yang mengendarai sepeda motor. Anak muda tersebut waktu mengendarai sepeda motornya lupa menaikkan standar mungkin karena terburu waktu untuk pergi bekerja. Malang tak dapat ditolak ,mujur tak dapat diraih, anak muda tersebut meninggal dunia dalam perawatan di rumah sakit. Sebagai pemilik kendaraan saya sudah bertanggung jawab membantu membiayai perawatan dirumah sakit dan biaya ambulan membawa jenazah kerumah duka.

Dalam pertemuan saya dengan orang tua korban kami sepakat untuk menempuh jalan perdamaian. Maka dibuatlah surat perjanjian perdamaian di atas materai yang kami tanda tangani di depan wali nagari tempat peristiwa kecelakaan terjadi. Karena kami telah sepakat untuk berdamai, saya berusaha membantu orang tua korban untuk mengurus asuransi dari kantor jasa raharja. Maka sekitar 3 hari kemudian alhamdulilah uang santunan dari jasa raharja telah dapat dicairkan.

Alangkah terkejutnya saya mendengar keterangan dari orang tua korban bahwa uang santunan dari asuransi jasa raharja tersebut diminta oleh seorang oknum sebanyak 2 juta yang katanya untuk memperbaiki pagar di kantor oknum tersebut. Masya Allah pada saat ini dimana petugas yang berkompeten telah menerima penghasilan yang sudah begitu tinggi masih ada oknum yang tega meminta uang dari orang tua korban yang sudah meninggal dunia .

Dua hari setelah uang asuransi korban cair saya pergi ke kantor yang berwenang untuk mengurus mengeluarkan sopir dan kendaraan yang titahan oleh pihak berwajib. Dalam pembicaraan saya dengan oknum yang berwenang, saya harus mengeluarkan uang yang jumlahnya tidak dapat saya bayangkan sebelumnya. Darimana saya harus mendapatkan uang sebanyak itu, padahal pendapatan mobil angkutan tersebut hanya berkisar sekitar 1,5 jt bersih perbulan. Oknum tersebut meminta uang komando sekitar 5 kali penghasilan bersih tiap bulan, yang katanya perintah atasan.

Karena saya tidak sanggup untuk membayar sebanyak itu, akhirnya saya berusaha menemui pimpinan instansi tersebut. Karena mobil saya masih dalam proses hutang di bank, maka saya hanya sanggup mengeluarkan uang sekitar 1 jt yang saya serahkan langsung kepada pimpinan instansi tersebut sebagai uang komando. Saya terpaksa membayar karena harus bertanggung jawab terhadap sopir yang telah bekerja membawa mobil saya lebih kurang 1,5 tahun, dan rasanya tidak bersalah dalam kecelakaan itu.

Melalui tulisan ini kita berharap pihak yang berwenang untuk bekerja secara professional, karena sudah mendapat penghasilan yang tinggi. Mereka para korban kecelakaan sudah sangat menderita karena telah kehilangan harta bahkan nyawa. Tindakan oknum yang tidak bertanggung jawab di atas seumpama minum darah dan makan mayat dari korban kecelakaan lalu lintas. Janganlah di tambah lagi penderitaan mereka yang ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula. Semoga. (**)





Komentar : 0


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)