Lismomon

Oleh:Lismomon Nata, S.Pd

Minangkabau ‘Dunia’ Dialektika

Warta Andalas | Selasa, 07 Januari 2014 - 11:13:01 WIB | dibaca: 2361 pembaca

Banyak sejarah yang belum ‘terkuak’ pada negara jamrud khatulistiwa ini, padahal jika kita sadari bersama bahwa sejarah bukanlah sebuah misteri yang harus dibungkus dan dibiarkan begitu saja karena begitu banyak hikmah dan pelajaran yang dapat kita petik di dalamnya. Salah satunya adalah dengan ‘lahirnya’ para pendiri bangsa dan Negara Indonesia yaitu lahirnya tokoh- tokoh bangsa yang siap untuk rela berkorban demi tanah air tanpa pamrih. Semangat petriotisme yang telah mengantarkan bangsa Indonesia pada pintu gerbang kemerdekaan dan kita nikmati saat sekarang ini.

Namun, sangat disayangkan, karena pada saat ini asumsi penulis menyatakan bahwa hanya sedikit dari rakyat Indonesia yang mengetahui perjalanan panjang dari begitu banyak tokoh bangsa Indoensia terkhusunya itu terjadi bagi generasi muda Indonesia, sehingga seakan- akan generasi bangsa telah banyak yang lupa serta kehilangan panutan dalam bersikap dan bertindak. Para pahlawan seakan- akan hanya tinggal nama saja dan terlupakan sehingga banyak yang telah melupakan sejarah.

Kenyataannya dapat kita lihat, hanya sedikit dan bahkan jarang dari kita yang memperbincangkan, mendiskusikan, membaca biografi atau setidaknya mengetahui secara ‘percis’ seperti apakah figur dari para pahlawan tersebut atau sekedar mengetahui cerita dan

kisah para tokoh, hanya sedikit saja yang peduli. Misalnya, hanya sedikit dari kita mengetahui bagaimanakah ketika mereka berbicara, berdiskusi dan segala macam bentuk tindak- tanduk mereka dalam keseharian ataupun dengan buah pemikiranya. Sangat sulit untuk kita menemukan film- film atau berupa tulisan yang menceritakan itu semua karena telah kalah pamor dengan roman picisan dan cerita sinetron yang ditayangkan di televisi.

Sumatera Barat sebagai salah satu bagian dari wilayah kesatuan Indonesia telah mencatat banyak sejarah. Masyarakat yang nota benenya merupakan masyarakat Minangkabau. Sejarah mencatat pada tahun 30-an cukup banyak melahirkan tokoh- tokoh bangsa. Diantaranya adalah dengan cukup banyak para tokoh bahkan salah seorang  founding fathers yaitu Mohammad Hatta serta tokoh- tokoh lainnya seperti Tan Malaka, H. Agus Salim, Sutan Sjahrir, Buya Hamka.

Namun pada sisi lain, mungkin ada benarnya apa yang diungkapkan oleh Jeffrey Hadler bahwa atas pengalaman yang ia dapatkan ketika ‘bertandang’ ke Jakarta dan tinggal dengan satu keluarga Minangkabau Mandailiang di sana, serta setelah membaca karya- karya intelektual kaum muda dan novelis- novelis Balai Pustaka  menyimpulkan bahwa adat Minangkabau itu bersifat menindas, desa- desa Minangkabau bagaikan cangkang- cangkang kosong tradisionalisme, dari kedua- duanya orang perlu melarikan diri. Nyatanya, pengalaman lain mengungkapkan ranah Minang merupakan ‘tanah’ tempat terjadinya ‘Sengketa Tiada Putus’ ungkap Hadler, sama persis dengan judul karyanya. Hadler menggungkapkan bahwa ranah Minang di era 30-an tersebut dapat menjadi ‘produsen otak’ karena dua pengaruh faktor yaitu Rumah Gadang dan keluarga.

Dalam kesempatan ini, saya mencoba untuk menwarkan perspektif lain terhadap pertanyaan yang membuat Hadler ‘penasaran’ atas pertanyaannya, yaitu ‘mengapa Minangkabau dapat melahirkan banyak tokoh (orang cerdas) ?’ yaitu dengan perspektif geneologis dan pengaruh sejarah hidup serta lingkungan dimana manusia tersebut dibesarkan. Dua tokoh yang akan saya analisis adalah Mohammad Hatta (Bung Hatta) dan Tan Malaka. Mohammad Hatta kelahiran Bukittinggi 12 Agustus 1902. John Ingleson berpendapat bahwa dibandingkan dengan Soekarno, Sutan Sjahrir dan Muhammad Natsir, untuk Bung Hatta mendapat perhatian tersendiri dibandingkan pemikir dan pejuang di atas.

Lebih lajut Ingleson mengungkapkan alasan tersebut dikarenakan Bung Hatta tidak seperti Soekarno yang hangat dan flamboyan atau Tan Malaka yang radikal dan kontraversional. Hatta adalah tipe pemimpin yang dingin dan sederhana sehingga tidak mudah menarik perhatian orang lain untuk mengamati dan membicarakannya. Akibatnya kepribadian dan pemikirannya belum banyak diketahui oleh masyarakat umum. Disamping itu John Ingleson melanjutkan bahwa Hatta memiliki cita- cita dan konsepsi yang jelas tentang bagaimana Indonesia merdeka, Hatta adalah sosok pejuang yang hampir seluruh perhatiannya dicurahkan bagi Indonesia yang makmur dan adil, walaupun sebagian dari cita- citanya tidak menjadi kenyataan (John Ingleson.1982. Hal 61).

Dimana Bung Hatta adalah sosok yang memiliki kharakter yang tenang, berwibawa, sederhana, bersahaja, sedikit berbicara, tetapi banyak berfikir dan bekerja. Mungkin sangat jarang kita temui sosok seperti beliau di zaman sekarang ini. Hal inilah yang menarik penulis untuk mencoba menganalisis sosok Bung Hatta yaitu dalam perspektif genealogis tersebut,  pertama, penulis mengamati dan menganalisis dari tabiat tokoh yang bernama kecil Muhammad Athar yang cendrung pendiam, ‘kalem’, berwibawa, disiplin namun memilki sikap yang tegas dan berani dalam mengambil sikap dan bertindak.

Secara historis penulis berfikir bahwa faktor yang membentuk kharakter Bung Hatta terlihat seperti itu diantaranya disebabkan oleh sejarah hidup yang dialaminya semenjak kecil. Meninggalnya ayah beliau yaitu Haji Mohammad Djamil sewaktu masih berumur delapan bulan. Dimana Bung Hatta adalah satu- satunya anak laki- laki dengan enam saudara perempuan. Dengan demikian Bung Hatta dibesarkan oleh ibu dan ayah tirinya Haji Ning (Mas Agung Haji Ning) yaitu seorang Saudagar dari Palembang yang sukses dan terpandang serta keturunan ke tujuh dari Pangeran Sidang Bajak Palembang (Wawan Tunggal Alam. 2003. hal. 45).

Dapat dirasakan bagaimana perasaan seorang anak yang masih kecil ditinggal ayah. Namun, di sisi lain menguntungkan bagi Hatta yang dibesarkan oleh ayah seorang saudagar yang berada membuat Hatta dapat mengenyam pendidikan yang tinggi tersebab masalah materi tidak menjadi suatu hambatan baginya, ditambah dengan dukungan yang kuat dari keluarga dikala itu.

Bung Hatta menempuh pendidikan dasar di Sekolah Melayu Fort de Kock dan pada tahun 1913- 1916 kemudian melanjutkan studinya ke Europeesche Lagere School (ELS) di Padang. Saat usia 13 tahun, sebenarnya ia telah lulus ujian masuk ke HBS (setingkat SMA) di Batavia (kini Jakarta), namun ibunya menginginkan Hatta agar tetap di Padang, mengingat usianya yang masih muda. Akhirnya Bung Hatta melanjutkan studi ke MULO Padang. Pada tahun 1919 ia pergi ke Batavia untuk studi di Sekolah Tinggi Dagang Prins Hendrik School.

Di sana beliau tinggal dengan saudara laki- laki ibunya yang juga hobi membaca. Ia menyelesaikan studinya dengan hasil sangat baik, tahun 1921 Bung Hatta pergi ke Roterdam, Belanda untuk belajar ilmu perdagangan atau bisnis di Nederland Handelshogeschool. Di Belanda, Bung Hatta kemudian tinggal selama sebelas tahun. Waktu- waktu yang telah dilalui Bung Hatta dalam proses pertumbuhan mulai dari masa kecil hingga masa studinya itulah yang membentuk watak Bung Hatta menjadi seseorang yang banyak melakukan perenungan dan menjadi seseorang yang memiliki kepribadian yang matang.

Hal lain yang menarik dari perjalanan hidup Bung Hatta dalam ‘menempa’ dirinya diantaranya adalah ketika beliau dalam menjalankan studinya, beliau juga meluangkan waktu untuk berorganisasi, diawali dengan bergabung dalam Jong Sumatranen Bond. Disini dapat kita lihat bahwa Bung Hatta bukalah tipical manusia oportunis, dan mementingkan diri sendiri tetapi berjiwa sosial sehingga mendorong Bung Hatta untuk memikirkan bangsanya yang ketika itu dijajah oleh Belanda.

“Angkatan muda Indonesia sejak dari kecil betapa mereka secara nasional dan rasial diterbelakangkan. Sudah sejak Sekolah Rendah mereka merasakan pukulan dari pertentangan kolonial dan rasial. Ini bukan mereka mempelajari dari buku- buku ilmiah, ini mereka rasakan pada kulit mereka sendiri. Pada kulit mereka terasa pertentangan yang tajam antara kaum kulit putih dan kulit berwarna, antara kaum penjajah dan yang dijajah’

(Mohammad Hatta.1998. hal 87).

Pembuktian lebih lanjut terhadap kepedulian Bung Hatta atas keadaan negara dan warga yang dicintainya dapat kita lihat dengan niat beliau yang tidak akan menikah sebelum Indonesia menjadi negara yang merdeka. Suatu keyakinan yang teguh yang selalu beliau pegang dengan erat. Ajaran akan suatu prinsip untuk berpegang teguh dengan suatu keyakinan yang beliau

pegang terbentuk bukan saja proses pendewasaan yang beliau dapatkan dari hasil pembelajarannya, dari apa yang beliau baca tetapi juga adalah suatu gen dari ayah dan kakek seorang ulama di Sumtera Barat yaitu keturunan anak Syekh Batu Hampar. Aliran darah yang mengalir dalam tubuh Hatta ‘mendidihkan’ semangat yang teguh dalam dirinya untuk memiliki prinsip dalam kehidupannya. Di samping itu pengaruh ajaran agama Islam yang beliau yakini memberikan spirit yang luar biasa dalam membentuk kharakter Hatta.

Faktor nilai religiusitas yang tertanam kuat itu jugalah yang menjadi pendorong Hatta menjadi manusia yang peduli dan memiliki nilai- nilai sosial yang tinggi dalam kehidupannya. Anak beliau Meutia Hatta swasno mengungkapkan tentang ketaatan beribadah Hatta “Ayah sangat taat menjalankan semua kewajiban agamanya, meskipun sedang sakit sembahyang 5 waktu tetap dilakukan, bahkan walaupun agama Islam memberikan keringanan bagi ummatnya yang sedang sakit untuk melaksanakan sholat dalam posisi duduk (tanpa sujud) beliau tidak mau menggunakan cara ini kalau tidak karena terpaksa (Meutia Farida Swasno.1980. hal 5556).

Keyakinan dan prinsip itu yang tertanam dalam diri Bung Hatta mendorong dan menghasilkan banyak buah pikiran yang ‘menuntutnya’ untuk menjadi seorang anak bangsa

yang peduli dan mau memikirkan Bangsa dan Negaranya dalam upaya mencapai tanah airnya

menjadi Negara yang merdeka. Tanggung jawab yang besar di pundaknya telah mengantarkan Bung Hatta melanglang buana bersama tokoh- tokoh bangsa lainnya untuk ‘mengkampanyekan’ Indonesia pada dunia Internasional. Mediumnya dilakukan secara diplomatis, baik dalam seminar- seminar, kongres, maupun melalui tulisan- tulisan sebagai buah bentuk hasil pemikirannya. Tulisan- tulisan itu beliau anggap sebagai strategi dari perjuangan dalam mencerahkan saudara setanah airnya serta untuk menanamkan semagat nasionalisme dan patriotisme.

Perjuangan Hatta dalam membangun Negara Indonesia tidak hanya berhenti hingga Indonesia merdeka saja, pasca kolonialpun perjuangan Hatta masih berlanjut. Contohnya saja, Hatta telah berusaha untuk menegakan dan membela hak- hak dasar demokrasi berupa jaminan terhadap kebebasan mengeluarkan pendapat secara lisan dan tertulis, hak berkumpul dan berserikat untuk mencegah negara kekuasaan. Perjuangan inilah yang membuahkan hasil dalam pasal 28 UUD 1945.

Dalam memperjuangkan hak- hak dasar ini Hatta didukung oleh M. Yamin melawan Soekarno yang didukung oleh Soepomo yang menentang dimasukannya hak- hak dasar tersebut (Frans Magnis Soseno.1995. Hal 9). Pemikiran serupa juga diungkapkan Norcolish Madjid bahwa Bung Hatta bagi banyak kalangan dianggap sebagai peletak dasar konsep keadilan, keterbukaan dan demokrasi (Dalam Zulfikri Sulaiman. 2010).

Jika kita bandingkan dengan Tan Malaka, maka kita akan berbanding terbalik dengan kharakter Hatta. Seperti halnya yang diungkapkan oleh Ingleson di atas bahwa Tan Malaka yang radikal dan kontraversional. Banyak sudah tulisan, karya- karya yang menerangkan terhadap ‘unik’ dan ‘pola perjuangan’ yang dilakukan oleh Tan Malaka yang bernama kecil Ibrahim dan tentu lebih ‘berbobot’ ketimbang saya yang masih baru belajar tentang Tan Malaka.

Namun dalam sumbangsih pemikiran saya, ketika dilihat secara geneologis dan perjalanan hidup Tan Malaka tentu sangat berbeda dengan Bung Hatta. Dimana Tan Malaka dibesarkan dalam lingkungan adat, kaum, rumah gadang, lingkungan matrilineal, berbeda dengan Hatta yang berada pada keluarga inti (nuklear), hingga ia sendiri menyandang gelar Datuak Tan Malaka. Demikian juga dengan tempat tinggal Tan Malaka dibesarkan (lingkungan alam) adalah tempat yang jauh dari sifat ‘kekotaan’ (natural), berbukit terjal, jauh dari sifat kemajuan (tertinggal secara pembangunan).

Dengan demikian, tentu Tan Malaka lebih banyak melihat, menimbang, berdialektika, dan bersentuh langsung dengan hal- hal yang bersifat aturan adat Minangkabau dibandingkan Bung Hatta.  Jika ‘dunia’ Minangkabau ‘dipercaya’ yang telah melahirkan tokoh- tokoh, pemikir- pemikir yang tidak hanya berkelas nasional bahkan nasional, dalam pandangan Giddens tentu adat dan alam Minangkabau yang awalnya merupakan struktur sosial yang constaining (memaksa, mengikat, merintangi) dan Giddens menganggap manusia adalah individu yang aktif, kreatif (agen), maka ia akan dapat memanfaatkan kondisi tersebut (enabling), berdialektika, berfikir, dan berfikir, sehingga dapat menjadi manusia yang mampu bertahan hidup, memiliki ide, sehingga tantangan hidup ‘seberat apapun’ akan terlihat ‘mudah untuk ia atasi.  Nah, pertanyaan sekarang ini, ‘apakah Minangkabau masih melahirkan tokoh, pemikir di negara ini?’ tentu kajian yang menarik untuk dibicarakan, dan didiskusikan dalam topik berikutnya. (**)

 





Komentar : 0


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)