Opini

Catatan Perjalanan Denny JA

Menuju Negara Bahagia, Memerlukan Kata Baru

Warta Andalas | Kamis, 15 Agustus 2019 - 21:17:25 WIB | dibaca: 142 pembaca

Bulan Juni 2017, kamus bahasa Inggris Oxford memperkenalkan kosa kata baru. Kata ini menjadi istimewa karena menggambarkan berubahnya paradigma pembangunan.

Kata itu dalam bahasa Inggris disebut  Hyggae. Ia bisa berbentuk kata benda, kata sifat ataupun kata kerja. Dapat pula kata itu diperluas merujuk pada suasana tempat yang disebut Hyggaelige (Hyggae-like).

Tak ada kata padanan yang tepat untuk arti kata itu dalam bahasa Inggris. Kurang lebih, kata itu menggambarkan kebersamaan dan kebahagian di ruang publik. Semacam kehangatan antar warga negara. Atau kenikmatan berteman, berkomunitas, berkumpul bersama. Atau pergaulan sehari-hari yang menyenangkan. Sejenis keindahan relasi sosial, social flow.

Bukan kebetulan jika kata ini memang berasal dari negara Denmark dan Norwegia. Kata Hyggae cukup berakar panjang di sana.  Yang menarik adalah asal usul kata itu sehingga kini diadopsi oleh kamus besar Oxfrord.

Setiap tahun, Denmark dan Negara Skandinavia memperoleh rangking tertinggi sebagai negara paling bahagia. Tak nanggung, ini ranking yang dibuat oleh lembaga PBB sendiri, dengan melibatkan banyak ahli interdisiplin.

Salah satup penyebab karena di Denmark tumbuhnya keakraban, social trust, warga negara yang intens. Mereka menyebutnya dalam satu kata: Hyggae.

Tahun 2011, PBB selaku lembaga dunia mencari cara mengukur kemajuan sebuah negara. Kualitas aneka negara di dunia perlu diukur setiap tahun, diperbandingkan dan dilihat kemajuannya. Tak lain, informasi ini berguna untuk pembelajaran dan evaluasi.

Mengukur kemajuan negara semata dari ukuran ekonomi, kesejahteraan ekonomi, seperti GDP, GNP, GDP per kapita, tak lagi memadai. Tugas negara tak hanya membangunan ekonomi, tapi menumbuhkan dan membuat bahagia warga negara.

Disusunlah kriteria baru yang disebut World Happiness Index: Indeks kebahagian sebuah negara. Para ahli berkumpul dari aneka disiplin memastikan apa saja kriteria penting yang harus dinilai. Bagaimana pula cara mengukur yang valid dan reliable aneka variabel itu agar dapat diperbandingkan antar negara.

Kesejahteraan ekonomi tetap menjadi variabel penting. GDP per kapita yang tinggi dari sebuah negara tetap diperlukan sebagai basis kenyamanan hidup. Kualitas pemerintahan juga penting. Pemerintahan yang bersih dari korupsi, yang memberikan perlindungan kebebasan bagi warga negara, yang memberikan program kesejahteraan jangan dilupakan.

Namun penting juga mengukur persepsi warga negara sendiri: apakah mereka  merasa bahagia? Apakah mereka merasa warga saling membantu dan saling percaya? Apakah mereka merasa kesehatan, pendidikan, bahkan ketika menganggur, kehidupan juga terjamin? Terasakah oleh mereka rasa bebas memilih gaya hidupnya sendiri sejauh itu bukan kriminal?

Segala variabel itu dikuantifikasi agar dapat diperbandingkan. Karena banyak variabel, dibuatlah indeks dengan memberi bobot pada setiap variabel. Seluruh negara di dunia dapat diperbandingkan dan dibuat rangking karena ada skor kuantitatif. Lahirlah list World Happiness Index sejak tahun 2012. Kini setiap tahun, list itu diperbaharui.

Hasilnya pun mencengangkan. Negara yang dianggap paling maju diukur oleh World Happiness Index bukan super power Amerika Serikat. Bukan pula super power Cina. Bukan pula super power Rusia

Negara yang dianggap paling maju dengan ukuran baru World Happiness Index justru negara seperti Denmark, Norwegia, Finlandia.

Para ahli menelusuri ada apa di negara itu? Dari survei global, warga negara setempat memang merasa sangat bahagia. Skor kebahagiaannya (self claim) dalam survei global memang paling tinggi.

Apa yang membuat bahagia? Ekonomi terjamin. Kesehatan terjamin. Pendidikan terjamin. Kebebasan terjamin. Bagaimana dengan Pemerintahan? Terasa pemerintahan memang  bersih dan bekerja. Apa lagi?

Jangan lupa: keakraban warga negara! Ialah suasana intensitas, kehangatan, kebebasan dan saling percaya antar warga negara. Itulah Hyggae!

Tahun 2012 saya berkunjung ke Denmark. Saya mengunjungi patung putri duyung karya penulis dongeng anak anak HC Anderson. Juga saya datang ke museumnya. Itulah awalnya yang paling dipromosikan agen tour: Denmark negeri HC Anderson.

Tapi yang paling berkesan bagi saya justru taman publik di Coppenhagen, Freddreickbergh Garden. Itu area taman seluas 31 hektar. Taman itu berdiri sejak abad ke 17, sekitar 400 tahun lalu. Itu area untuk publik. Siapapun dapat datang ke sana secara gratis.

Di samping pemandangannya yang indah, danau, burung terbang, rumput hijau luas tertata, terasa pula kehangatan dan rasa nyaman warga negara.

Ada area remaja bermain biola dan bernyanyi. Di depannya, ia letakkan kaleng, bagi siapapun yang secara sukarela ingin menyumbang dana. Ada pula kerumuman. Yang hadir boleh ikut menari, berdansa. Suara musik bercampur dengan tawa yang riang.

Ada area, para ibu meletakkan bayi seumur mungkin kurang dari setahun, dalam keranjang dorong beroda. Ada sekitar 5 bocah cilik. Mereka diletakkan begitu saja berjemur sinar matahari. Sementara ibu dan bapaknya bercakap di tempat lain agak jauh.

“Waduh,” ujar saya dalam hati. “Para orang tua ini begitu nyaman meletakkan bocahnya di sini. Mereka tak takut bayinya diculik, dan sebagainya.”

Di aneka spot, banyak kumpulan terpisah. Mungkin satu keluarga. Atau satu komunitas. Mereka menghabiskan waktu bersama, tertawa, bergurau.

Angin sepoi bertiup. Burung terbang di sini dan di sana.

Dengan kaca mata tahun 2019, saya mengingat peristiwa itu. Mungkin inilah gambaran dari kosa kata Hyggae itu: perjumpaan intens warga negara yang akrab.

Pemandu tour bercerita. Hidupnya nyaman di Denmark. Ia mendapatkan asuransi tak hanya kesehatan, pendidikan hingga universitas. Ia juga mempunyai jaminan hari tua. Bahkan jika menganggur, ada tunjungan bagi pengangguran.

Mereka pun ikhlas, pajak yang harus dibayar sangat tinggi; sekitar 30-50 persen dari penghasilan. “Gaji bulanan saya,” ujarnya, “separuh dibayarkan ke pajak.” Namun ia  tahu. Uang itu digunakan untuk aneka program kesejahteraan.

Publik juga dibebaskan dengan keyakinannya. Yang penting tidak melakukan tindakan kriminal. Mereka boleh beragama ataupun tidak, hetroseksual atau LGBT, itu urusan diri mereka pribadi. Yang penting jangan saling memaksakan

Denmark, Swedia, Finlandia, Norwegia, acapkali disebut sebagai Welfare States. Ini negara yang mengkombinasikan demokrasi politik, kapitalisme ekonomi, namun dengan peran negara yang besar untuk program kesejahteraan. Pajak sangat tinggi untuk membiayai program kesejahteraan itu.

Sejak tahun 1960an, ketika dunia terbagi antara blok kapitalisme versus komunisme, welfare state menjadi bentuk kompromi. Negara ini mengambil elemen kebebasan ekonomi dan demokrasi politik dari blok kapitalisme. Tapi negara ini juga mengambil aspirasi keadilan ekonomi dari blok komunisme tapi dimodifikasi menjadi program kesejahteraan.

Dalam evolusinya, negara kesejahteran juga menumbuhkan social trust yang tinggi. Hadir pula genereousity, tumbuhnya kultur berbagi, berderma.   Kamus Oxford merekam batin kebahagiaan masyarakat Denmark dalam sebuah kosa kata baru: Hyggae.

Semoga yang direkam tak hanya kosa kata baru dalam sebuah kamus dunia. Tapi keakraban dan kehangan antar warga negara itu juga menyebar dan menjadi kultur baru dunia. *

Agustus 2019





Komentar : 0


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)