Opini

Oleh: Denni Meilizon

Mengulik Kelahiran Buku-Buku Bermutu dari Rahim Penerbit Alternatif

Warta Andalas | Jumat, 24 November 2017 - 13:24:09 WIB | dibaca: 90 pembaca

Walaupun Hujan terus saja jatuh dengan lebatnya, tetapi tidaklah menjadi pengurung langkah para pengunjung memenuhi ruang duduk di Gubuk Coffee pada jelang malam, ujung hari Kamis 23 November 2017 itu. Café itu terbilang baru untuk kota Padang, mengambil tempat di pinggiran sungai Batang Kuranji tepat di bawah sebuah jembatan yang membentang di atas sungai yang airnya selalu menguning tersebut.

Pada malam itu, terlihat ada yang berbeda dari biasanya. Ramainya aktifitas di sana agaknya bukan saja di isi oleh pelanggan tetap saja melainkan juga kehadiran wajah-wajah baru sebagai undangan dari sebuah acara yang diketahui kemudian dihelat oleh Penerbit Rumahkayu Pustaka Utama bekerjasama dengan Lini Buku serta pendukung acara lainnya, bertajuk “Bicara Soal Penulisan, Penerbitan Alternatif dan Hal Lain-Lain” dengan menghadirkan pemantik diskusi dari Goodreads Indonesia, Aldo Zirsov.

Pria kelahiran Bayang Pesisir Selatan itu memang didapuk sebagai pembicara, didampingi oleh Alizar Tanjung sebagai moderator. Alizar Tanjung, penyair sekaligus inisiator program Literatur Indonesia (LINI) merancang sebuah wadah baru yang malam itu perdana membuka ruang yang bakal secara berkelanjutan saban bulan dalam acara berformat sama dengan mengusung tema yang berbeda. Sedangkan Aldo Zirsov sendiri memperkenalkan diri sebagai seorang pembaca dan pecinta buku (book aficionado). Ia aktif di dunia literasi dan selama 2 tahun sebagai moderator komunitas Goodreads Indonesia. Tamatan SMA 1 Padang sekaligus lulusan Akuntansi Universitas Andalas Padang lalu memperoleh gelar Master dari Universitas of Denfer Colorado USA itu rupanya didapuk mendapat kehormatan sebab menjadi narasumber pertama dalam kegiatan program Literatur Indonesia (LINI) ini.

Ada banyak hal yang disampaikan oleh Aldo Zirsov terkait dunia penerbitan dewasa ini. Mengelola penerbitan alternatif, demikian tukasnya merupakan upaya untuk membuka kesempatan bekerja bagi orang-orang kreatif di bidang perbukuan, membuka peluang guna memindahkan karya cipta yang bersumber dari alam pikiran seseorang kepada media yang secara bersama maupun personal dapat diakses oleh khalayak ramai. Sebagai seorang yang tumbuh dalam keluarga pecinta buku sedari kecil, Aldo dengan lugas dan luas berbicara panjang lebar soal buku sebagai produk komersil dari penerbit dan penulis.

Pemilik nama yang pernah bikin heboh dunia perbukuan tanah air karena ditemukannya ribuan buku bekas berstempel ALDO SIRZOV pada pelbagai toko buku bekas tanah air tersebut menerangkan kepada pengunjung bahwa dunia penerbitan masa sekarang niscaya harus mampu membangun jaringan antar penerbit secara terbuka terlepas dari persaingan bisnis dan mengakrabi komunitas-komunitas guna mendukung target pasar dari produk buku-buku komersil. Pelibatan media sosial dalam promosi dan penjualan buku sudah harus diterima serta dimanfaatkan dengan lumrah. Sebab itulah, kini terbuka lebar kesempatan bagi penulis untuk menerbitkan buku sendiri, lalu mencetaknya dalam edisi dan jumlah eksemplar tertentu.  Buku dalam edisi terbatas misalnya, disarankan hanya untuk tema-tema khusus saja. Bisa saja terjadi, harga buku dengan metode demikian mungkin malah jadi mahal dan berharga sebab kelangkaan. Dengan metode tersebut, baik penerbit buku maupun penulis mesti terlibat pula dalam hal penjualan ataupun promo buku dengan level kerja yang agak keras. Penerbit pun punya peran penting bagaimana mengemas produk (buku) agar tampil beda, menarik dan dibaca.

Lebih jauh Aldo menyinggung pula soal ISBN (International Standard Book Number) yang merupakan kode pengidentifikasian buku yang bersifat unik. Informasi tentang judul, penerbit, dan kelompok penerbit tercakup dalam ISBN. ISBN terdiri dari deretan angka 13 digit, sebagai pemberi identifikasi terhadap satu judul buku yang diterbitkan oleh penerbit. Saat ini ISBN dapat diurus tanpa biaya dengan mudah melalui situs web Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. ISBN bagi sebuah buku sangatlah penting sebagai identitas pengenal buku itu. Dengan sistem penomoran resmi demikian buku dapat dikenali oleh pembaca lingkup global.

Pemilik Aldo Zirsov Library, sebuah Knowledge Center, Research dan Library yang fokus dengan buku-buku tentang Indonesia dan buku-buku humaniora itu mengait sedikit betapa fungsi seorang Editor dalam proses penyuntingan naskah juga sangat dibutuhkan dan tidak boleh diabaikan oleh sebuah lembaga penerbitan. Buku yang bagus tentu saja lahir dari tangan dingin penyunting handal yang tahu dan paham bagaimana meramu isi buku menjadi enak dibaca sekaligus ia juga membentuk karakter penulisnya. Bahkan, penulis berkaliber peraih Nobel sekalipun butuh sentuhan seorang Editor, demikian jelas Aldo yang telah mengoleksi secara pribadi hampir 26 ribu eksemplar buku dan seribuan film yang dapat diakses masyarakat luas di Jakarta itu.

Diungkapkannya kemudian bahwa pada zaman sekarang penulis mau tidak mau harus mengambil resiko mendapatkan pekerjaan tambahan sebagai penjual bukunya sendiri. Penulis harus belajar strategi promosi dengan kepandaian dapat memetakan target pasar pembaca. Salah satu caranya bisa melalui komunitas. Cara lainnya melalui media sosial dan toko buku online. Membangun hubungan timbal balik dengan periview buku, resensitor, kritikus dan apresiator buku juga harus sedia membuka peluang.

Penerbit jalur indie sejatinya juga membuka peluang bagi keragaman akan pilihan pembaca buku. Dominasi kehendak bisnis yang dikuasai oleh penerbit arus utama dalam menentukan selera bacaan agaknya sudah bukan zamannya lagi. Penguasaan pasar buku oleh penerbit besar justru dapat memenjarakan kebebasan memilih sumber bacaan dan pengetahuan bagi masyarakat dalam mengeksplorasi ide dan pemikiran. Padahal memandang masyarakat pembaca seharusnya menggunakan kacamata berbagai lensa dalam ruang yang luas dan umum, tidak dengan kacamata kuda dalam ranah dipersempit.

Tekanan kebutuhan dunia digital juga disoroti dalam diskusi malam hari itu. Di Indonesia kebutuhan akan buku disinyalir masih sebagai kebutuhan sekunder bukan kebutuhan primer. Perkembangan teknologi saat ini tak pelak sudah menjamah dunia perbukuan dengan hadirnya buku dalam format digital semacam e-book. Memandang perkembangan dunia, di Amerika sejak tahun 2004 kehadiran situs sejenis Amazon.com dan EBay telah mengubah dengan telak cara memperoleh kebutuhan terhadap buku sumber bacaan (textbook). Di Indonesia sendiri dalam tahun berselang ini, buku digital sudah menjadi hal yang lumrah. Upaya Negara secara nasional berupa gerakan yang bekerja guna mendekatkan buku kepada masyarakat memasukkan program digitalisasi format buku bacaan wajib (textbook) sekolah maupun perguruan tinggi ke dalam salah satu layanannya. Namun, masih menurut Aldo Zirsov, khusus buku-buku fiksi sendiri agaknya masih stabil. Antara digital maupun kebutuhan buku cetak masih sama-sama berterima dan mendapat tempat.

Pada sesi akhir diskusi dapat disimpulkan bahwa masyarakat Sumatera Barat harus merasakan nikmatnya kemewahan yang ditawarkan ketika membaca sebuah buku. Di lain pihak, harus ada upaya nyata untuk membangunkan kembali penerbit-penerbit buku yang besar dan diperhitungkan oleh masyarakat, terutama dari kalangan industri kreatif dan pengusaha dunia perbukuan di Sumatera Barat. Jangan terlena dengan hingar bingar persaingan usaha dan kemudahan menerbitkan buku yang saat ini masih berkiblat ke tanah Jawa.

Alizar Tanjung sebagai inisiator LINI yang menjadi penaja kegiatan ini mengajak masyarakat Sumatera Barat umumnya dan kota Padang khususnya dapat bergabung mengisi ruang diskusi dan ruang pemikiran dalam bincang berformat sejenis pada bulan Desember 2017 mendatang maupun pada bulan-bulan selanjutnya di tahun 2018. Sepanjang acara, terlihat antusiasme pengunjung dan undangan yang membuat suasana segar dan hidup.

Hujan agaknya belumlah benar-benar reda. Jalanan berbagai sudut kota sudah mulai digenangi air sebagaimana biasanya di kota Bingkuang ini. Debur sungai Batang Kuranji gemuruh menghantam bendungan buatan dalam balutan pekat malam. Hari semakin larut tetapi Gubuk Coffee masih saja ramai. Café yang tutup tepat pukul 00.00 WIB itu biasanya memang memberikan toleransi buat pengunjungnya untuk tetap duduk di tempat itu sampai jam berapapun. Sebagaimana sebuah buku yang dibuka (atau terbuka) untuk kemudian dibaca dan dipelajari dengan bahagia oleh setiap orang.[]    

*Penulis seorang pembaca dan pecinta buku. Senang mendengarkan musik, diskusi dan traveling. Blogger dan coffee addictive. Tinggal di Kota Padang.





Komentar : 0


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)