Opini

Oleh: Lismomon Nata

Menelusuri Labirin LGBT

Warta Andalas | Sabtu, 23 Desember 2017 - 10:41:51 WIB | dibaca: 386 pembaca

(Sebuah Upaya Memahami Fenomena LGBT dan Penguatan Institusi Keluarga perspektif Sosiologis)

Tidaklah cukup mempunyai pikiran baik, tetapi yang terpenting bagaimana menggunakan pikiran itu dengan baik (Rene Descartes)

Beberapa waktu belakangan ini Indonesia dihebohkan oleh berbagai macam isu yang berkembang dan diberitakan pada berbagai media, tidak persoalan teroris, melainkan tentang LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender). Menurut penulis,  maraknya kembali wacana LGBT sehingga menjadi objek perdebatan yang alot dengan pembenaran-pembenaran masing para pihak yang pro dan kontra, tepatnya setelah diberitakannya Negara Amerika Serikat (AS) pada pertengahan tahun 2015 yang lalu resmi melegalkan pernikahan sejenis. Dengan demikian, memberikan ‘angin segar’ bagi orang-orang yang mempunyai orientasi homoseksual untuk mengambil momentum tersebut melakukan promosi guna diakui dan diterimanya keberadaan LGBT yang ditandai dengan dilegalkan pernikahan sesama jenis di Indonesia. Meskipun beberapa dalih yang digunakan oleh aktivis LGBT bukanlah hal yang demikian, melainkan agar tidak terjadinya diskriminasi terhadap LGBT dalam konteks Hak Asasi Manusia (HAM).

Menariknya, keberadaan LGBT bukanlah sebagai suatu realitas sosial yang baru, tetapi sudah cukup lama. Mulai dari kitab Agama Samawi, seperti Islam mengungkapkan kisah kaum Nabi Luth di Negeri Sodom dan Gomorrah yang telah dihukum oleh Allah SWT dengan bencana alam yang sangat dahsyat (QS. Asy-Syu’araa’, 26: 160-168 ) hingga masuknya ‘gerakan’ LGBT di Indonesia sejak munculnya organisasi wadam pertama yaitu Himpunan Wadam Djakarta (HIWAD) tahun 1969 yang berkembang secara terus-menerus hingga kini. Pada tulisan ini, tentu kita tidak akan membahas LGBT dalam pandangan agama ataupun genetik/ DNA, karena kecendrungannya jika dianalisis dengan dua pendekatan tersebut, maka dirasa tidak perlu lagi untuk dibahas, sudah jelas dan selesai. Dengan demikian penulis tertarik untuk menganalisisnya dalam perspektif sosiologis, yaitu keberadaan akan fenomena LGBT karena ada fakta-fakta sosial lain disamping aspek genetik/DNA. Dimana penulis meyakini bahwa faktor di luar diri individu seperti keluarga maupun lingkungan memiliki andil yang besar dalam ‘membentuk’ orientasi seksual termasuk LGBT.

Namun meskipun demikian, penulis menyadari bahwa mendiskusikan LGBT layaknya seperti memasuki labirin yang penuh dengan teka-teki dan lorong-lorong bercabang serta rumit. Kondisi ini tentu akan memberikan pemahaman bagi kita bersama bahwa masalah LGBT adalah sebuah realitas sosial yang penting untuk diperhatikan karena ini menyangkut dengan tatanan kehidupan sosial di Indonesia hari ini dan kedepannya. Pertama yang ingin penulis sampaikan bahwa keberadaan LGBT adalah sebuah fakta sosial yang tidak terelakkan, seperti sejak lama telah ada pada beberapa budaya Indonesia. Contonya saja pada kesenian Reyog, adanya Warok dan Gemblak. Dimana dahulunya diceritakan bahwa untuk menjaga ‘kesucian’ dan ‘kesaktian’ Warok, maka Warok mesti melakukan hubungan seksual secara homoseksual, yaitu dengan Gemblak yang merupakan lelaki bocah tampan (biasanya berusia sekitar 8-15 tahun) atau adanya Komunitas Bissu Bontomatene di Kecamatan Segeri, Bugis Makasar. Konteks kekinian, keberadaan LGBT sudah menjadi identitas sosial yang dilakukan secara terang-terangan, baik gay, ataupun lesbian. Hal ini dapat kita saksikan dengan munculnya grup-grup gay pada berbagai media sosial ataupun halaman website.

Oleh karena itu, sikap dan prilaku yang mesti diperhatikan adalah bagaimana orang-orang yang memiliki orientasi seksual heteroseksual ‘menghargai keberadaan homoseksual’ dalam tatanan hubungan sesama manusia, tidak perlu diolok-olokan, apalagi dihina. Dari beberapa gay yang penulis wawancarai sebahagian mereka mengungkapkan bahwa mereka ‘ingin untuk keluar’ dari orientasi seksual mereka yang homoseksual dan memiliki orientasi seksual yang dianggap normal masyarakat yaitu heteroseksual, meskipun itu sangat sulit sekali ungkap mereka untuk dilakukan. Di sinilah penulis mencoba memahami bahwa LGBT merupakan suatu penyimpangan dari kontrusksi sosial masyarakat yang memiliki nilai dan norma.

Kedua, keluarga sangat berperan dalam membentuk identitas dan orientasi seksual anak, terutama orang tua atau orang-orang terdekat di sekelilingnya, baik bagaimana tata cara berkomunikasi ataupun memperlakukan anak, serta mengarahkannya pada jenis kelamin tertentu (laki-laki atau perempuan). Sehingga, pilihan atau pemberian simbol, jenis atau bentuk permainan, pakaian, perkakas maupun ‘pembiaran’ terhadap prilaku yang bertukar baik pada jenis, simbol, perkakas, permainan, pakaian secara umum akan menentukan orientasi seksual. Sederhananya seperti permainan yang membutuhkan nyali seperti bermain perang-perangan, memanjat, mobil-mobilan, maka akan mengarahkan pembentukan jenis kelamin untuk anak laki-laki. Jika terjadi pertukaran, maka akan cenderung untuk memberikan kemungkinan terjadinya ‘kerancuan’, sehingga membuatnya memiliki pengalaman tertentu terhadap jenis kelamin tertentu, baik apakah berupa pengalaman traumatik, ingin serupa (identifikasi), menyenangkan jika sama (harapan-harapan) sehingga ia ‘salah’ dalam memandang jenis kelamin tertentu.

Misalnya kasuistik yang penulis temukan, seorang anak yang berjenis kelamin laki-laki yang bersekolah dengan siswa banyak anak berjenis kelamin perempuan, sehingga ia sering berinteraksi dengan perempuan. Kemudian membentuk persepsi ‘Si laki-laki’ tersebut  dalam pikiran bawah sadarnya bahwa perempuan adalah ‘sama jenis kelamin dengan dia’, sedangkan laki-laki adalah ‘berbeda jenis kelamin’ dengannya yang menyebabkan dia mempunyai Same-Sex Attraction (SSA) yaitu ketertarikan dengan sesama jenis kelamin, yaitu laki-laki. Oleh karena itu, perlu dirasa orang tua dapat meyakinkan kepada anaknya terhadap jenis kelamin yang ia miliki serta mengokohkannya dengan sikap prilaku yang sesuai dengan identitas seksualnya secara jelas dan wajar. Jika ia berjenis kelamin laki-laki, maka ia harus menyadari bahwa ia adalah laki-laki dan berprilakukah seperti laki-laki dan sebaliknya.

Ketiga yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana keluarga memberikan pemahaman kepada anak-anaknya bahwa alat kelamin (reproduksi) yang mereka miliki adalah ‘sesuatu’ yang sangat penting bagi mereka, maka dari itu perlu dijaga sebaik mungkin sesuai dengan nilai dan norma yang dianut bersama. Hal ini akan memberikan pelajaran bagi kita bersama untuk pentingnya untuk menjaga ‘aurat’ (alat kelamin) agar tidak diperlihatkan kepada siapapun termasuk teman sebaya dan sejenis sekalipun apalagi dijadikan sebagai bahan untuk ‘bermain-main’ atau candaan dan coba-coba. Alat kelamin atau melakukan hubungan seksual adalah suatu perkara yang ‘sakral’, bukan seperti kecendrungan persepsi remaja bahwa tindakan seksual adalah sebuah bentuk rekreasi. Dimana semuanya itu menurut hemat penulis akan memberikan pembelajaran bagi kita bersama bahwa pentingnya melaksanakan fungsi-fungsi keluarga. Misalnya BKKBN menawarkan delapan fungsi keluarga, yaitu fungsi yang pertama adalah agama, sosial budaya, cinta dan kasih sayang, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi serta kepedulian terhadap lingkungan.

Dengan demikian, tentu kita menyadari bahwa hasrat dan orientasi seksual adalah domain dan hak individu. Maka bisa saja kita ‘berdalihkan’ bahwa pilihan apapun adalah hak asasi kita sebagai manusia. Namun, pada sisi lain bahwa kehidupan kita memiliki hukum universal, baik berupa nilai dan norma yang dianggap sebagai sesuatu yang akan mencapai tujuan kehidupan yang mesti kita patuhi sebagai bentuk penghargaan terhadap hak asasi orang lain. Oleh karenanya, pikiran atau dalih apapun yang kita gunakan untuk melampiaskan hasrat dan nafsu semata, sehingga berbenturan dengan nilai akan bernilai kerdil jika tidak menggunakan pikiran tersebut secara baik dan benar. (**)   

 





Komentar : 0


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)