Opini

Oleh: Lismomon Nata (Widyaiswara Ahli Pertama Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Barat)

Menanti Peran Orang Tua Hari Ini

Warta Andalas | Minggu, 23 Oktober 2016 - 04:00:01 WIB | dibaca: 919 pembaca

Dalam sudut pandang Psikologi, permodelan kesadaran yang berkontribusi membentuk karakter manusia secara umum dibagi menjadi dua area utama; Pertama, area pikiran sadar (conscious mind), yaitu suatu area pikiran yang bersifat kritis, analitis, dan logis. Sumbangan pikiran sadar ini relatif kecil terhadap bagaimana cara manusia berfikir, merasa dan bertindak, dari beberapa buku menuliskan kontribusinya sekitar 10 persen hingga 12 persen. Kedua, area pikiran bawah sadar (subconscious mind) yaitu sebuah area yang menyimpan berbagai hal yang telah dilalui dalam hidup (pengalaman hidup), pengetahuan, keyakinan, dan segala hal yang melekat dalam ingatan seseorang (individu). Dimana pengaruh area bawah sadar relatif besar yaitu sekitar 88 persen sampai 90 persen.

Area pikiran bawah sadar menjadi sebuah tempat tersimpannya segala data pengalaman dan ingatan layaknya sebuah memori dalam otak manusia. Data-data tersebut pada dasarnya masuk melalui dua macam cara, yaitu dengan pengalaman langsung yang dialami (peristiwa apapun yang dialami sendiri), dan pengalaman induktif, yaitu segala macam informasi yang berasal dari pihak luar (exsternal factors) dan merupakan sumber informasi paling dominan membentuk pola pikir dan bertindak seseorang (IBH, 2015). Dengan demikian, dapat diartikan bahwa area pikiran ini merupakan hal terpenting dalam setiap orang, karena sebahagian besar prilaku dilakukan secara bawah sadar, semuanya telah tersistem pada kerja otak. Menariknya adalah pengalaman induktif tidak semuanya berupa pengalaman yang baik saja, melainkan juga berbagai pengalaman yang salah atau negatif, sehingga menyebabkan manusia menjadi mudah terpengaruh, traumatik, berprilaku buruk atau berada dalam ketakutan serta kecemasan yang bersangatan.

Kehidupan konteks hari ini yang dikenal dengan era digital. Dimana hampir seluruh aspek kehidupan manusia tidak terlepas dari berbagai macam benda digital dan berteknologi tinggi, seperti; tv, laptop, gadgets, hand phone (HP) maupun alat elektronik lainnya yang menyediakan layanan informasi sekaligus hiburan atau permainan (games). Benda-benda tersebut dengan mudah ditemukan hampir di setiap rumah, tanpa memandang kelas manapun, mulai dari kalangan bawah hingga atas, sehingga anak-anak sejak usia balita sudah mengenalnya. Dapat dibayangkan bagaimana ketika kehidupan kini, dimana tidak hanya laki-laki, melainkan juga perempuan bekerja pada ranah publik, dengan konsekuensi jika mereka mimiliki anak, maka kecendrungan anak ditinggalkan di rumah, baik dengan cara dititipkan pada tempat penitipan, baby sitter ataupun orang-orang dipercaya oleh keluarga.

Saat kedua orang tua memiliki rutinitas dengan agenda pekerjaan yang menghabiskan banyak waktu, mungkin saja dari pagi hingga sore atau bahkan larut malam dan keesokan harinya mesti kembali melakukan hal yang serupa, begitu secara terus-menerus, sehingga tidak mengherankan jika bertemu dengan anak hanya saat mereka sedang tidur. Begitupun ketika hari libur seringkali juga tidak bisa meluangkan waktu untuk sekedar bermain dan berkomunikasi dengan anak, karena masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan atau memang ingin beristirahat tersebab sudah lelah bekerja cukup lama dan menghabiskan banyak energi. Dengan demikian, hanya sedikit waktu, bahkan hampir tidak ada berinteraksi secara langsung dengan anak. Dampaknya tidak tanggung-tanggung, kerenggangan hubungan dan rasa kedekatan antara orang tua dengan anak memiliki relasi sebagai salah satu faktor kuat penyebab terjerumus anak pada beberapa kasus masalah sosial yang ditemui, seperti prilaku menyimpang, tindakan kriminal dan Narkoba atau penyebab institusi keluarga itu sendiri menjadi berantakan. 

Jika kita runut dan pahami bahwa kehidupan moderen dengan segala konsekuensinya merupakan suatu kenyataan yang tidak terelakan, termasuk dengan kebutuhan manusia akan berbagai alat digital. Misalkan saja HP untuk berkomunikasi, berjejaring sosial, mendapatkan informasi dan hiburan. Namun, tentu diharapkan tidak meninggalkan eksistensi kegunaannya, yang membuat manusia tergantung secara berlebihan, menghabiskan hari-harinya hanya dengan HP, sehingga menyebabkan ‚Äėlupa diri‚Äô. Misalnya, karena ada berbagai macam aplikasi hiburan atau permainan, supaya tidak diganggu oleh anak saat bekerja, maka HP diberikan kepada anak sebagai pengganti diri (peran orang tua), bahkan prilaku seperti itu telah dibiasakan semenjak anak balita. Meskipun anak sangat antusias bermain HP, seperti mendapatkan ‚Äėteman baik‚Äô dan menyenangkan. Tapi tentu juga berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak.¬†¬† ¬†

Sementara, apabila kita kembali kepada permodelan kesadaran manusia di atas, terutama area pikiran bawah sadar dan pengalaman induktif, yaitu segala macam informasi yang berasal dari pihak luar (exsternal factors) sebagai sumber informasi paling dominan membentuk seseorang, yang mana kenyataannya sebahagian besar anak-anak mendapatkan informasi dari benda-benda digital tersebut, maka dapat dibayangkan data dan informasi yang masuk serta disimpan dalam otak anak bersumber dari tv dan HP serta alat-alat digital yang sering digunakannya. Kenyataannya, apa yang ada dalam infomrasi, baik berupa gambar yang dilihat, suara yang direkam dalam ingatan bawah sadar mereka tidak ubahnya seperti ‚Äėair bah‚Äô yang melanda apa saja, tanpa ada saringan yang kadangkala bertabrakan dengan asas kepatutan dan kepantasan di usia mereka, karena begitu banyaknya sumber dan informasi, film yang tidak tersaring. Orang tua tanpa sadar bahwa anak-anak mereka telah dibentuk dan ‚Äėdibesarkan‚Äô oleh benda-benda tersebut.

Oleh karena itu, guna menjaga nilai dan keutuhan institusi keluarga, maka peran orang tua terhadap anak sangat diperlukan, tanpa menonjolkan streotipe bahwa ibu lebih penting daripada ayah. Artinya, keterlibatan kedua orang tua sangat diperlukan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, yaitu bagaimana kedua orang tua dapat memberikan waktu yang cukup untuk anak. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, seperti mengatur jam kerja, meluangkan waktu makan bersama, bercengkrama dan berdiskusi, kebedaraan diri di rumah dengan cukup, serta yang tidak kalah pentingnya adalah melakukan kontrol terhadap setiap kegiatan anak, baik di dalam maupun di luar rumah, begitupun pengaturan terhadap penggunaan berbagai alat digital tersebut, seperti; tv, HP, dan game, agar mereka tidak kecanduan dan juga ketergantungan.

Dengan menyadari bahwa keluarga merupakan institusi sosial tua dan lemah, serta sangat beresiko terhadap konflik yang ada dalam kehidupan manusia. Dimana keberadaan anak dapat menjadi pemersatu dan sekaligus dapat menjadi ‚Äėalasan‚Äô munculnya ketidak harmonisan hingga perpisahan pada sebuah keluarga, karena anak seringkali dijadikan objek yang ‚Äėmembenarkan‚Äô atau ‚Äėdipersalahkan‚Äô. Maka, peran dari masing-masing anggota keluarga tentu sangat menentukan instutusi keluarga agar tetap kuat. Hal ini juga akan berimplikasi terhadap tumbuh kembang anak, sehingga dengan keberadaan dan berperannya kedua orang tua dapat mewujudkan anak-anak seperti hal yang didamba dan dicitakan.

Disamping ikatan emosional yang terjalin kuat antara orang tua dengan anak, pendidikan yang diberikan orang tua dalam keluarga kepada anak tentu juga sangat menentukan ketahanan keluarga. Kesadaran ini telah muncul pada kehidupan kita konteks hari ini, seperti adanya ilmu kelurga, menjadi orang tua hebat (parenting), dan munculnya tempat-tempat pendidikan anak usia dini. Apa yang dilakukan dalam upaya penguatan penguatan peran orang tua terhadap anak, aka memberikan kesadaran bahwa sedapatnya tentu pada setiap pertumbuhan sel anak, maka kita selaku orang tua berharap memiliki andil terbesar dalam tumbuh dan kembangnya, agar tidak ada sesal dikemudian hari (Mardigu Wowiek Prayasantyo, 2015). (**)                





Komentar : 0


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)