Opini

Oleh: Isa Kurniawan, (Koordinator Komunitas Pemerhati Sumbar/Kapas)

Menakar “Pertarungan” Pilpres 2024

Warta Andalas | Senin, 09 Juli 2018 - 08:55:48 WIB | dibaca: 1174 pembaca

Mencermati peta politik menjelang pertarungan pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia (RI) ke depan, sekiranya tidak ada guncangan keras yang ekstrem terhadap perekonomian Indonesia di sepuluh bulan mendatang, menurut analisa saya Pilpres 2019 berpotensi besar dimenangkan oleh Jokowi. Kalimat optimisnya, Pilpres 2019 itu boleh dikatakan sudah selesai. Kenapa?

Sebagai petahana (incumbent), Jokowi mempunyai sumber daya dan kekuatan politik yang sangat signifikan untuk mengantarkannya kembali menjadi Presiden RI periode 2019 - 2024. Sampai hari ini, umpama Jokowi lah satu-satunya calon presiden yang sudah punya tiket untuk berlaga. Diusung mayoritas partai parlemen seperti PDIP, Golkar, NasDem, PPP, Hanura, dan didukung pula partai pendatang baru seperti Perindo dan PSI. Bisa saja partai lain menyusul seperti PKB, PAN atau Partai Demokrat? Dan sepertinya ormas Islam terbesar di Tanah Air, Nahdlatul Ulama (NU) pun tetap mendukung Jokowi.

Kemudian melihat kompetiter yang mungkin. Paling dekat elektabilitasnya dengan Jokowi adalah Prabowo. Ada beberapa calon lain tapi masih jauh di bawah. Sampai saat ini belum nampak arah koalisi yang akan mengusung Prabowo. Tetapi pendekatan dengan partai lain seperti PKS, PAN dan Partai Demokrat nampaknya terus diupayakan Prabowo menjelang pendaftaran yang tinggal beberapa hari lagi, yakni tanggal 4 - 10 Agustus 2018 ini. Apakah akan muncul calon lain selain Prabowo? Mari sama-sama kita lihat saat pendaftaran nanti.

Kalau terjadi lagi "duel maut" antara Jokowi dan Prabowo di Pilpres 2019, dengan mencermati hasil pilkada serentak yang baru lalu, kemudian sukses pula dalam pelaksanaan Asian Games 2018, dan selesainya infrastruktur-infrastruktur besar yang dapat dimanfaatkan rakyat, maka apapun kartu yang akan dimainkan oleh lawan politik untuk membenamkan Jokowi, saya yakin tidak akan banyak pengaruhnya. Apakah itu perkara PKI, SARA dan lain sebagainya. Tetap Jokowi berpeluang besar untuk menang.

Walaupun masih banyak kekurangan selama ini, sepertinya sebagian besar rakyat Indonesia tetap akan memilih Jokowi di Pilpres 2019 untuk meneruskan pembangunan yang sedang dilaksanakan. Suka atau tidak suka, proses pembangunan itu, khususnya di bidang infrastruktur sudah mulai berbentuk. Manakala proses ini berlajan lancar, saya yakin setelah era Jokowi selesai di 2024, perekonomian Indonesia akan bergerak dengan infrastruktur yang mumpuni menuju Indonesia Emas 2045.

Melihat keadaan di atas, bagi ketua partai dan tokoh-tokoh bangsa lainnya, sebenarnya pertarungan Pileg maupun Pilpres 2019 mereka jadikan tapak menuju pertarungan Pilpres 2024. Dari sekarang tentunya sudah harus memasang kuda-kuda dan mencari posisi yang pas agar bisa masuk ke jalur Pilpres 2024 itu, sebab semuanya "dimulai dari Nol", karena Jokowi sudah tidak bisa lagi mencalon untuk periode ketiga.

Tapi sebenarnya pertarungan itu sudah dimulai saat pilkada serentak 2018 kemarin, dan sepertinya berlanjut ke pilkada serentak 2020. Makanya tidak heran kita melihat beberapa mantan menteri "turun" sebagai calon gubernur, karena dengan posisi itu mereka sudah berada di jalurnya (on the track). Sebutlah yang menang sekarang seperti Khofifah Indar Parawansa (Jatim), Ridwan Kamil (Jabar) dan Ganjar Pranowo (Jateng), serta yang sudah duluan yakni Anies Baswedan (DKI Jakarta), dimana mereka sudah dijalurnya dan memiliki posisi tawar yang tinggi menuju Pilpres 2024.

Menjelang 2024, diprediksi akan muncul sebagai ketua umum partai (yang baru) seperti Puan Maharani (PDIP), Agus Harimurti Yudhoyono (Partai Demokrat), PAN (Hanafi Rais), kemudian yang tetap lanjut Airlangga Hartato (Golkar), Muhaimin Iskandar (PKB), Romahurmuzy (PPP), NasDem (Surya Paloh), Gerindra (Prabowo), Hanura (OSO), Perindo (Hary Tanoe) dan Partai Berkarya (Tommy Soeharto). Sementara PKS, PSI dan partai lainnya dinamis. Dengan posisi sebagai ketua umum itu, mereka on the track menuju Pilpres 2024.

Jalur lainnya, terbuka juga bagi mereka yang duduk di dalam kabinet nantinya. Sebagai menteri mereka bisa berkarya melihatkan kinerja ke rakyat dan menjadi populer. Di samping orang-orang partai, biasanya menteri itu banyak juga yang berasal dari profesional. Diyakini jalur inilah yang mulai ditempuh oleh Tuan Guru Bajang (TGB) untuk menapak menuju pertarungan Pilpres 2024. Dengan mendukung Jokowi untuk lanjut ke periode kedua, minimal TGB sudah on the track. Termasuk di jalur ini nama Sri Mulyani, Basuki Hadimuljono, Susi Pujiastuti, Arcandra Tahar, dan lainnya yang sekarang menjabat menteri / wakil menteri dan sepertinya berpeluang lagi ke depan menjadi menteri.

Sementara itu bagi partai politik, Pileg 2019 merupakan pertarungan penuh gengsi untuk memenangkan persaingan agar bisa mendapatkan suara / kursi yang banyak sehingga mempunyai posisi tawar saat mengusung calon presiden di Pilpres 2024 nanti. Sebab sesuai aturannya, hasil Pileg 2019 lah yang menjadi acuan / patokan saat partai mengusung calon presiden nantinya di Pilpres 2024. Bagi mereka yang duduk menjadi Ketua MPR, DPR dan DPD nantinya, akan terbuka juga peluangnya untuk bertarung di Pilpres 2024. (**)





Komentar : 0


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)