Opini

Oleh: Lismomon Nata, S.Pd, M.Si, Cht (Plt. Kasubbid Penyelenggara dan Evaluasi Diklat BKKBN Sumbar)

Membumikan Hidup Sehat di Era Now

Warta Andalas | Sabtu, 29 September 2018 - 16:57:42 WIB | dibaca: 536 pembaca

“The danger of the past was that man became slaves. The danger of the future is that man may become robots” – Erich Fromm

Kehidupan manusia selalu saja penuh dengan misteri pada setiap masanya. Dalam setiap jaman tersebut, manusia tidak terlepas dari bagaimana memperjuangkan untuk dapat terlepas dari penyakit dan mempertahankan keberlangsungan hidup. Jika dahulu manusia berupaya untuk melawan terhadap berbagai macam wabah, kuman, perbudakan, peperangan hingga kelaparan. Namun kini takdir memberikan cerita lain, seperti halnya diungkapkan oleh Prof. Harari bahwa “…saat sekarang ini untuk pertama kali dalam sejarah mencatat bahwa lebih banyak orang yang mati akibat terlalu banyak makan daripada orang yang kurang makan; lebih banyak orang mati karena lanjut usia ketimbang penyakit menular; dan lebih banyak yang bunuh diri daripada gabungan orang yang dibunuh tentara, teroris, dan penjahat. Bahkan awal abad ke-20, lebih banyak kemungkinan manusia mati akibat McDonald daripada akibat kekeringan, Ebola, atau serangan Al-Qaeda” (2018;2). Mencengangkan bukan? Ketika beberapa waktu belakangan ini tindakan teroris begitu sangat menakutkan bak hantu yang siap menerkam siapa saja, namun justru obesitas lebih berbahaya lagi untuk dapat membunuh banyak manusia (lihat Richard Dobbs et al., How the World Could Better Fight Obesity, 2014).

Negara Indonesia sebagai salah satu negara berkembang tentu masih dihadapkan dengan berbagai macam tantangan kesehatan seperti halnya negara-negara berkembang lainnya di dunia. Namun, pemerintah Indonesia terus berupaya agar masyarakat Indonesia hidup sehat yang ditandai dengan panjangnya angka harapan hidup. Di era reformasi ini, Negara Indonesia tidak lagi hanya menggunakan pendekatan kuratif (menolong pengobatan atau penyembuhan), melainkan gencar mengupayakan pendekatan promotif dan preventif (pencegahan). Meskipun dahulu pada era Orde Baru juga telah melakukan hal yang sama, meskipun tidak diungkapkan secaar eksplisit dalam sebuah program pemerintah, seperti halnya memasyarakatkan olah raga. Kenyataannya dapat kita saksikan ketika itu menjamurnya lapangan olah raga, pertandingan olah raga antar instansi atau kampong ketika itu. Kini, hal ini bukan hanya dalam rangka menyiasati Badan Penyelenggara Jaminan Sosial atau BPJS Kesehatan yang disinyalir mengalami defisit tahun 2017 yang lalu (https://www.liputan6.com/bisnis/read/3527675/defisit-bpjs-kesehatan-capai-rp-10-triliun-di-2017), akan tetapi juga diyakini agar memang prilaku hidup sehat kembali disadarkan untuk menjadi kebutuhan yang disadari oleh setiap orang secara sadar.

Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan mendefinisikan kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual, maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis (Pasal 1 ayat 1). Dari pengertian tersebut menjelaskan ada beberapa aspek yang harus dipenuhi oleh seseorang untuk dapat dikatakan sehat, yaitu tidak hanya fisik, melainkan juga mental, spiritual dan sosial. Dengan demikian terlalu sempit juga dirasa apabila pandangan umum masyarakat bahwa sehat itu hanya terhidar dari penyakit saja. Hal tersebut tentu mengarahkan untuk setiap orang agar memahami unsur-unsur kehidupan yang holistik.

Sebagai bentuk perhatian pemerintah, Presiden Indonesia mengeluarkan instruksi Nomor 1 Tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas). Gerakan tersebut mencakup enam aspek; peningkatan aktivitas fisik; peningkatan prilaku hidup sehat; penyediaan pangan sehat dan percepatan perbaikan gizi; peningkatan pencegahan dan diteksi dini penyakit; peningkatan kualitas lingkungan dan peningkatan edukasi hidup sehat. Turunan dari aspek-aspek tersebut Kementrian Kesehatan memberikan panduan untuk masyarakat agar dapat melakukan aktifitas fisik, mengkonsumsi sayur dan buah, tidak merokok, tidak mengkonsumsi alkohol, serta pemeriksaan kesehatan secara runtin ke tempat pelayanan kesehatan.

Namun, beratnya beban hidup yang disebabkan ekonomi keluarga yang lemah, juga dapat menjadi pemicu gangguan kesehatan. Misalkan saja, bagaimana dapat mengkonsumsi lauk pauk atau sayuran yang bagus (organik) jika harus mengeluarkan uang yang bisa saja memberatkan bagi keluarga-keluarga yang ekonomi lemah tersebut? Atau rendahnya pengetahuan masyarakat tentang pola hidup sehat. Hal ini tentu semakin menguatkan temuan bahwa empat (2010-2015) tahun terakhir terjadi pergeseran pola penyakit di Indonesia. Dimana dahulu penyakit menular merupakan penyakit terbanyak dalam pelayanan kesehatan, saat ini bergeser kepada Penyakit Tidak Menular yang memiliki proporsi utama (57% dari total kasus). Hal ini terjadi akibat perubahan pola hidup masyarakat, pola hidup yang tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik dan kebiasaan makan yang tidak baik merupakan penyebab hal tersebut (Slide presentasi drg. Oscar Primadi, MPH, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan pada Temu Blogger Kesehatan Provinsi Jawa Barat tanggal 21 April 2017). Meskipun yang lebih memprihatinkan bahwa Indonesia beberapa dasawarsa terakhir malah menghadapi beban ganda penyakit (double burden) penyakit yaitu Penyakit Menular dan Penyakit Tidak Menular (PTM) itu sendiri. Beberapa jenis Penyakit Menular tertentu seperti re-emerging diseases, serta munculnya penyakit HIV/AIDS, Flu Burung (Avian Influensa), Flu Babi, dan penyakit Nipah. Sementara beberapa Penyakit Tidak Menular yang banyak menyebabkan kematian di Indonesia seperti diabetes yang pada 2016 tercatat mengalami kenaikan 38,5 persen sejak 2006.

Bagaimana setiap orang akan meluangkan waktu untuk beraktifitas fisik, sementara selalu saja mencari alasan bahwa tidak memiliki waktu tersebab terus saja dikejar-kejar waktu dan banyak waktu digunakan untuk bekerja. Oleh karena itu penting dirasa agar pemerintah juga memperhatikan tersedianya sektor-sektor yang dapat mendorong agar kesadaran masyarakat untuk berprilaku hidup sehat tersebut. Contonya dalam menjaga aktifitas fisik gemar berjalan kaki. Diantaranya adalah bagaimana dengan menyediakan sarana prasarana yang ramah bagi pejalan kaki, seperti adanya trotoar yang memadai dan menyenangkan, atau taman (ruang publik) yang menyediakan fasilitas olah raga. Kenyataannya, cukup banyak ditemui trotoar dijadikan tempat pedagang kaki lima, atau bahkan telah rusak.

Meskipun pada sebagian masyarakat, terutama pada kehidupan masyarakat kota yang telah mulai menyadari untuk memperhatikan kebugaran dan kesehatan tubuh. Kenyataannya dapat kita lihat dan amati dengan munculnya tempat-tempat olah kebugaran (fitness) atau kegiatan senam. Namun, apakah ini merata? Kota dan desa atau daerah urban? Belum lagi ketika smartphone, gatget telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tiap waktu kehidupan manusia. Prilaku instans pun menjadikan manusia –manusia ‘manja’ dan malas. Malas untuk berjalan kaki, jika naik kendaraan sedapatnya berhenti pas di depan pintu. Bahkan bias saja, jika berjalan kaki dikatakan ‘berhemat’. Belum lagi pada level aparatus pemerintahan yang cendrung untuk bekerja duduk di ruangan ber-AC yang tentu saja hanya punya sedikit waktu untuk melakukan kegiatan fisik. Dengan demikian, perlu juga dirasa untuk adanya dukungan agar instansi-instansi pemerintahan menyediakan sarana prasarana yang mendukung untuk para aparatusnya juga dapat menjaga kesehatan. Dapat dibayangkan jika beban kerja untuk memikirkan orang banyak, namun dilakukan oleh orang-orang yang sakit? Tentu kita tidak mengharapkan demikian, melainkan bagaimana pekerjaan-pekerjaan, atau katakanlah masyarakat kita harapkan merupakan orang-orang yang sehat memenuhi aspek individu dan sosial, sehingga diyakini akan dapat berjalannya kehidupan bersama dalam berbangsa dan bernegara ini dengan baik serta sesuai dengan harapan bersama.

Oleh karena itu, penulis berfikir bahwa sudah semestinya Gerakan Masyarakat Hidup Sehat ini mendapat perhatian bersama dan diseriusi. Sebagai bentuk nyata dalam Germas ini bisa saja dengan membentuk tim kampanye yang diberikan legalitas untuk mengkapanyekan seraca konsisten serta memberikan penyuluhan tentang penting dan cara hidup sehat kepada masyarakat dengan pendekatan yang memperhatikan sosio kultural masyarakat secara terus-menerus sehingga membudaya atau pada diklat, pelatihan, kampus-kampus sekalipun juga dapat menggunakan pendekatan psikomotorik atau aktivitas-aktivitas fisik ringan. Seperti berupa ice breaking, permainan-permainan yang membutuhkan gerak ataupun senam ringan pada tiap pertukaran waktu pembelajaran. Di samping memang pola pembelajaran orang dewasa sangat menyukai keterlibatan aktif di kelas, juga dapat menciptakan pola pembelajaran yang menyenangkan. Nah, tentu butuh penguatan regulasi, keberpihakan akan pola hidup sehat ini oleh seluruh lini kehidupan bermasyarakat. Jika tidak dapat saja terjadi terhadap apa yang telah dikatakan oleh Fromm di atas bahwa kita manusia ‘terancam’ untuk menjadi ‘robot-robot’. (**)





Komentar : 0


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)