Opini

Oleh : Lismomon Nata, S.Pd, M.Si, Cht

Membangun Organisasi yang Kondusif

Warta Andalas | Minggu, 19 Agustus 2018 - 15:43:15 WIB | dibaca: 1271 pembaca

Mengabdi dengan sepenuh hati adalah sebuah kehormatan 

Siapa yang tidak menginginkan ketenangan dan mendapatkan suasana organisasi (tempat bekerja) yang kondusif? Tentu dapat dipastikan hampir semua orang akan menjawab bahwa semuanya menginginkan. Diantaranya disebabkan karena tempat bekerja sudah merupakan rumah kedua, bahkan bisa saja menjadi rumah pertama dalam kehidupan seseorang, apalagi saat sekarang di era moderen. Hampir sebahaian besar waktu dihabiskan di tempat bekerja ketimbang rumah. Kondisi organisasi yang kondusif sangat menentukan kenyamanan bekerja, nyaman atau tidaknya tentu berkolerasi terhadap optimal atau tidaknya pekerjaan yang dilakukan. Apabila kenyamanan didapatkan, maka akan memunculkan semangat untuk bekerja dengan baik, serta membuka peluang yang besar terhadap pelaksanaan kegiatan dan pencapaian tujuan yang baik pula seperti apa yang diharapkan organisasi.

Organisasi berkaitan erat dengan dua unsur di dalamnya, yaitu manusia dan lingkungan organisasi (tempat atau fisik). Kedua unsur tersebut saling melengkapi satu sama lain secara holistik. Manusia-manusia yang berada dalam organisasi merupakan elemen penentu terhadap pembentukan suasana kondusif atau tidaknya seseorang dalam bekerja. Dapat dibayangkan apabila individu pada sebuah organisasi tersebut tidak saling bekerjasama, menganggap bahwa pekerjaannya adalah ‘milik dan urusan’ mereka masing-masing, sentimental pribadi yang picik yang mengutamakan egosentris irasional, seperti takut orang lain lebih kaya darinya, atau takut lebih hebat darinya, saling curiga-mencurigai, tertutup dan tidak peduli dengan kegiatan luar kegiatannya, serta tidak mau melibatkan orang-orang di sekeliling organisasi, bahkan persaingan yang buruk dengan cara saling menjatuhkan atau tidak saling adanya tegur sapa. Semua contoh tersebut tentu bisa kita sebut dengan ‘old hat’ (gaya lama, kuno dan ketinggalan jaman alias udik) yang sudah semestinya untuk dibuang.

Apabila sikap dan pola pikir demikian masih ada dalam sebuah organisasi, maka dapat diprediksi akan menyebabkan suasana kerja yang hambar dan membahayakan organisasi lambat laun. Apalagi di lingkup sesama bidang atau sub bidang hal yang serupa terjadi, tidak jarang menimbulkan keterasingan bagi orang-orang di dalamnya. Ironi bukan? Sementara disadari bahwa setiap orang yang di dalam sebuah organisasi merupakan sumber daya yang seharusnya diberdayakan secara optimal karena memiliki potensi, bukankah sudah semestinya seluruh orang dalam organisasi memiliki satu tujuan yang sama untuk pencapaian tujuan organisasi yang sama pula.

Di samping itu, unsur terpenting lainnya sebagai penentu tercipta atau tidaknya suasana kondusif organisasi adalah lingkungan organisasi. Kondisi tersebut dapat berupa ruangan kerja yang bersih, tertata rapi, terhindar dari hiruk-pikuk, tersedianya sarana pra sarana penunjang kerja yang memadai. Unsur kedua ini kecenderungannya pada organsisasi publik mulai terabaikan pada saat sekarang. Berbeda dengan unsur pertama yaitu manusia seringkali telah menjadi ‘rahasia umum’ menyebutkan bahwa mental-mental yang terbangun selama ini memang dianggap begitu karena bisa saja didalihkan faktor sejarah yaitu feodalistik. Dimana melayani itu ‘ke atas, bukan ke bawah’, melakukan berbagai cara untuk mendapatkan posisi penting hingga telah mulai lunturnya rasa kebersamaan (solidaritas) antar sesama di dalam organisasi.

Lemahnya untuk saling mengapresiasi, menghargai atas prestasi yang dilakukan oleh para pekerja, kecuali pada momen seremoni tertentu. Unsur kedua ini, seringkali disebabkan karena kesadaran yang minim untuk memperhatikannya. Dengan mudah kita menemukan ruangan kerja organisasi yang berserakan atau lebih mudah menemukan toilet yang kotor. Sementara, bukankah semuanya itu dapat mencerminkan budaya kerja pada organisasi tersebut? Apakah menciptakan suasana tenang, bersih dan rapi itu sulit? Tentu tidak, namun seringkali abai.

Rendahnya penataan akan barang, ruangan ataupun dokumen kerja bisa jadi disebabkan karena alasan pekerjaan yang banyak dan menumpuk, sehingga ‘memiliki sedikit waktu’ untuk dapat menyusun atau memang merasa tidak terlalu penting lagi urusan kebersihan, tersebab berfikiran bukan menjadi persoalan mendasar dalam sebuah organisasi. Padahal, jika kita amati pada tempat-tempat layanan jasa profit sangat kecil kemungkinan ditemukan kondisi hal demikian. Contohnya saja adalah hotel. Mengapa kamar hotel hingga toilet terjaga kebersihannya? Jawabannya sederhana karena ada petugas kebersihan dan dikontrol secara terus menerus, serta adanya kesadaran manajemen hotel bahwa kebersihan itu penting.  

Dengan demikian, hal yang menjadi sesuatu yang sangat mendasar adalah kesadaran dan keseriusan. Sadar atau tidak, serius atau tidak diyakini menjadi titik poin penentu untuk bisa atau tidaknya suatu hal yang diharapkan dapat berjalan. Sehingga, menjadi tugas setiap orang di dalam organisasi untuk dapat menciptakannya. Agar terciptanya suasana yang kondusif dalam organisasi, maka perlu adanya sistem atau aturan yang menopang, kemudian legitimasi dan kewibawaan pimpinan. Hal ini seperti halnya diungkapkan Ritzer dan Goodman (2004) bahwa dunia sosial (social world) ditentukan oleh prinsip hubungan timbal-balik dalam memberi dan menerima. Maka, perhatian seorang pimpinan terhadap bawahan juga akan menjadi supporting untuk memberikan semangat kerja agar dapat terjaga serta menanamkan nilai integritas pekerja dalam organisasi yang ditandai dengan kinerja yang baik. Kenyataannya, seringkali muncul gejala dimana pekerja yang juga kurang bertanggung jawab atas tugas dan pekerjaan yang diberikan kepadanya.

Adapun beberapa hal yang dapat dilakukan untuk membangun organisasi yang kondusif dan baik adalah; Pertama, diawali dengan adanya individu-individu yang hebat, baik secara pengetahuan dan kecakapan, maupun sikap yang baik dan hebat pula. Maka dari itu, sering kita menyaksikan sebuah organisasi atau tempat bekerja yang melakukan seleksi yang ‘super ketat’ untuk dapat masuk ke dalamnya, bahkan di pemerintahan sekalipun telah membuka peluang posisi (jabatan) untuk diisi oleh individu-individu yang kompeten melalui mekanisme lelang jabatan, misalnya. Meskipun sikap profesional, objektif dan kejujuran menjadi tantangan yang mesti dipertaruhkan untuk mewujudkannya. Diperkuat dengan diberikannya berbagai macam pelatihan untuk peningkatan kompetensi dimaksud.

Kedua, memunculkan dan menanamkan hubungan baik (relasi sosial), kenyamanan bersikap serta berprilaku dan saling percaya (trush) antara sesama pekerja yang ada dalam organisasi, termasuk antara atasan dengan bawahan. Ketiga, penting adanya kejelasan visi, tujuan dan hasil yang ingin dicapai organisasi. Keempat, dibuat dan dijalankannya budaya kerja organisasi, yang ditandai dengan kejelasan aturan-aturan yang ada dalam organisasi dan secara bertanggung jawab. Bisa saja dimulai dengan hal-hal yang dianggap sederhana, seperti membudayakan mengucapkan empat kata yang mungkin telah jarang kita dengar; ‘maaf, tolong, terima kasih dan Anda hebat!’ (pujian yang pantas dan proporsional). Kelima, adanya kontrol dan evaluasi yang sistematis serta terukur. Hal ini sangat penting agar dapat menjaga semangat, pola kerja agar tidak keluar dari menkanisme kerja organisasi yang telah ditetapkan (on the track).

Ketika kita bertanya apakah masih adakah dan perlukah organisasi kondusif? Tentu ada, perlu dan sangat perlu sekali, serta bahkan menjadi suatu hal yang sangat penting bagi seluruh man (manusia-manusia yang menjalankan organisasi) memiliki kesadaran yang sama untuk membangun dan menghadirkan suasana kondusif organisasi tersebut. Apalagi di era milenial saat sekarang ini, sudah semestinya keluar dari ‘mind set lama’ yang kerdil dan picik, melainkan penuh dengan etos kerja dan inovasi, karena tanpa inovasi terus-menerus, mustahil dapat unggul dalam bersaing (Eileen Rahman, 2015) dan berhasil mencapai tujuan bersama dan organisasi. Hal ini dapat diawali dengan niat yang tertanam kuat dalam setiap pribadi untuk melakukan pengabdian dengan sepenuh hati, karena itu adalah sebuah kehormatan. Apalagi Negara Bangsa Indonesia baru saja memperingati perayaan hari kemerdekaan, sudah semestinya juga untuk selalu menggelorakan semangat merdeka, karena jika tidak, maka tidak ubahnya dalam keadaan perang, tersebab perang paling buruk bukanlah kekeasan fisik, melainkan pembusukan kepribadian serta hati nurani karena perang memaksakan manusia memainkan peran-peran, di mana ia tidak lagi mengenal dirinya sendiri dan mengkianati keterlibatannya (Weij, 2017). (**)





Komentar : 0


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)