Bukittinggi

Masyarakat Keluhkan Layanan Kantor Imigrasi Bukittinggi

Warta Andalas | Senin, 27 Maret 2017 - 23:18:56 WIB | dibaca: 534 pembaca

WARTA ANDALAS, BUKITTINGGI – Sejumlah warga dari berbagai daerah di Sumatera Barat, mengeluhkan pelayanan yang diberikan petugas kantor imigrasi kelas II Agam, di Bukittinggi. Pasalnya, selain lambat, dalam kepengurusan Paspor yang di butuhkan, juga terkesan dipersulit.

Menurut warga Aur Kuning kota Bukittinggi yang tak mau menyebutkan namanya, ia sudah tiga kali bolak balik ke kantor itu untuk mengurus paspor, namun menurut petugas imigrasi selalu ada saja yang salah atau kurang lengkap.

“Saya heran, sepertinya saya dipersulit. Sudah tiga kali saya bolak balik ke sini tetapi katanya ada saja yang salah, dan juga ada saja persyaratan yang tidak lengkap. Kalau memang tak lengkap, kenapa tidak dari kemarin kemarin saya dikasih tau,” keluhnya, saat berbincang dengan Warta Andalas di halaman kantor imigrasi itu, Senin 27/3) siang.

Dikatakannya, di kantor tersebut memang ada calo “bermain”, yang akan mempermudah dan mempercepat kepengurusan.

“Di sini, kalau ngurus sendiri pasti prosesnya cukup lama dan harus rela bolak balik, mas,” ujarnya.

Tetapi, lanjut dia, kalau kita mau pakai calo, urusannya nggak ribet dan cepat selesai. “Tapi kalau pakai calo kan biayanya lebih mahal,” sebutnya, sambil meninggalkan Warta Andalas.

Tak hanya dia, keluhan juga dikatakan Subandi, warga kota Sawahlunto yang mengurus paspor untuk anaknya yang bekerja di Jakarta. Diungkapkannya,sudah sekitar dua bulan yang lalu ia dan anaknya mengurus paspor, dan semua persyaratan sudah dipenuhi.

“Semua keperluan untuk rekam data sudah dilakukan, dan pada saat itu, sejak pagi hingga sore hari semua proses telah dilalui, tetapi kata petugas, ada kerusakan alat untuk mencetak surat pengantar pembayaran. Akhirnya kami pulang ke Sawahlunto sambil menunggu informasi,” terangnya.

Namun karena tak ada informasi, lanjut dia, hari ini, (Senin (27/3) saya datang ke kantor ini untuk meminta surat pengantar pembayaran itu. Namun, saat saya sudah berada di kassir Bank BRI, saya kaget karena menurut petugas BRI surat pengantar itu sudah kadaluarsa dan tidak bisa dilakukan transaksi.

“Akhirnya saya kembali lagi ke kantor imigrasi bermaksud meminta surat pengantar pembayaran yang baru. Tapi yang saya heran, petugas tidak mau menerbitkan surat yang baru, dan meminta agar anak saya mengulang proses dari awal lagi. Padahal anak saya kerja di Jakarta, dan apa memang rekam data yang sudah ada di kantor imigrasi itu tidak lagi berguna?,” ujarnya, tampak kecewa.

Lebih jauh, Subandi yang juga merupakan Ketua PWI kota Sawahlunto mengatakan perlunya reformasi di Kantor Imigrasi, dimana di Sumbar ini hanya ada dua, yaitu di kota Padang dan di Bukitinggi.

“Seharusnya kantor imigrasi memberikan layanan maksimal untuk kepuasan masyarakat, dan bukan sebaliknya membuat masyarakat bolak balik mengurus Paspor yang diperlukan mengingat tempatnya jauh, dan jangan ada percaloaan,” tandasnya.

Setelah saya sendiri mengalami hal itu, imbuh wartawan dari salahsatu Koran harian terkemuka di Sumbar ini, saya kapok dengan ribetnya urusan seperti ini.

“Semoga Presiden RI menambah jumlah kantor Imigrasi di sejumlah kota dan Kabupaten, agar masyarakat tertolong baik di segi biaya maupun waktu,” harapnya.

Sementara itu, salahseorang yang mengaku berasal dari kabupaten Solok Selatan membenarkan adanya praktik percaloan.

“Kalau mau cepat, pakai calo saja, mas. Memang lebih mahal, tapi bisa sehari selesai,” katanya.

Disebutkannya, ia sudah berlangganan karena sering membawa rombongan untuk mengurus paspor jamaah umroh, sehingga sudah tau persis bagaimana proses kepengurusannya.

“Kalau ngurus sendiri, biayanya memang murah, hanya sekitar 300 ribuan, tetapi biasanya lama selesainya dan harus berulang ulang ke sini. Tapi kalau pakai calo, memang sampai 700 ribuan, tetapi cepat selesai. Seperti saya, pagi sudah datang kesini, serahkan datanya ke calo, nanti sore atau paling lambat besok pagi, sudah bisa dibawa pulang,” paparnya.

Diungkapkan pria tersebut, di kantor imigrasi Bukittinggi sudah tersystem. Dari buka kantor sampai jam istirahat, petugas melayani kepengurusan umum atau yang mengurus secara pribadi. Itupun jumlahnya dibatasi sekitar 70 hingga 80 orang saja.

“Sedangkan setelah jam istirahat, petugas memprioritaskan para calo, yang jumlah paspornya bisa mencapai 200 lebih. Jadi kalau mas mau ngurus sendiri, datangnya ahrus pagi pagi,” pungkasnya. (ap)





Komentar : 1
cara mengobati maag saat puasa
28 Maret 2017 - 08:24:55 WIB
Terimakasih, ilmu pengetahuan saya makin luas. ****://tinyurl.com/oszqrw3 | ****://ow.ly/NR4dm
<<< 1 >>>


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)