Opini

Oleh : Awaluddin Awe (Pemerhati Sosial Politik)

Mari Belajar dari Pengalaman Negara yang Kini Hancur Luluh

Warta Andalas | Sabtu, 15 September 2018 - 20:28:50 WIB | dibaca: 616 pembaca

Indonesia adalah Negara Kesatuan, yang sering ditulis NKRI, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dasarnya krn Indonesia terdiri dari banyak pulau dan etnis.

Pendiri bangsa dan para pejuang yang telah bersama sama memerdekakan bangsa ini secara terus menerus mencari formula kesatuan, sebagai kekuatan untuk melawan penjajah. Sebelumnya para pemimpin rakyat berjuang menurut daerahnya masing-masing dan itu tidak cukup kuat untuk mengusir penjajah.

Singkat cerita kita sudah merdeka, kini sudah 73 tahun kita merdeka. Merdeka itu terbebas dari penjajahan Belanda dan Jepang.

Sampai hari ini kita sudah punya 7 presiden, yang terakhir bernama Joko Widodo disingkat Jokowi. Disebabkan ada agenda menghadiri pesta Tabuik, namanya ditambah skit dengan huruf A Jokowi. Itu plesetan panggilan akrab sebagai tamu ughang piaman yg berarti Ajo Kowi, atau abang Kowi kalau di Medan.

Saya ingin berterus terang ingin membahas sosok Presiden yang sangat dibenci oleh sebagian orang, termasuk di daerah saya sendiri, Sumatra Barat. Kalau boleh saya sebut, Ajokowi ini terkena sindrom buruk. Apa sajo yang dibuatnya tidak ada yang baik di mata sebagian orang itu.

Dan tingkat emosional sebagian orang itu, menurut saya sudah di atas rata rata alias sudah kebablasan. Terakhir, patung Jokowi dibakar oleh mahasiswa UIN di Pekanbaru.

Mengapa mahasiswa bereaksi seperti itu, sangat sulit akal sehat kita bisa menerima itu sebagai suatu tindakan yang bisa dibenarkan. Sebab Jokowi sampai hari ini masih Kepala Negara Republik Indonesia.

Ya. Semua itu akibat pandangan politik, permainan politik dan kepentingan politik. Tesisnya, Jokowi bukan presiden ideal lagi. Capres ideal itu, adalah Prabowo Subianto dan Cawapresnya, Sandiaga Uno, seorang pengusaha muda yang sukses dan kaya raya. Dia sempat masuk dalam majalah Forbes sebagai orang terkaya no 25 di Indonesia.

Hari ini, popularitas Sandiaga Uno sedang bergerak naik. Para emak-emak dan anak perempuan pada suko dgn sosok Sandi. Orangnya ganteng, cerdas, berakhlak mulia, dan pintar berkomunikasi.

Keberadaan Sandi dalam sistim Pilpres bersama Prabowo memberikan angin segar bagi kemenangan pasangan ini. Jika hari ini pilpres dilaksanakan, maka Prabowo Sandi berpeluang menang. Itu visi tim sukses PAS.

Tetapi bahwa Jokowi dan Makruf Amin juga memasang ancang-ancang untuk memenangkan Pilpres 2019, semua pihak juga paham. Dan itu sah dalam sebuah demokrasi. Soal siapa yg menang belum bisa ditentukan hari ini.

Pecahnya persatuan bangsa

Saya melihat dinamika Pilpres saat ini dari kacamata keprihatinan dan ketakutan akan pecahnya persatuan bangsa ini. Sebab gerakan perlawanan untuk kemenangan Prabowo dan mengganti Presiden 2019 sangatlah terbuka, terang2an, dan tanpa kendali.

Terus terang, saya khawatir. Nasib negeri ini akan sama dengan negara lain yg sudah lebih hancur, akibat perbedaan tajam para elitnya, yang sampai berurat berakar kepada rakyatnya sendiri. Negara yang terkena masalah itu, adalah negara Islam.

Saat ini pikiran saya sampai ke negara itu. Hanya karena memiliki pemimpin kuat di hati rakyatnya, lalu rakyat dipecah, dan sang penguasa dihukum berdasarkan versi internasional. Sampai hari ini, negeri itu sudah terhapus dari catatan negara tenang. Setiap hari ada perdebatan tak perlu. Tetapi itu sangat menyakitkan.

Dalam pertempuran politik saat ini, satu pihak mengklaim Jokowi anti Islam dan cenderung ke kiri, komunis. Ini dua isu yang pernah merontokan Pemerintahan Soekarno, dan memberikan jalan bagi asing untuk menjatuhkan pemerintahan Soekarno.

Pemerintahan Jokowi dikhawatirkan berwarna sama, sebab secara politik di mata sebagian orang, Jokowi hanya petugas partai. Dan orang takut dengan dominasi Mbak Mega dan PDIP di negeri ini.

Jika argumentasi ini benar dan rakyat tidak bisa dikendalikan, saya takut orang luar ikut campur dan memecah belah negeri sampai terjadi perang saudara. Sebab potensi itu sudah terlihat. Sebagian orang sangat tidak suka dengan Jokowi.

Terlepas dari pencapaian pemerintahan Jokowi tidak memuaskan sebagian pihak, menurut saya itu bisa diuji saat Pilpres 2019. Tidak perlu harus membakar patung presiden. Sebab itu juga bukan pelajaran politik baik bagi generasi baru.

Harap dipahami bahwa pemerintahan itu tidak bisa memenuhi semua harapan kita, pasti ada plus dan minus. Jangan sampai sikap kita justru memperburuk keadaan. Katakanlah Jokowi harus diganti dengan  faktor bla bla bla. Tetapi sadarkah kita bahwa yang mempertahankan Jokowi juga banyak.

Dan satu nasihat berharga dari saya, dan ini tolong dicatat, para penghina Jokowi itu adalah mereka yang pernah meniń∑mati hidup bebas dan mewah di negeri ini. Dan mereka yang membela Prabowo juga pernah tidak suka dengan dominasi Prabowo.

Dan harus dipahami kedua belah pihak yang berjuang menjadi presiden punya agenda sendiri-sendiri. Dan tak ada pemerintahan negeri ini yang benar-benar berpihak kepada rakyat. Itu semua diatur oleh Undang-undang.

Saya cukup dekat dengan jaringan pemenangan Prabowo dan Jokowi, tetapi saya tidak pernah skeptis dengan Jokowi. Dia sudah bekerja kok. Walaupun belum bisa memuaskan semuanya, itu wajar.

Saya juga berharap tahun depan Prabowo bisa jadi presiden dan membanggakan hati rakyat pencintanya. Lalu apakah semuanya akan baik-baik saja, datar-datar saja, dan tidak ada kehebohan politik. Belum tentu.

Jadi, mari kita jaga keutuhan dan persaudaraan kita selama masa Pilpres. Engga suka Jokowi, pilih Prabowo. Tak perlu bawa-bawa isu dan tindakan anarkis.

Bangsa ini bisa belah dua, percaya omongan saya!. (**)





Komentar : 0


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)