Solok

Manfaatkan Limbah Pertanian Untuk Pakan Ternak

Warta Andalas | Jumat, 14 September 2018 - 17:12:05 WIB | dibaca: 157 pembaca

WARTA ANDALAS, SOLOK - Ingat, mulai saat ini jangan buang dan bakar limbah pertanian.  Manfaatkan untuk pakan ternak. Bagaimana caranya, di Jorong Nan II Suku Nagari Salimpauang Kecamatan Salimpauang Kab. Tanah Datar merupakan nagari yang fokus pada usaha peternakan sapi. Nagari ini juga secara mandiri menciptakan pakan ternak untuk kebutuhan ternaknya tanpa harus membeli dengan harga mahal.

Sumbernya, dari limbah pertanian yang dihancurkan dan difermentasikan selama beberapa hari untuk kemudian dijadikan makanan bernutrisi tinggi. Nagari ini menjadi daerah rujukan bagi propinsi lainnya, mulai dari propinsi Aceh hingga propinsi Papua datang belajar ke Keltan Kubalikopi ini. Kedatangan mereka untuk belajar pengembangbiakan sapi dan membuat pakan ternak secara mandiri. Nagari ini juga ditetapkan jadi kawasan ternak terpadu agribisnis UMKM Tani Ternak Tanjung Lurah. Saat ini diketahui ini memiliki ternak 65 ekor jenis sapi simental, dan khusus pada pengembangbiakan atau anakan.

Wakil Walikota Solok, Reiner, ST, MM, Intan Batuah, didampingi Kadis Pertanian Kota Solok Ikhvan Marosa, Taufig Rusli dari Kesehatan Hewan Dinperta Kota Solok, mengatakan Kota Solok bisa menjadi sentra pengembangbiakan dan penggemukan sapi. Kuncinya, para petani ternak yang ada di Kota Solok harus  serius dan mau belajar dalam beternak. Dengan belajar peternak mampu menciptakan pakan yang berkualitas tanpa harus tergantung pada ampas tahu.

Ampas tahu disamping harganya mahal juga untuk mendapatkannya cukup sulit karena banyak peternak yang membutuhkannya. Jika semua peternak komitmen dalam budidaya ternak maka Kota Solok diyakini akan swasembada daging bahkan mampu menjadi exportir daging. Tentu semua itu tergantung kemauan, keseriusan, dan keyakinan petani bahwa dengan beternak akan mampu mengangkat taraf hidup petani  karena akan menghasilkan keuntungan besar. "Yang utama bagaimana petani bisa menjadikan ternak menjadi usaha yang memiliki masa depan," ujarnya.

Yonasri, Ketua Kelompok Tani Kubalikopi didampingi Walinagari Salimpauang, Marjohan, kepada rombongan mengungkapkan pada awal beternak sapi dirinya dikatakan gila oleh orang lain. Karena tanpa sekolah tinggi dan tamatan SMP, mampu menciptakan pakan ternak yang berkualitas yang diolah dari limbah-limbah yang ada disekeliling kandang.

Diantaranya, limbah jerami, sayur-sayuran, rumput ilalang, daun sawit, daun sereh wangi, batang sagu, batang sawit, dedaunan, daun pisang dan batang pisang dll. Kemudian sapi ini juga diberi jus yang berasal limbah pasar seperti terong, tomat, Japan, lobak, dan limbah lainya. Semua ini diolah dan dibikin jus sehingga menambah nutrisi sapi dan otomatis daging sapi jadi naik. 

Yonasri mengungkapkan semua limbah dicampur dan difermentasikan selama 6 hari dan bisa langsung diberikan kepada sapi. Hasil fermentasi ini juga menghasilkan kotoran yang tidak bau. Bahannya hanya menggunakan limbah jerami 1 ton, gula tebu 1kg, urea 3 ons, gula tebu 1 kg, plus bahan lainnya akan menghasilkan pakan berkualitas serta kotoran anti bau. Kotoran sapi juga dimanfaatkan untuk menghasilkan gas metan yang bermanfaat untuk penerangan dan untuk memasak berupa gas.

Begitu juga kencingnya juga bisa dimanfaatkan jadi pupuk setelah diolah dan didiamkan selama 15 hari agar kandungan garam dan gas yang ada pada kencing sapi hilang, untuk selanjutnya bisa digunakan jadi bahan pupuk. Bahkan jadi rupiah dengan harga yang menjanjikan perliternya. Harga pakan fermentasi juga sangat murah yakni Rp. 1.500/Kg dan kencing sapi Rp. 15.000/Liter.

"Saya belajar otodidak tanpa sekolah tinggi. Kuncinya mau, yakin, jujur dan tidak menyerah. Ilmu saya peroleh dan saya manfaatkan untuk petani dan tidak saya simpan. Saya siap datang ke Kota Solok untuk berbagi ilmu dengan petani" Ujarnya. "Jangan sekali-kali memberi ampas tahu pada sapi karena resikonya daging jadi berair dan lembek. Jika telat memberi ampas tahu sapi beresiko sakit dan berujung pada kematian," tuturnya.

Solusinya, kata Yonasri, beralihlah pada kacang kedelai karena kacang kedelai mampu mencegah penyakit pada sapi. (Zfk)





Komentar : 0


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)