Opini

Catatan Andrio An

Kotak Kosong (Fenomena Calon Tunggal Kepala Daerah)

Warta Andalas | Minggu, 15 Januari 2017 - 16:42:56 WIB | dibaca: 259 pembaca

Walaupun revisi UU No.8 tahun 2015 tentang Pilkada sudah disahkan dan tetap memberi ruang bagi calon kepala daerah tunggal dalam perhelatan Pilkada, tapi tetaplah memberi ruang yg cukup menggelitik pemikiran saya sebagai politisi yang masih kelas abal-abal untuk kemudian mencoba melihat dengan  jernih walaupun sedikit nyeleneh terhadap fenimena ini.

Calon tunggal tetap mengikuti tahapan sama persis seperti tahapan Pilkada  di tempat lain yg punya beberapa calon.sampai ke tahapan akhir pencoblosan yang diikuti oleh calon tunggal dengan KOTAK KOSONG.

Nah, disini saya dengan segala pemikiran nyeleneh, saya melihat sebuah kemubaziran.. baik kemubaziran waktu, anggaran dan hal-hal yang sepertinya bisa dialihkan buat mengurus segala hal yang lebih bermanfaat..

Ada fenomena daerah anyg kemudian membuat semacam aliansi untuk kemudian mendukung KOTAK KOSONG untuk melawan calon tunggal...aneh saja menurut saya yang lebih mengedepankan HASIL dalam sebuah tuntutan.

Kalaupun kemudian KOTAK KOSONG yang memenangkan pemilihan..juga tidak akan menghambat penetapan calon tunggal sebagai pemenang pemilu.. Nah, jadi kenapa harus dipaksakan tahapan  Pilkada-nya sampai tuntas?. Kenapa tidak kemudian tahapan ini kemudian dipangkas dan diperpendek dengan kemudian menetapkan saja calon tunggal sebagai pemenang Pilkada dalam plenonya KPU,  dengan konsekuensi bisa menghemat waktu dan anggaran sehingga bisa dialokasikan buat hal-hal lain yan lebih urgent dan lebih bersifat kemasyarakatan...

Terlepas dari apa dan bagaimana, maka bisa tercipta calon tunggal ini. Setidaknya, hal ini semua sudah menjadi sebuah kesepakatan di ranah politik yang memang sudah sesuai dengan UU No.8  tahun 2015 dengan segala revisinya...

Seyogyanyalah kalau memang ada daerah yang hanya ada calon tunggal, maka cukup ditetapkan saja dalam pleno KPU menjadi kepala daerah terpilih daripada kemudian tetap menjalani tahapan sesuai dengan aturan yang kesannya jadi seolah2 jadi DAGELAN saja dan menciptakan stigma negatif di masyarakat yang menilai hal ini hanya sebuah legitimasi saja untuk memakai dan menghabiskan anggaran Pilkada yang sudah terlanjur dianggarkan.

Karena calon tunggal tetaplah akan jadi pemenang terlepas dari si KOTAK KOSONG yang mungkin akan mengungguli nantinya di saat pencoblosan.

Yaaaaaa tapi sudahlah..bersuara saja tak akan didengar. Tapi setidaknya, saya sudah mencoba saja untuk jujur dengan pikiran nyeleneh saya menyangkut tentang hal ini hahahaha..

Salam Pilkada KOTAK KOSONG deh.....(**)





Komentar : 0


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)