Lintas Provinsi

Kemenkes RI Monitor Pembangunan Kesehatan di Batas RI-RDTL

Warta Andalas | Selasa, 09 Mei 2017 - 09:53:03 WIB | dibaca: 151 pembaca

WARTA ANDALAS, ATAMBUA - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat memantau langsung pembangunan bidang kesehatan di wilayah perbatasan RI-RDTL, Kabupaten Belu. Kehadiran Tim Kementerian, Kamis (4/5) di Gedung Wanita Betelalenok Atambua di terima langsung oleh Bupati Belu dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Belu.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, drg. Oscar Primahadi, M.Ph mengatakan, kehadirannya bersama puluhan media massa baik cetak, elektronik dan online Nasional tersebut ke wilayah Provinsi NTT dan Kabupaten Kabupaten Belu khususnya adalah untuk memotret dari dekat perkembangan pembangunan kesehatan di wilayah perbatasan ini. 

“Kegiatan kunjungan lapangan tematik ini merupakan rangkaian kunjungan kerja dari Menteri Kesehatan ke Provinsi NTT yang berkenaan dengan penyerahan beberapa dokter yang ikut di dalam program wajib kerja dokter spesialis. Itu kita serahkan ke Pemerintah Provinsi NTT sebanyak 9 orang dokter spesialis. Sebelumnya Menteri Kesehatan juga mengunjungi beberapa sekolah dasar di Kabupaten TTS, untuk melihat kegiatan perilaku hidup bersih sehat anak-anak sekolah di sana. Selain itu kita juga mengunjungi Puskesmas-puskesmas di Provinsi NTT untuk melihat program-program yang sudah di kembangkan oleh dinas kesehatan setempat,” ungkap Primahadi.

Khususnya kehadiran Tim Kementerian ke wilayah Kabupaten Belu adalah untuk menyoroti perkembangan penyakit malaria yang masih menjadi persoalan di sejumlah Provinsi termasuk Provinsi NTT. 

“Di Belu yang kita soroti malaria , selain itu kita ingin memotret langsung pembangunan kesehatan yang sudah dilakukan di Kabupaten Belu selama ini,” tukasnya.

Terkait penanganan kesehatan Pemerintah Pusat telah menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat. Inpres itu dikeluarkan dalam rangka upaya bersama, bahwa pembangunan kesehatan tidak bisa semata-mata dibebankan kepada Kementerian Kesehatan. 

“Kita harus bergandengan tangan, dari semua kementerian, dari semua lembaga, dari semua level, semua masyarakat, semua institusi Pemerintahan Provinsi, Pemerintah Daerah hingga kepada insan pers, sehingga upaya-upaya ini bisa terstruktur, tersinergi dan tersistematis sehingga kita dapat membangun kesehatan lebih baik,” katanya.

Menyinggung malaria, drg. Oscar mengatakan, pihak kementerian sedang menggalakan Pembangunan Indonesia Sehat melalui pendekatan keluarga. 

“Malaria tidak hanya sekedar malaria, tetapi mencakup persoalan lingkungan, hygiene dan sanitas, serta perilaku hidup bersih sehat dari pada masyarakat. Untuk itu bagi teman-teman di Puskesmas, kita coba menggerakan upaya-upaya bersama untuk membangun kesehatan di daerah dengan tidak hanya bertumpu kepada program yang ada,” urai drg. Oscar Primahadi.

Sambungnya, terkait perwujudan Indonesia sehat melalui pendekatan keluarga, Ia mengharapkan kepada petugas puskesmas, agar dapat mengidentifikasi setiap masalah kesehatan secara langsung kepada rumah tangga/keluarga yang terintegrasi. 

“Nanti teman-teman di Puskesmas akan turun langsung ke rumah-rumah masyarakat dalam bentuk sebuah tim. Dimana ada Ahli Gizi, Ahli Kesehatan Lingkungan, Dokter, Perawat dan Bidan ikut bersama-sama dalam satu tim untuk mendekatkan pelayanan kesehatan langsung kepada keluarga. Jadi kita tidak lagi menunggu, tetapi kita ikut bergerak ke lapangan sehingga upaya-upaya pendekatan keluarga ini kita harapkan dapat menyehatkan masyarakat ke depannya,” pinta Primahadi.

Bupati Belu, Willybrodus Lay, SH mengatakan, Program Nawacita Jokowi, “Membangun Indonesia Dari Pinggiran” begitu berdampak kepada perhatian Pemerintah Pusat ke wilayah perbatasan RI-RDTL. 

“Kami sangat merasa, bahwa pembangunan selama ini benar-benar menyentuh kami yang berada di pinggiran ini. Sebelumnya kami merasa berada dibelakang, bukan sebagai beranda depan, tetapi perhatian Presdien RI kepada wilayah ini, membuat kami bangga untuk menjadi beranda depan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ungkap Bupati Willy.

Kebanggaan ini tentunya, demikian Bupati Belu bahwa perlu di imbangi dengan pemberantasan malaria secara masif, sehingga lingkungan menjadi bersih dan nyaman. 

 “Ketika lingkungan kita masih kotor dan rawan penyakit malaria, tentunya orang tidak akan berkunjung ke sini. Malaria sebagai satu penyakit yang menghantui masyarakat di Kabupaten Belu, tetap menjadi perhatian serius, karena setelah musim hujan, masih terdapat banyak genangan air yang menjadi tempat perkembangbiakan jentik-jentik nyamuk. Persoalan inilah yang menggerakan kita untuk memberantasnya secara bersama-sama,’ ajaknya serius

Sedangkan untuk keberlanjutan pembangunan kesehatan di Kabupaten Belu, Bupati Willy menekankan bahwa, perhatian terhadap aspek gizi, hygiene dan sanitasi, tidak hanya dibebankan kepada lembaga-lembaga yang menangani masalah kesehatan, tetapi harus menjadi perhatian dan kesadaran semua elemen masyarakat. (pkpsetdabelu)





Komentar : 0


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)