Pinto Janir

Jadi Lilin Atau Jadi Bola Lampu? ( Tuhan Ingin Dikenal)

Warta Andalas | Kamis, 12 Desember 2013 - 19:56:40 WIB | dibaca: 1356 pembaca

Menyaksikan pentas kehidupan yang tajam, gawat dan terkadang kacau dalam dinamika yang berdentang kencang, tak jarang kita acap terjebak pada ruang kepatah-hatian, hilang semangat, hilang gairah, hilang garah lalu depresi. Stress!

Penyakit gelisah, penyakit was-was, penyakit kecurigaan yang berlebih, penyakit ketakutan, penyakit jantung berdebab-debab tak karuan menjadi penyakit yang membudaya di tengah kehidupan yang kian galau!Hati sakit, otak sakit, langkah sakit, pada akhirnya kita seperti ‘hidup segan mati enggan!’

Ah, mengapa ini terjadi?

Beragam alasan yang menjadi sebab. Seperti, banyak pikiran yang tak sampai dan tak selesai. Banyak harapan dan keinginan yang tak sesuai kenyataan. Banyak kehendak yang tak sebanding kemampuan. Kemudian segala kehendak dan keinginan serta harapan itu menggumpal di pembuluh darah dan lalu menghambat jalannya darah di nadi kehidupan. Makin lama, nadi yang tersumbat makin bengkak oleh desakan arus darah ke otak, pada akhirnya pembuluh darah itu pecah...saat itu juga kita mati!

Banyak orang yang mati dalam keinginan –keinginan yang tak selesai dan ia bawa hingga ke liang lahat. Sungguh, sebuah kemalangan kehidupan yang tak terkira.

Banyak di antara kita yang mengingkari nikmat kehidupan yang diberikan oleh Allah swt, sehingga sampai hati mencaci maki kehidupan sendiri dalam umpatan yang tiada henti. Banyak di antara kita yang tanpa sengaja memojokkan diri sendiri sehingga diri marasai berketerusan. Terkadanmg kita terlalu sering menyenangkan orang tapi lupa menyenangkan dan menghibur diri sendiri. Pada saat itu, kita benar-benar menjadi lilin dalam arti yang sebenarnya yakni memberi cahaya dan memanggang diri, lenyap diri cahaya lenyap pula. Mengapa kita tak membveri cahaya pada orang lain tanpa harus memanggang diri sendiri?

Saatnya kita tak lagi harus menjadi lilin, tapi adalah menjadi bola lampu yang tetap memberi cahaya tanpa harus melukai diri. Sebuah lampu, selagi ada energi listrik yang menghidupinya, ia akan terus bercahaya---sesuai kekuatannya---tanpa harus melukai dan memecahkan ‘kaca’ itu sendiri.

Pada kebenaran Tuhan kita meyakiniNya dengan penuh iman. Tuhan kita adalah Tuhan yang cerdas. Saya rasa, kecerdasan Tuhan menjadi sifat bagi manusia.Penglihatan Tuhan menjadi sifat bagi manusia. Pendengaran Tuhan menjadi sifat bagi manusia. Banyak sifat-sifat Tuhan yang ada pada diri manusia.

Saya berpikir, mungkin karena begitu sangat ‘berbahaya’nya manusia dan di balik kasih Tuhan yang tiada terkira pada insan manusia, sehingga Tuhan menurunkan firmanNya yang tersusun dalam kitab suci AlQuran. Tidakkah kita bertanya, mengapa Tuhan tidak menurunkan kitab suci kepada Malaikat? Mengapa Tuhan tidak menurunkan kitab suci khusus kepada jenis jin? Mengapa?

Renungkanlah. Carilah jawabannya di hati nurani kita yang paling suci.

Kegelisahan mengapa ada? Kecemasan mengapa bersemayam? Kegamangan mengapa menikam? Mengapa, oh Tuhan?

Semua itu terjadi karena kita lari dari kebenaranNya. Lari dari kebenaran Alqur-an yang terkadang lupa dalam amalan karena sibuk mengurus dunia yang selalu menggoda dan bergelora. Padahal Al-qur-an untuk menjinakkan dunia dan menghantarkan kita pada kehidupan akhirat yang lebih menyenangkan. Al-quran adalah obat dari segala rupa obat dalam menyembuhkan penyakit dunia maupun penyakit akhirat!

Mengapa ada penyakit?

Penyakit ada karena pikiran yang tidak sehat.Karena, hati yang kumuh. Karena langkah kaki yang kita langkahkan adalah kaki-kaki keterpaksaan. Kaki-kaki berat. Kaki-kaki yang tidak ikhlas.Kaki-kaki yang tak lagi menganggap perjalanan kehidupan menuju kebaikan adalah bagian dari jihad!

Kalau kita tak lagi menganggap bahwa kehidupan adalah bagian dari jihad, maka hati,pikiran,langkah dan kehidupan cendrung menjadi jahat. Saat itu, kita menjadi mesin perusak yang dahsyat!

Bagaimana menjalani kehidupan yang sebentar ini?

Kita harus mengambil peran atas kemampuan dan kemauan diri kita sendiri yang tak mencelakai lingkungan.  Jangan terlalu sering memaksakan diri. Usah melakukan pekerjaan yang tak berhinggap dalam ‘pangana’. Tak perlu berkecil hati ketika mana kita berkekurangan dalam soal ‘harta’ atau tahta.

Tuhan telah mengamanahkan peran kepada diri kita masing-masing dan itu tentu saja sesuai dengan ‘diri’. Kita hanya menjalaninya dengan ikhlas tanpa umpatan. Ingatlah, janji Tuhan, bahwa Tuhan tak akan memberi sebuah persoalan di luar batas kemampuan diri kita. Tiap persoalan, pasti terukur dan bermakna. Tak ada persoalan tanpa ukuran.Dan Tuhan pun berjanji, bahwa tak ada kesusahan yang berkepanjangan selagi kita tetap berdoa dan berikhtiar.

Di mata Tuhan kita sama. Pembedanya amal ibadah.

Di mata dunia kita berbeda, pembedanya; ‘prestasi,harta dan tahta’.

Nuklis kehidupan itu sebenarnya ‘pengakuan’. Kita hidup dan kita ada dan kita diciptakan Tuhan, tak lebih dari soal pengakuan. Tuhan menciptakan kita dan seluruh jagat raya adalah untuk pengakuan. Tuhan menciptakan kita dan segalanya adalah ‘supaya kita mengenal Tuhan”. Niscaya, Tuhan ingin dikenal. Bila Tuhan tak ingin dikenal, tak mungkin segala ini ada....

Sekarang baiklah, marilah kita lemparkan segala penyakit hati, pikiran, dan penyakit perbuatan. Segala hal yang berbau sakit-sakit itu, sumbernya adalah dari dari kita sendiri juga. Niscaya, segala kebaikan pasti datangnya dari Tuhan.

Kita percaya Tuhan itu ada dan nyata, seperti halnya kita percaya bahwa diri dan kehidupan ini ada dan nyata!

Tak ada persoalan yang terlalu berat di dunia ini, kecuali kematian.

Tak ada kusut yang tak terselesaikan.

Sekusut-kusut sarang tempua, api tempat bertanya.

Untuk itu, kita selesaikan persoalan kehidupan ini satu persatu tanpa harus menunggu waktu dan tanpa harus membiarkan dia bergenang-genang yang membuat kehidupan kita tenggelam!





Komentar : 0


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)