Sawahlunto

Icomos Bakal Segera Tiba, Sawahlunto Menuju Kota Warisan Dunia

Warta Andalas | Jumat, 08 Juni 2018 - 19:22:49 WIB | dibaca: 294 pembaca

WARTA ANDALAS, SAWAHLUNTO – Sejak tanggal 30 Januari 2015 silam, kota Sawahlunto telah masuk dalam daftar sementara UNESCO sebagai Old Coal Mining Town. Warisan Budaya Tambang Batubara Ombilin-Sawahlunto merupakan himpunan teknologi pertambangan, pengangkutan, pelabuhan serta perkotaan terkait batubara di Sumatera Barat, dalam kisaran waktu antara tahun 1858 sampai 1930, yang tersebar di beberapa kabupaten dan kota.

Proses pengusulan “Tambang Batubara Ombilin-Sawahlunto” untuk dijadikan warisan budaya dunia UNESCO diawali dengan diajukan dan diterimanya dokumen “Sawahlunto Old Mining Town” dalam Daftar Sementara UNESCO pada tanggal 30 Januari 2015.

Berdasarkan masukan pakar Warisan Dunia Asia dan Pasifik, Richard A. Engelhardt, dalam Workshop Evaluasi Identifikasi Atribut Universal Luar Biasa yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 27 November 2017 yang dihadiri oleh Pemkot Sawahlunto, PT KAI dan PT Bukit Asam, maka lingkup pengusulan diperluas yaitu tidak hanya mencakup Kota Lama Sawahlunto, melainkan seluruh komponen tambang batubara Ombilin dari area tambang sampai dengan tempat penimbunan akhir batubara di area pelabuhan Emmhaven untuk memperkuat Nilai Universal Luar Biasa (OUV).

Adapun sintesa pernyataan Nilai Universal Luar Biasa Tambang Batubara Ombilin-Sawahlunto adalah:

- Tambang batubara Ombilin,Sawahlunto merupakan contoh yang luar biasa dari perintis dari gabungan/rangkaian teknologi yang direncanakan dan dibangun oleh insinyur Eropa di salah satu koloni mereka di Asia dirancang untuk mengekstrak batubara - sumber daya strategis masa Revolusi Industri

- Menunjukkan perkembangan teknologi perintis, penggabungan pengetahuan teknik Eropa dengan kearifan lingkungan lokal dan praktek-praktek tradisional dalam organisasi kerja

- Dibangun untuk mengeksploitasi deposit batubara Ombilin yang sangat kaya, terletak di daerah perbukitan yang tidak dapat diakses dari Sumatera barat-tengah, Indonesia, Tambang batubara Ombilin Sawahlunto merupakan sebuah ensemble teknologi yang luas yang terdiri dari tiga bidang fungsional terkait dengan luas total 97,32 hektar, dengan zona penyangga memanjang seluas 6,488.41 hektar yang menghubungkan tiga wilayah fungsional

- Ensemble teknologi yang masih utuh dan sangat terawat baik ini terdiri 23 atribut yang didistribusikan di 10 cluster yang berbeda antara 3 wilayah utama, dibangun secara bertahap antara akhir abad 19 dan awal abad ke-20, dan digunakan terus menerus sampai kegiatan tambang di nonaktifkan di 1998.

Selama ini, penyusunan rencana pengelolaan yang menjadi bagian dari dokumen pengusulan, melibatkan Kota Padang, Kota Sawahlunto, Kota Padangpanjang, Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Padang Pariaman.

Evaluasi terhadap batas keseluruhan wilayah Tambang Batubara Ombilin-Sawahlunto yang disampaikan dalam workshop Final Review of the Management Plan of Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto, yang diselenggarakan di Kota Padang pada tanggal 21 – 26 Agustus 2017, menghasilkan masukan untuk menambahkan Kabupaten Solok dan Kota Solok sebagai bagian dari keutuhan rangkaian cerita Nilai Universal Luar Biasa “Tambang Batubara Ombilin-Sawahlunto”.

Pada Bulan September 2017 telah dikirim dokumen Dossier dan Management Plan Tambang Batubara Ombilin-Sawahlunto sebagai Voluntary Submission untuk meminta masukan WHC UNESCO terhadap keseluruhan isi dokumen.

Sementara itu, menurut Kepala Dinas Kebudayaan Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman kota Sawahlunto, Drs. Hendri Thalib, dalam gelar jumpa pers usai pelaksanaan Buka puasa bersama di Gedung Pusat Kebudayaan (GPK) Kamis (7/6) malam, hingga tahun 2018 ini dokumen tersebut telah mengalami beberapa kali perubahan.

Dan saat ini, ujar Hendri Thalib, kota Sawahlunto sedang menunggu kedatangan tim survey yang akan membuktikan langsung kondisi kota Sawahlunto sesuai dengan data yang telah diberikan.

“Dari informasi yang diterima, kedatangan tim ICOMOS ini diperkirakan bulan Agustus atau Minggu kedua September mendatang. Tim itu juga aka nada dua, yaitu tim yang datang dengan memberitahukan kepada pemerintah, dan tim yang datang secara diam-diam,” sebut pria yang akrab disapa Papi itu.

Untuk itu, lanjut Papi, kami sangat berharap kepada masyarakat kota ini untuk turut mendukung dan berpartisipasi sehingga kota ini akan berhasil masuk dalam daftar kota lama warisan dunia atau world heritage.

“Terutama kepada seluruh rekan media yang bertugas di kota Sawahlunto agar dapat membantu mensosialisasikan hal ini ketengah masyarakat melalui pemberitaannya, sehingga nantinya seluruh masyarakat kota ini dapat memahami dan mengetahuinya,” pintanya.

Sebab, imbuh dia, setelah kota ini menjadi kota Warisan dunia, tentunya akan banyak datang wisatawan yang akan berdampak pada munculnya usaha-usaha di tengah masyarakat seperti souvenir, kuliner dan lain sebagainya untuk kemajuan ekonomi.

“Namun demikian, tanpa dukungan seluruh stake holder yang ada di kota ini, hal itu akan sulit terwujud,” pungkasnya. (ap)





Komentar : 0


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)