Opini

Oleh: Drs Sjachril Djaja MSi (Konsultan Manajemen)

Globalisasi Ekonomi Asean Plus Three ( Jms Consulting)

Warta Andalas | Minggu, 12 Januari 2014 - 13:03:16 WIB | dibaca: 1604 pembaca

Asean Free Trade Area (AFTA) yg menyepakati perdagangan bebas dimulai tahun 2015, negara2 dimaksud adalah : Laos,Malaysia, Myanmar, Pilipina,Brunei Darusalam,Kamboja, Singapura,Thailand, Indonesia ,dan Vietnam.Kemudian negara maju Asean lainnya tertarik pula ikut menjadi anggota dan masuk di pasar bebas Asean yaitu : RR China, Jepang dan Korea Selatan.

Dapat anda bayangkan ke tiga negara maju dan kuat ekonominya itu akan ikut bersaing di pasar bebas Asean tanpa ada lagi pembatasan tarif (bea masuk) di masing masing negara. Dengan diberlakukan bea masuk impor saja ,indonesia sudah kewalahan dg membanjir barang barang dari china ,apatah lagi tanpa pembatasan bea .Belum lagi serangan produk dari Jepang dan Korea Selatan.

Penulis heran kok Indonesia dan dunia bisnis kita santai santai saja,adem adem saja seperti tidak akan terjadi apa apa.Saya teringat saat kuliah S2 oleh seorang dosen di UNHAS dulu pada tahun 1997 katanya begini . Kita jangan seperti katak dalam panci diatas tungku yang berisi air sejuk.Pada tungku itu hidup api kecil dan pela pelan memanaskan air dalam panci,si katak menyesuaikan diri dengan panas air tadi dan santai santai saja,namun pada akhirnya air itu benar benar panas dan si Katak tidak mampu melompat keluar panci karena lemas dan akhirnya mati. Jangan itu terjadi pada dunia bisnis kita ,terutama UKM yg banyak menyerap tenaga kerja.Kalau UKM banyak mati bangkrut ,memang kita masih bisa bekerja tapi menjadi tenaga kerja (kuli) perusahaan asing yg akan ber investasi disini.Inga..inga !!!

Misal usaha RM Padang yg penulis amati : RM makannya ramai pelanggan karena makanan padang memang enak,apalagi randangnya,pangeknya,dendeng baladonya dan lainnya.Tapi kalau kita makan harganya selangit tidak kurang satu porsi dengan sepotong randang dan teh manis harga Rp.30.000,- belum lagi kadang kadang sebagai orang baru datang/perantau kanai panguah.Nah ini hati hati jauh dari kepuasan pelanggan,pelanggan bisa lari. Kenapa orang suka makanan padang dimana mana adalah selain makan padang lamak juga ter jamin ke halalan nya sehingga ramai pelanggan.Tapi dalam ekonomi bebas Asean RM Thailand juga banyak pengusaha muslimnya dan mampu menjual makanan enak dengan harga murah misal 1 porsi kenyang Rp.15.000 atau Rp.20.000 saja dengan tempat yg nyaman,dan ndak ado panguah..Saya sudah coba beberapa masakan Thailand di luar Negeri lamak juo,nanti dengan pasar bebas mereka akan datang ke Indonesia. Bagaimana,siapkah kita ???

Banyak contoh lain misal produk mainan anak2 dari china sudah membanjir,barang elektronik korea dan Jepang dan banyak lainya. Disamping kita harus mampu bersaing di dalam negeri,tentu harus mampu pula meng expor barang ke negara asean lainnya,nah ke mampuan strategi bisnis dan penguasaan bahasa perlu sekali, terutama bahasa inggris yg masih menjadi bahasa bisnis. Tentu ,harus mulai hari ini memperkuat pondasi bisnis kita ,dan waktu tinggal satu tahun lagi masuknya Pasar Bebas Asean.

Bukan saja barang tetapi juga persaingan jasa lainnya: sekolah, perguruan,rumah sakit,tenaga ahli ,tenaga terampil ,akan saling bersaing secara fair dan dengan berbagai strategi permainan untuk menang dalam persaingan bisnis. Tetap maju berkembang ,atau mati /bangkrut....Kita jangan seperti katak dalam panci.
(**)





Komentar : 0


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)