Opini

Oleh: Ulfa Niesya Putri (Mahasiswa Ilmu Kesehatan Masyarakat, UNAND)

Euphoria Masyarakat dalam Menyambut Tahun Baru

Warta Andalas | Rabu, 12 Desember 2018 - 08:03:46 WIB | dibaca: 2658 pembaca

Seperti yang kita ketahui bahwa Tahun Baru merupakan suatu moment yang sangat dinanti-nantikan oleh seluruh masyarakat dunia. Banyak dari mereka yang ingin merayakan moment Tahun Baru tersebut, baik itu dengan melakukan perayaan kecil-kecilan di rumah, jalan-jalan bersama keluarga atau pasangan di sekitar wilayah tempat tinggal, dan bahkan ada juga yang merayakannya dengan pergi liburan baik itu ke luar daerah, kota, ataupun ke luar negeri.

Bagi mereka yang merayakan atau menyambut Tahun Baru dengan mengadakan perayaan kecil-kecilan di rumah, itu bisa seperti pesta barbeque, kumpul-kumpul bersama keluarga besar, dan lain sebagainya.

Lalu, bagi mereka yang menyambut Tahun Baru dengan berpergian di sekitar wilayah tempat tinggal, bisa seperti mengunjungi tempat-tempat yang memang mengadakan pesta penyambutan Tahun Baru setiap tahunnya dan dibuka untuk umum.

Bagi yang memilih untuk pergi liburan ke luar daerah, kota, atau luar negeri baik itu bersama keluarga ataupun dengan teman-teman ini, mungkin memang sudah direncanakan jauh-jauh hari sebelum Tahun Baru itu datang.

Banyak dari mereka yang menganggap moment Tahun Baru ini dapat dijadikan sebagai moment refreshing diri setelah melakukan kegiatan yang padat dalam setahun belakang.

Moment ini dapat digunakan untuk melepas segala penat yang dirasakan dalam setahun ini baik itu karena bekerja, sekolah, kuliah, berbisnis dan lain sebagainya. Bagi yang memilih liburan ke luar negeri, mereka ingin merasakan bagaimana moment perayaan Tahun Baru di negara orang, misalnya saja orang Indonesia yang pergi liburan menyambut Tahun Baru di Inggris.

Namun, banyak pula dari masyarakat yang tidak bisa ikut merasakan perayaan menyambut Tahun Baru tersebut, salah satu alasannya yaitu adanya pekerjaan akhir tahun yang padat dan tidak dapat ditinggalkan. Hal ini biasanya dirasakan oleh para pegawai negeri yang memang setiap akhir tahun selalu mendapatkan pekerjaan yang sangat padat sehingga mereka tidak bisa merasakan moment penyambutan Tahun Baru yang terjadi satu tahun sekali ini.

Pastinya mereka merasa iri kepada orang-orang yang bisa menyambut moment Tahun Baru itu bersama orang-orang terdekatnya, sedangkan mereka hanya berada di kantor dengan tugas dari atasan yang sangat banyak. Hal ini juga terjadi pada kalangan artis, di Indonesia misalnya.

Mereka selalu mendapatkan jadwal atau job yang sangat padat pada akhir tahun setiap tahunnya. Ini menyebabkan para artis tidak dapat berkumpul dengan keluarganya dalam menyambut Tahun Baru. Sekalipun mereka diberi hari libur atau cuti kegiatan pada akhir tahun, itupun hanya maksimal tiga hari lalu mereka akan kembali bekerja seperti biasanya.

Namun, dari perayaan menyambut Tahun Baru yang setiap tahunnya dilaksanakan itu juga banyak menimbulkan beberapa masalah. Dimana mereka yang biasanya melakukan perayaan tersebut menyebabkan terjadinya kemacetan di berbagai wilayah atau tempat yang memang biasa menyelenggarakan kegiatan perayaan tersebut.

Banyak warga di sekitar wilayah tersebut yang merasa terganggu dengan keramaian yang ada di wilayahnya. Dan biasanya mereka yang merayakan Tahun Baru itu melakukan konvoi massal di jalanan dan meniup-niup terompet di tempat-tempat yang biasanya menjadi pusat keramaian tersebut. Hal ini kemudian menjadi kontroversi oleh beberapa masyarakat sekitar dengan para pendatang yang merayakan Tahun Baru.

Maka dari itu, sebaiknya dalam perayaan menyambut Tahun Baru itu haruslah dilakukan dengan tidak mengganggu kondusifitas suatu daerah. (**)





Komentar : 0


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)