Opini

Oleh: Charlie Ch. Legi, S.Sos

Duka Pasar Senen, Duka Kita Juga

Warta Andalas | Rabu, 01 Februari 2017 - 09:08:03 WIB | dibaca: 229 pembaca

PASAR Senen kini telah kosong melompong. Bangunan pasar tertua di Jakarta itu hitam legam setelah terbakar 19 Januari 2017 lalu.

Pascakebakaran, Pasar Senen berduka. Tak terdengar lagi hiruk pikuk pedagang yang menyorakkan dagangannya. Roda perekonomian pedagang seakan kembali ke titik nadir. Mereka yang masih memiliki modal, terus mencoba bertahan "menggalas" (berjualan) di pinggir jalan depan Pasar Senen.

Meski kejadian kebakaran jauh di Jakarta sana, tetapi duka para pedagang terasa hingga ke Ranah Minang. Sebab, pedagang yang berjualan di Pasar Senen hampir didominasi oleh "urang awak". Sebanyak 1.661 pedagang di Pasar Senen merupakan perantau Minang. Dalam sekejap saja api telah meluluhkan harapan perantau Minang untuk dapat bertahan hidup di Jakarta.

Jika dihitung-hitung, sudah berkali-kali Pasar Senen dimamah api. Namun kebakaran kali ini termasuk paling hebat. Lebih kurang 500 kios ludes terbakar.

Ketika berdiri pada tahun 1735, Pasar Senen dinamai Pasar Snees. Disebut Pasar Snees karena pedagangan di pasar ini berlangsung setiap hari Senin dan didominasi oleh masyarakat etnis Tionghoa.

Dalam perjalanannya nama pasar ini berubah menjadi Vinck Passer. Nama ini merujuk kepada arsitek pengembang pasar tersebut yakni Yustinus Vinck.

Pembangunan Pasar Senen bersamaan dengan dibangunnya Pasar Tanah Abang. Meskipun awalnya pasar ini hanya dibuka pada hari Senin, namun pada tahun 1766, pasar yang ramai dikunjungi ini akhirnya dibuka untuk hari selain hari Senin.

Dalam perkembangannya wajah pasar Senen serta kawasan di sekelilingnya senantiasa berubah. Selama lebih dari 274 tahun kawasan pasar ini menyimpan banyak cerita dan sejarah terjadi di dalamnya. Memasuki era 1970-1990an, kawasan Pasar Senen semakin membesar dan tumbuh sebagai pusat ekonomi dan hiburan.

Saat itu pulalah pedagang "urang awak" mendapat tempat di Pasar Senen. Pedagang Minang yang awalnya hanya berdagang kecil-kecilan, berubah menjadi pedagang besar berkat untung yang mereka kumpulkan.

Fenomena kehebohan kawasan Pasar Senen sebagai pusat perekonomian dan hiburan semakin menjadi-jadi saat Gubernur Ali Sadikin mencanangkan pembangunan “Proyek Senen” yang dilengkapi fasilitas gedung parkir melingkar. Ini menjadi lokasi gedung parkir pertama yang ada di Jakarta.

Sayangnya sejak peristiwa kerusuhan massal tahun 1998, pamor kawasan Pasar Senen mulai meredup. Kini, kawasan Pasar Senen mulai ditinggalkan. Kemegahan dan kemewahannya perlahan memudar. Kios-kios besar kini digantikan oleh para pedagang kaki lima yang menggelar dagangannya hingga tepi jalan. Kawasan pasar bersejarah itupun mulai menjadi kumuh dan tidak terawat.

Puncaknya, 19 Januari 2017 lalu. Pasar ini terbakar hebat. Kebakaran ini melemahkan denyut nadi pedagang, termasuk pedagang"urang awak" di Pasar Senen. Beruntung, Walikota Padang H. Mahyeldi Ansharullah Dt Marajo hadir di tengah-tengah duka yang melanda pedagang Minang, Rabu (26/1) malam lalu. Walikota memberikan motivasi dan semangat kepada pedagang untuk tetap bertahan.

Walikota menyalami satu-persatu dan berbaur bersama pedagang sambil mendengar keluh kesah yang dialami setelah mendapat musibah. Pedagang yang masih bertahan di Pasar Senen ketika itu merasa dihargai dan tidak ditinggalkan.

Kehadiran Mahyeldi di tengah-tengah pedagang telah menambah spirit dan motivasi mereka yang sempat kendor setelah kebakaran melanda. Apalagi Walikota Padang tidak ingin hubungan antara ranah dan rantau terputus.

Diakui memang, keberadaan pedagang "urang awak" di Pasar Senen cukup berpengaruh terhadap perekonomian Sumatera Barat. Bisa dikatakan, barang dagangan yang beredar di Sumatera Barat relatif banyak berasal dari Pasar Senen.

Hingga detik ini belum diketahui penyebab terbakarnya Pasar Senen. Masih menjadi misteri yang belum terpecahkan. Pun begitu, pedagang masih berjualan, meski hanya menggunakan badan jalan.

Sudah selayaknya Pemerintah DKI Jakarta cepat mencarikan lokasi berdagang yang representatif. Sebab, selama ini pedagang Pasar Senen telah berkontribusi besar terhadap perekonomian Jakarta. Budi sudah harus berbalas. Karena tak elok pula rasanya jika Pemkot DKI Jakarta mengabaikan pedagang Pasar Senen hingga terpediarkan dan terlunta-lunta.**

 





Komentar : 1
benjolan di bawah dagu
01 Februari 2017 - 11:17:54 WIB
senangnya ilmu semakin bertambah
<<< 1 >>>


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)