Lintas Provinsi

Di Tepian Negeri, Maestro Seni Tari Jatuh Cinta Pada Likurai

Warta Andalas | Jumat, 05 Mei 2017 - 21:26:35 WIB | dibaca: 158 pembaca

WARTA ANDALAS, BELU - Menyebut kata Likurai, semua mata pembaca akan tertuju ke Kabupaten Belu. Sejak zaman dahulu, Likurai sudah menjadi ikon yang takkan tergantikan. Likurai menjadi pengejawantahan atau perwujudan nyata masyarakat Belu ketika mengungkapkan rasa syukurnya saat menyambut tamu penting. Tarian ini pun sering dibawakan dalam upacara adat dan bahkan dilombakan dalam berbagai pertunjukan seni dan festival. Hingga kini, Likurai tetap dipertahankan dan dilestarikan baik di masyarakat maupun di lembaga-lembaga pendidikan, sebagai salah satu muatan lokal.

Momentum Hardiknas (Hari Pendidikan Nasional) 2 Mei tingkat Kabupaten Belu yang dilangsungkan di Lapangan Umum Atambua, Selasa (2/5) menegaskan esensi Likurai tersebut, sebagai salah satu warisan yang sangat bernilai di mata semua orang yang memiliki Belu. Siapa pun dia dan dari mana saja berada, akan memiliki rasa yang sama (Sense of belonging) saat berada dalam lingkaran yang satu dan sama, bergerak dalam satu seni tari Likurai, sebagai ekspresi jiwa yang penting dalam kehidupannya.

Rasa memiliki (sense of belonging) itu terekspresi ketika 3500 anak sekolah tingkat SD, SMP dan SMA se-Kabupaten Belu, dari Raimanuk hingga Lamaknen Selatan berada bersama dalam satu lingkaran, membentuk gambar matahari sambil menabuh genderang dipadu dengan pukulan gong. Mereka bergembira, berteriak hingga meliukkan tubuhnya menjadi satu paduan yang harmonis mengikuti pukulan genderang. Di bawah teriknya matahari dan debu yang beterbangan, para siswa seakan tidak perduli. Dengan mengenakan busana adat dari berbagai etnis yang ada di Belu, para siswa berlari memasuki lapangan dengan gembira dan tak ada yang menghalanginya. Yang ada dalam pikirannya hanya satu, menari dan menabuh sekuat-kuatnya genderang Likurai dan memperkenalkannya ke dunia. Biarlah dunia tahu, bahwa Belu memiliki Likurai sebagai salah khazanah budaya nusantara yang begitu kaya dan beragam.

Karnaval dan Parade Likurai yang dipertontonkan para siswa Belu kepada khalayak pada Hari Pendidikan Nasional, memberikan aksentuasi positif bahwa Likurai harus terus mendapat tempat terhormat di hati masyarakat. Tarian ini harus tetap terpatri di hati dan nubari masyarakat Belu mulai dari anak hingga orang dewasa. Tarian ini tidak boleh tergerus dan terkikis perkembangan zaman dan arus globalisasi yang kian mendera dan menerjang. Likurai harus terus ‘dilahirkan’ dari masa ke masa, dari generasi ke generasi sehingga takkan pernah hilang dari peredaran dunia. Likurai harus terus bersinergi membentuk nilai kehidupan yang menjadi pedoman dan pegangan bagi perjalanan masyarakat daerah ini.

Eko Supriyanto Percaya Insting Pertama Adalah Eko Supriyanto, dosen ISI Surakarta, penari, dan koreografer yang namanya sekarang melejit di dunia seni menyatakan rasa kagum dan bangganya ketika berada di Atambua di sela-sela kegiatan menjelang puncak Hari Pendidikan Nasional.

Dirinya menyaksikan langsung parade dan tarian Likurai yang diperagakan ribuan siswa. Bersama tim sebanyak 4 orang, Eko Supriyanto, salah seorang penari latar penyanyi dunia Madonna ini menyatakan rasa tertariknya kepada tarian Likurai. “Likurai memiliki gerakan yang sangat beragam, kaya dan indah sekali. Saya sangat tertarik dan ingin sekali mengembangkan dan memperkenalkan Likurai ke dunia luas, sehingga terkenal dan menarik banyak orang untuk datang melihat dan menyaksikannya,” ungkap Koreografer yang menangani drama musikal “Onrop” karya sineas Joko Anwar dan “Diana” besutan Garin Nugroho itu.

Menurut pria kelahiran Magelang yang mendapat beasiswa melanjutkan gelar master bidang seni di University of California, Los Angeles, (UCLA), AS itu, seni dan budaya haru menjadi kebanggaan seluruh masyarakat Indonesia. Seni dan budaya harus selalu menjadi pedoman dalam setiap tindak tanduk dan tingkah insan manusia karena di dalam seni dan budaya itu, ada filosofi tentang keharmonisan dan keseragaman yang tak pernah akan hilang dan luntur.

Bagi lulusan sarjana ISI Surakarta ini, nasionalisme keindonesiaan harus ditunjukkan juga melalui seni dan budaya, yang mampu menyatukan segala kebhinekaan dan keberagaman di bumi nusantara tercinta ini. 
“Bahkan Presiden Jokowi pun selalu mengingatkan seluruh anak bangsa ini bahwa seni dan budaya harus menjadi kebanggaan. Seni dan budaya harus menjadi nilai yang tak terkira bagi perjalanan bangsa ini ke depan,” kata Eko yang kini tengah menjalani studi S-3 bidang pengkajian seni di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, saat acara ramah tamah dengan Forkompinda dan masyarakat Kabupaten Belu di gedung wanita Betelalenok, Selasa (2/5) malam.

Dirinya secara tegas membanggakan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang di mata pendiri Solo Dance Studio itu tak ada duanya. 
“Negara Indonesia yang terdiri dari hampir 17 ribu pulau yang terbentang dari Sabang sampai Merauke tak ada duanya. Indonesia sangat kaya dalam berbagai keberagaman. Namun, dengan berbagai perbedaan itu, Indonesia tetap menjadi satu, tetap utuh di bawah panji Pancasila dan Merah Putih,” ujar lelaki Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 26 November 1970 itu bersemangat.

Khusus tentang tarian Likurai di Kabupaten Belu, lelaki yang sudah mengelilingi seluruh dunia itu mengungkapkan kecintaan yang sangat mendalam. Dirinya benar-benar mencintai nilai budaya yang masih terus terpatri di hati anak cucu Belu ini. 
“Terus terang dalam bekerja terutama di dunia seni dan budaya, Saya sangat percaya dengan insting pertama. Insting pertama itulah yang sering membawa Saya untuk mencari dan menemukan sesuatu yang berharga dan Likurai membuat Saya jatuh cinta kepadanya,” ungkapnya jujur.

Suami Astri Kusuma Wardani yang menjadi Koreografer utama untuk pemilihan Miss World di Bali tahun 2013 ini mengemukakan ketika melihat tarian Likurai di youtube, dirinya langsung jatuh cinta dan berkeinginan untuk harus sampai ke Belu dan melihat langsung tarian ini. 
“Saya rasa ada energi yang sangat kuat mengalir dalam diri untuk datang dang belajar Likurai. Saya berjanji suatu hari nanti Saya akan datang lagi ke Belu, berdiri di sini dan menari Likurai bersama masyarakat Kabupaten Belu,” tuturnya dengan mata berbinar.

Sebagai seniman, Eko Supriyanto mengaku memilik tanggung jawab moril yang sangat besar di negara ini. Bahwasanya Indonesia itu bukan hanya di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan kota besar lainnya. Tapi Indonesia itu juga ada juga di Belu, di Nusa Tenggara Timur. 
“Saya akan selalu ingatkan dalam setiap kesempatan di mana saja berada, bahwa Indonesia itu sangat luas dan bukan hanya di kota besar tapi juga di Belu, di tepian negeri yang memiliki nilai seni dan budaya yang tak kalah hebatnya,” aku pria yang telah menari di berbagai panggung di Amerika Serikat (AS), Eropa, dan Jepang.

Satu hal yang selalu diingatnya bahwa tugas seniman adalah berkarya dan teruslah berkarya untuk menghasilkan nilai seni yang akan selalu dikenang sampai kapanpun.

Bupati Belu, Willybrodus Lay memberikan apresiasi yang mendalam atas kehadiran Eko Supriyanto, maestro seni tradisional yang karyanya sudah mendunia dan namanya sudah melangit itu.

Bagi Bupati Willy Lay, kehadiran Eko menjadi angin segar bagi masyarakat Kabupaten Belu yang berbatasan langsung dengan Negara Timor Leste ini. Tarian Likurai yang menjadi ikon Rai Belu kini sudah harus semakin terkenal. 
“Kami berbangga karena maestro seni tradisional datang dan menyaksikan sendiri. Kiranya tarian Likurai akan semakin mendunia dan terkenal hingga seantero dunia, karena Belu yang berada di tepian negeri ini pun memiliki kekayaan budaya yang tak kalah hebatnya,” kata Bupati.

Kini, tugas dan tanggung jawab ada di pundak seluruh masyarakat Kabupaten Belu. Bukan hanya pemerintah tetapi seluruh elemen masyarakat termasuk dari berbagai bidang. Likurai harus menyatu dengan kehidupan dan rutinitas masyarakat. Likurai dan nilai atau falsafah yang terkandung di dalamnya, harus ters bergerak bersama nafas kehidupan masyarakatnya. Dengan demikian, keinginan untuk terus merawat, memelihara, mempertahankan dan melestarikan Likurai, dapat terwujud. Penciptaan dan kreasi seni dan tarian Likurai pun harus senantiasa dikembangkan sehingga tidak monoton dan terpaku dengan pukulan-pukulan yang stagnan, akan tetapi harus semakin bervariasi, berinovasi dipadu dengan gerakan dan busananya, tanpa meninggalkan ciri khasnya, sehingga tarian Likurai akan selalu mendapat tempat tersendiri bagi masyarakat Belu dan siapa saja yang datang dan berkunjung ke Belu, untuk melihat dan menyaksikannya. Pada posisi dan titik inilah, kehadiran maestro seni tradisional seperti Eko Supriyanto patut diacungi jempol dan didukung, tidak hanya pada momentum dan hari raya tapi yang paling hakiki adalah juga di setiap hari-hari hidup. Dan Likurai sudah mendapat tempat istimewa di hati sang maestro dan kita akan menunggu saat dan panggung yang tepat bersamanya. (pkpsetdabelu/hk)

 





Komentar : 0


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)