Purbalingga

Dapati Berita Cumi Kering Berformalin di Purbalingga, BKIPM Semarang Lakukan Pemeriksaan

Warta Andalas | Selasa, 21 Mei 2019 - 08:15:28 WIB | dibaca: 121 pembaca

WARTA ANDALAS, PURBALINGGA - Mendapati adanya berita di media online terkait cumi kering berformalin di Purbalingga, Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Semarang melakukan pengambilan cumi dan ikan kering di Purbalingga. BKIPM Semarang selaku otoritas kompeten di bawah Kementerian Kelautan dan Perikanan mempunyai wewenang dalam pengawasan dan pengendalian mutu serta keamanan produk perikanan di Jawa Tengah.

“Untuk itu beberapa hari yang lalu BKIPM Semarang menerjunkan tim untuk melakukan koordinasi dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) dan Dinas Kesehatan (Dinkes) Purbalingga melakukan pengambilan sampel ikan dan cumi kering di Pasar Hartono dan Pasar Segamas,” kata Neni, Analis Mutu pada BKIPM Semarang saat dihubungi, Senin (20/5).

Sampel ikan kering yang diambil di Pasar Hartono meliputi teri jengki, belahan bloso, pedo, cumi kering, teri nasi, dan kemaron. Sedangkan sampel yang diambil di Pasar Segamas yakni pedo merah, teri nasi, ebi, pedo kering dan jambal aroma.

“Sampel ikan kering dari dua pasar di Purbalingga tadi selanjutnya dilakukan pengujian kandungan formalin di laboratorium BKIPM Semarang,” imbuh Neni.

Dari hasil uji laboratorium, seluruh sampel ikan kering yang didapatkan seluruhnya positif mengandung formalin. Kandungan formalin dari masing-masing ikan kering yang diambil di Pasar Hartono yakni teri jengki 0,25mg/l, belahan bloso 0,8 mg/l, pedo 0,6 mg/l, cumi kering 0,8 mg/l, teri nasi 1,5 mg/l dan kemaron 0,25 mg/l.

“Sedangkan untuk kandungan formalin pada ikan kering dari Pasar Segamas yaitu pedo merah 0,4 mg/l, teri nasi 0,6 mg/l, ebi 0,25 mg/l, pedo 0,6 mg/l dan jambal aroma 0,25 mg/l,” tambahnya.

Menurutnya, formalin seringkali digunakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab untuk mengawetkan makanan. Pengawetan ini dilakukan agar makanan tidak mudah busuk dan memiliki tekstur yang kenyal dan tidak mudah hancur.

“Namun apabila dikonsumsi secara terus menerus akan menimbulkan efek yang berbahaya bagi kesehatan,” ujar Neni.

Tindak lanjut dari hasil uji laboratorium terhadap sampel ikan kering yang positif mengandung formalin BKIPM mengambil beberapa langkah. Langkah yang dilakukan diantaranya melakukan koordinasi dengan DKPP dan Dinkes Purbalingga.

“Selanjutnya kami akan melakukan monitoring terpadu terkait mutu dan keamanan produk perikanan di Pasar Tradisional yang ada di Purbalingga,” lanjutnya.

Kemudian, BKIPM Semarang akan melakukan pembinaan dan sosialisasi terhadap pedagang dan produsen ikan kering di Purbalingga terkait dengan mutu dan keamanan produk perikanan. Dengan langkah yang diambil tersebut diharapkan dapat memberikan informasi dan pengetahuan kepada masyarakat tentang bahaya penggunaan formalin.

“Sehingga masyarakat paham bahaya formalin sebagai pengawet makanan dan pentingnya menjaga mutu serta keamanan pangan terutama produk perikanan yang memiliki nilai gizi yang tinggi,” harap Neni. (PI-7)





Komentar : 0


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)