Pariwara

Danau Maninjau Terpilih Jadi Pusat Peringatan Hari Air Sedunia, Bupati Indra Catri: Jadikan Motivasi

Warta Andalas | Senin, 03 April 2017 - 17:54:06 WIB | dibaca: 336 pembaca

Terpilihnya danau Maninjau sebagai pusat peringatan, Hari Air Dunia ke 25 tahun 2017, menjadi suatu kehormatan dan bentuk perhatian yang sangat tinggi dari pemerintah pusat, terhadap kabupaten Agam.

Menanggapi hal itu, Bupati Agam, Ir. H. Indra Catri Dt. Malako Nan Putiah, dan Wakil Bupati Trinda Farhan Satria Dt. Tumangguang Putiah, beserta seluruh jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) menyambut antusias momen tersebut, sekaligus menjadikannya sebagai salah satu upaya percepatan penyelamatan Danau Maninjau.

 

“Kami berharap, momen ini dapat memberikan motivasi, dan dorongan dalam rangka peningkatan kualitas lingkungan hidup yang lebih baik, terutama untuk upaya penyelamatan Danau Maninjau,” ujar Bupati Agam Indra Catri, Rabu (22/3) yang lalu.

Acara peringatan tersebut, dihadiri Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), yang diwakili Direktur Irigasi dan Rawa Ir. Mochammad Mazid, beserta tim Revitalisasi Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air (GN-KPA).

Selain itu, juga hadir pegawai Kementerian Agraria, dan Tata Ruang, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta Kementerian Dalam Negeri, dan stakeholder terkait dari Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.

 

Mengawali sambutannya dalam acara tersebut, Bupati Agam membacakan sebuah pantun, yang ditujukan kepada rombongan yang datang. ”Pinang Galah Siriah Manari, Gambia datang  nan dari Tapan. Alangkah sanangnya hati kami, tamu datang memberikan dukungan”. Itulah sebuah ungkapan rasa hormatnya Bupati Agam terhadap tamu yang datang ke Kabupaten Agam.

Menurut Bupati Indra catri, peringatan  Hari Air Dunia tahun 2017 bertema Air Limbah ini, dilaksanakan guna menyebarluaskan informasi dan untuk meningkatakan kesadaran serta kepedulian  masyarakat dunia terhadap  pentingnya  air bagi kehidupan.

Dikatakan, sehat air adalah ukuran  utama kualitas  hidup kita di daratan. Sejalan dengan tema ini, Indra catri juga menyampaikan kondisi Kabupaten Agam yang selama ini yang sedang mengalami masalah sumber daya air, yakni memburuknya  kualitas air di  kawasan daerah tangkapan air Danau Maninjau yang terletak di kawasan Kecamatan Tanjung Raya.

 

Sebelumnya, Danau Maninjau ini juga termasuk peringkat lima Dunia Danau terindah. Dengan keindahan Danau Maninjau tersebut sehingga menjadi destinasi wisata favorit bagi wisatawan manca negara, maupun domestik.

Lebih jauh Bupati Agam Indra Catri mengatakan, bahwa Danau Maninjau tersebut bukan hanya milik masyarakat dan pemerintah Kabupaten Agam, tetapi merupakan milik bangsa Indonesia.

Selain itu, Danau Maninjau adalah bagian dari sejarah dan aset sumber daya alam yang tidak dapat kita nilai harganya, yang dimiliki bangsa kita.

“Danaua Maninjau adalah salah satu wilayah yang mampu melahirkan beberapa orang tokoh nasional (inspirator) pembaharu  Nasional, seperti Buya Hamka, Muhammad Nasir, Syafruddin Prawiranegara serta novelis terkenal Ahmad Fuadi.

 

Bahkan, dari sebuah ungkapan yang dilontarkan oleh Buya Hamka semasa hidupnya yang hingga sekarang masih dikenang oleh masyarakat Agam,  yakni ungkapan dan perasaan hatinya seperti  “Saya sangat terkesan dengan negeri kelahiran saya. Saya sudah sering keliling dunia, tapi rasanya tidak ada pemandangan seindah Maninjau. Desa itu pun mempunyai arti penting bagi hidup saya. Begitu indahnya seakan-akan mengundang kita untuk melihat alam yang ada di balik pemandangan itu”.

Tak ayal, ungkapan yang disampaikan oleh Buya Hamka tersebut  mendapat jawaban langsung oleh Presiden RI pertama yakni Soekarno. Dalam pribahasa mengatakan, kato bajawek, gayuang basambut”. Ketika itu Soekarno membalas dengan sebuah pantun, ”Kalau Yuan makan Pinang, dimakan dengan siriah hijau, kalau tuan ka ranah Minang jangan lupa ke danau Maninjau.

Lanjut Bupati, pada tahun 2016, sesuai dengan data yang dikeluarkan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Agam, bahwa jumlah KJA yang ada di dalam Danau maninjau mencapai 17.226 unit. Aktivitas Keramba di dalam Danau Maninjau merupakan penyumbang terbesar terhadap  pencemaran Danau  Maninjau.

 

Sementara, kemampuan danau Maninjau untuk menampung KJA, hanya sekitar 6000 unit saja. Kalau ini dapat dilaksanakan, maka diyakini Danau maninjau ini akan kembali seperti semula.

Disebutkan, 95% pencemaran Danau Maninjau adalah berasal dari pakan ikan serta bangkai ikan yang sudah mengendap kedasar danau. Sementara sampah rumah tangga dan lainya sebesar 5%. Jadi kalau menurut analisa peneliti, waktu tinggal lagi air Danau itu hanya 23,3 tahun lagi. Sehingga endapan pakan ikan dan bangkai ikan ini akan membusuk.

“Makanya tingkat erosinya sangat tinggi, yang mengakibatkan sedimentasi di dasar danau mencapai 50 juta kubik,” kata Bupati Indra Catri.

Gerakan Save Danau Maninjau, ujar Indra Catri, meruapakan salahsatu program Kabupaten Agam. Langkah yang diambil sekaranag ini adalah upaya Pemerintah kabupaten Agam untuk menyelamatkan Danau Maninjau ini.

 

"Penetapan kawasan Danau maninjau sebagai kawasan strategis Propinsi Sumatera Barat ini, berdasarkan  dengan  Perda RT/RW Propinsi Sumatera Barat nomor  13 tahun 2011 dan Perda Kabupaten Agam Nomor 5 tahun 2014," ungkap Bupat.

Pengurangan KJA, Mutlak Diperlukan

Bupati Agam H. Indra Catri Dt. Malako Nan Putiah mengatakan, dalam jangka waktu tiga sampai enam tahun ke depan akan mengupayakan jumlah Keramba Jaring Apung (KJA) di Danau Maninjau bisa berkurang menjadi 6.000 petak.

"Saat ini, berdasarkan data yang dikeluarkan Dinas Kelautan dan Perikakan Kabupaten Agam Tahun 2016 jumlah KJA di Danau Maninjau berjumlah 17.226 petak. Ini jauh melebihi daya tampung yang hanya  6.000 petak KJA," kata Bupati Agam Indra Catri saat pembahasan dan diskusi  terkait pemulihan Danau Maninjau di ruangan rapat SMA Agam Cendikia.

Guna menyelamatkan Danau Maninjau, Pemerintah Kabupaten Agam melakukan aksi nyata, melalui Gerakan Save Maninjau. Beberapa skenario penyelamatan Danau Maninjau telah disusun dalam 10 agenda utama, yang akan dilaksanakan secara berkelanjutan, sehingga KJA bisa berkurang.

Gubernur Irwan Prayitno: Butuh Inovasi dalam Mengelola Sumber Daya Air

 

Sementara itu Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno, menyebutkan bahwa air bersih sangat kita butuhkan untuk kehidupan sehari hari dan disatu sisi, perlu kita lakukan pencegahan.

“Menginginat pentingnya air bagi kehidupan kita, maka sangat diperlukan  masyarakat untuk melindungi sumber daya air secara berkesinambungan. Kita harus mengatur ketersedian  dimasa yang akan dating,” pinta Gubernur.

Dikatakannya, peringan hari air dunia tersebut akan mampu memberikan kesempatan kepada kita sehingga mampu untuk “memacu” kita semua  agar dapat memberikan inspirasi untuk melahirkan sebuah inovasi baru, dalam mengelola sumberdaya air.

Hari Air Dunia yang dilahirkan dan digagas pertama kalinya di United Nations Confrece on Environment and  Development (UNCED), lanjut Irwan Paryitno, diiringi dengan konvrensi Bumi yang dilakukan oleh PBB di Rio Jeneiro tahun 1992.

 

Lebih jauh Gubernur menyampaikan, hal tersbeut merupakan hasil dari sidang Umum PBB ke 47 yang dilaksanakan  pada taggal 22 Desember 1992, dimana dalam Resolusi Nomor 147/1993  menetapkan pelaksanaan peringatan Hari Air se-Dunia ditetapkan setiap tanggal 22 Maret, dan mulai diperingati pertama kali pada tahun 1993.

Dikatakan Gubernur, setiap tahun peringatan Hari Air Sedunia memiliki tema dan logo tersendiri yang ditetapkan PBB, disamping tema yang sudah dilakukan. 

“Tahun 2014 mengambil tema “Water and Energy“ atau “Air dan Energi”. Pada tahun 2015 adalah “Water and Sustainable Development” atau “Air dan  Pembangunan. Ini menyoroti pentingnya air dalam agenda  pembangunan berkelanjutan. Sementara itu, Peringatan Hari Air Sedunia tahun 2016, tema yang diangkat adalah “Water and Jobs“ atau “Air dan Pekerjaan” Better Water, Better Jobs (Air lebih baik dan Kerja lebih baik),” kata Irwan Prayitno.

Dalam kesempatan itu, IP juga mengatakan perlunya dilakukan penguatan regulasi secara kelembagaan, serta koordinasi antar stake holder terkait. Di samping itu, perlu dilakukan aksi nyata, seperti pengangkatan sendimen, dan pemeliharaan, pencegahan, dan solusi lainnya. 

 

"Kita mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Agam, karena telah banyak berbuat melakukan berbagai terobosan seperti, gotong royong, moratorium KJA, dan menjaga sumber air baku. Ini kami sambut positif," katanya.

Disisi lain, Direktur Irigasi Rawa Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat RI, Ir. Muhammad Mazid menambahkan, perlu adanya dukungan dan memperkuat komitmen secara bersama dengan instansi terkait, dalam penyediaan air baku yang berkualitas dan kwantitas terjamin.

Pensi Di Danau Maninjau Semakin Sulit Ditemukan

Semakin susah dan sulitnya mencari Pensi untuk dikonsumsi sebagai panganan khas warga di salingka Danau Maninjau, bukan isapan jempol belaka. Saat ini, para pencari Pensi mulai turun gunung mencari di  sepanjang aliran Bandar Jorong VI Parik Panjang Banda Baru, Lubuk Basung.

Salah seorang pencari pensi, yang berasal  Jorong Tanjung Alai, Maninjau, Nurhayati 50 tahun, bersama suaminya Akmal (55) tahun, yang memiliki enam orang anak ini, ketika ditemui sedang manangguak pensi, merasa bersyukur masih bisa mencari koloni pensi meskipun pindah lokasi lain.

 

"Dulu untuk mencari pensi sampai 8 karung tidak begitu susah. Kami sangat bersyukur, masih bisa mencari pensi berendam seharian di tepian Danau Maninjau hanya bisa memperoleh lima liter. Tapi di sini bisa memperoleh tiga karung sehari," ujarnya.

Nurhayati menambahkan, ia bersama mencari pensi ini telah enam bulan, dimulai sejak pukul 9:00 WIB sampai 17:00 WIB. Pensi ini nantinya dipasarkan ke pasar tradisional di daerah itu.

Sementara itu, untuk harga pensi di pasar tradisional hanya sebesar Rp4.000 sampai Rp5.000 per-liternya. 

Ia mengakui, berkurangnya hasil tangkapan pensi ini karena dipengaruhi kondisi airtercemar , sehingga pensi semakin sulit didapat. Selain hasil tangkapan pensi berkurang, hasil tangkapan rinuak juga berkurang. 

 

Pantauan wartawan. Rabu (23/3) di sepanjang aliran bandar Jorong Ampek Parik Panjang, Bandar Baru Lubuk Basung, para pencari pensi secara berkelompok telah memperoleh tiga karung pensi. Kelangkaan pensi dirasakan para pencari pensi sejak beberapa bulan belakangan ini. Biasanya hasilnya dijual kepada pedagang pengumpul, atau dikirim langsung kepada pelanggan di pasar-pasar tradisional di Kecamatan Tanjung Raya dan Lubuk Basung.

Sejak Danau Maninjau menyandang status danau eutrofik/tercemar, biota endemik seperti pensi, rinuak, dan bada, jarang ditemui. (**)‚Äč

 





Komentar : 0


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)