Lismomon

Oleh: Lismomon Nata, S.Pd, M.Si, Cht

Cinta Keluarga, Rawat Keluarga

Warta Andalas | Rabu, 13 Juni 2018 - 09:26:13 WIB | dibaca: 1497 pembaca

Lismomon Nata, S.Pd, M.Si, Cht (Plt. Kasubbid Penyelenggara dan Evaluasi Diklat Perwakilan BKKBN

(Suatu Kajian Sosiologi Keluarga Menuju Pemahaman Komprehensif)

Beberapa tahun yang lalu, tepatnya setelah dikeluarkan Keputusan Presiden RI Nomor 39 tahun 2014, maka setiap tanggal 29 Juni dirayakan sebagai Hari Keluarga Nasional (Harganas), meskipun belum menjadi hari libur nasional. Semangat hari keluarga tersebut diambil dari historis Kota Jogyakarta saat itu menjadi Ibukota Negara Indonesia Serikat (RIS) resmi dikosongkan dari tentara Belanda dan digantikan oleh tentara Indonesia pada tanggal 29 Juni 1949.

Maka, saat itu dinyatakan Jogyakarta kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia setelah beberapa waktu diduduki oleh Belanda ketika Agresi Belanda II. Peristiwa itu menjadi simbol bergabungnya para prajurit Indonesia dengan keluarga mereka. Menurut Prof. Haryono Suyono selaku penggagas Harganas yang ketika itu beliau menjadi Kepala BKKBN mengungkapkan bahwa ‚Äú‚Ķbukan sekedar hari keluarga untuk sebuah keluarga, tetapi lebih jauh dimaknai sebagai harinya keluarga nasional yang bersatu dan berjuang untuk kesejahteraan bersama‚ÄĚ.

Peringatan Harganas pertama kali dicanangkan pada tahun 1993 dan dilaksanakan satu tahun setelahnya 1994 yang digelar di Sidoarjo, Jawa Timur dan tahun 2018 ini akan diperingati di Provinsi Sulawesi Utara untuk peringatan yang ke XXV dengan tema Cinta Keluarga, Cinta Terencana, Cinta Indonesia.

Jika dilihat dari jumlah peringatannya, maka telah memasuki usia perak, sehingga tentu sudah semestinya semangat zaman (zeitgeist) yang melahirkan Harganas telah memberikan banyak pembelajaran dan arti penting keluarga dalam sebuah bangsa negara atau setidaknya seperti hal yang diungkapkan oleh Cicero, historia magistra vitae, sejarah adalah guru kehidupan. Akan tetapi, ternyata kita semakin menyadari bahwa kehidupan bukanlah persoalan hitam atau putih, melainkan banyak warna.

Artinya, dalam kehidupan manusia begitu banyak peristiwa terjadi yang kadang kala di luar akal sehat manusia, termasuk dalam kehidupan berkeluarga itu sendiri.

Ya, namanya rumah tangga, rumah yang disusun dan apabila tidak pas, maka bisa saja tanggal-tanggal. Namun, semuanya itu tentu memberikan banyak pembelajaran hidup bagi siapa saja yang mau memikirkannya. Dimana keluarga tidak hanya bersifat fungsional saja, yang memberikan ketenangan, kedamaian dan perlindungan serta kebahagiaan bagi kehidupan orang-orang di dalamnya, akan tetapi juga penuh dengan pertentangan-pertentangan, konflik, hingga prilaku kriminalitas.

Dengan demikian muncul pertanyaan, ‚Äúapakah benar keluarga menjadi sesuatu yang paling dirindukan dalam kehidupan seseorang, apalagi di tengah zaman now ini?‚ÄĚ Contohnya, mungkin masih cukup segar dalam ingatan kita peristiwa yang terjadi beberapa bulan yang lalu, yaitu cerita bagaimana seorang istri yang membunuh suaminya karena merasa tertekan akbiat KDTR (https://www.liputan6.com/regional/read/3357785/kisah-getir-istri-bunuh-suami-setelah-22-tahun-jadi-korban-kdrt), atau bagaimana menjadi sangat digemarinya sebuah tayangan televisi swasta yang dipandu oleh Roy Kiyoshi dan Robby Purba (https://www.tabloidbintang.com/film-tv-musik/kabar/read/95990/di-balik-kesuksesan-program-karma-rekayasa-atau-nyata).

Sebuah realita yang mempertontonkan bahwa begitu banyaknya kasuistik kusut masainya kehidupan rumah tangga. Dimana orang-orang di dalam keluarga (suami, istri, anak) bahkan sanak famili (pada keluarga luas) berada pada posisi sangat lemah, tidak lagi dapat menjadi teman untuk membicarakan serta menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi, sehingga membutuhkan pihak lain sepenuhnya. Tentu teramat banyak lagi kasus lainnya untuk disebutkan.

Dengan demikian, layaknya seperti sebuah tanaman, keluarga yang telah dibangun perlu untuk dirawat, semak belukar di sekelilingnya haruslah dibersihkan dan benalu yang mungkin saja dapat membunuh tanaman mesti dihindari, bahkan dibunuh sebelum merusak, jika perlu diawali dengan mempersiapkan bibit tanaman yang terbaik agar tumbuh kembang dengan baik juga nantinya.

Adapun tawaran yang bisa saja menjadi tips dan dapat dilakukan dalam merawat keluarga yaitu dengan beberapa cara. Diantaranya adalah, pertama sebaiknya tentu diawali dengan pikiran, sikap dan prilaku baik pada pasangan atau orang-orang yang ada di dalam keluarga. Sangat ironi memang, ketika mengatakan cinta atau menyayangi seseorang, namun pikiran munyudutkan, sikap dan prilaku menyakitkan apalagi sampai melukai, itu pasti bukan cinta namanya, bukankah sifat cinta adalah rela berkorban?.

Misalnya diawali dengan pikiran yang buruk atau curiga yang bersangatan terhadap pasangan tanpa sebab, sikap yang membuat diri pasangan merasa dikecilkan atau melakukan pemukulan. Justru sebaliknya, hal yang sebaiknya dilakukan adalah bagaimana menanamkan persepsi baik kepada pasangan, apabila telah dipilihnya pasangan hidup, maka mau tidak mau, maka harapan penuh dialah yang terbaik untuk kita hingga berakhirnya hayat dikandung badan. 

Berdoa selalu dari mulut akan kebaikan-kebaikan pada setiap hari-harinya, serta dapat merasakan kebahagiaan bersama kita. Begitupun terhadap bersikap dan memperlakukannya dengan cara sebaik mungkin pula.

Kedua, memberikan kesempatan untuk secara bersama-sama berkembang dengan memegang prinsip untuk saling jujur dan mengontrol dengan cara baik antar sesama anggota keluarga, begitupun terhadap pasangan.

Hal ini dikarenakan bisa saja terjadi tidak adanya keseimbangan antara pasangan, sehingga menjadikan istri atau suami menjadi minder, jenuh atau merasa tidak berdaya yang membuatnya murung, tertekan dan bersedih hati. Baik dalam persoalan pertemanan, pekerjaan atau karir. Jika ini terjadi tentu akan mengganggu mood dan suasana keharmonisan dalam rumah tangga. Ketiga, pentingnya membangun komunikasi, face to face yaitu tatap muka, saling bicara dan berbagi serta berdiskusi terhadap hal-hal yang akan menjadi keputusan, mulai dari sekedar untuk canda tawa hingga pengambilan keputusan penting.

Pada konteks ini, maka muncul kesadaran bahwa perlunya merencankan keluarga. Artinya, sebelum bekerluarga perlu dipersiapkan (merencanakan) diri setiap pasangan, mulai dari fisik (usia), psikis (mentalitas) dan ilmu berkeluarga itu sendiri, seperti ilmu berkomunikasi. Hal ini disebabkan karenakomunikasi merupakan salah satu bentuk interaksi sosial yang baling banyak dilakukan oleh manusia, begitupun dengan pasangannya dalam kehidupan berumah tangga. Dimana untuk berkomunikasi dengan baik diperlukan kemampuan-kemampuan yang perlu untuk dipelajari dan dilatih hingga terampil. Misalkan saja, kemampuan untuk berbicara yang baik yaitu dengan memiliki kata-kata yang enak dan menyengakan apabila didengar oleh pasangan atau anggota keluarga lainnya.

Diawali demampuan untuk berfikir yang benar, bukan sesat pikir. Kemudian kemampuan untuk mendengarkan, menemukan akar persoalan jika ada masalah yang dihadapi serta mecarikan solusi. Begitupun dengan mentalitas yang mempengaruhi terhadap bersikap dan berprilaku. Kecendrungan, apabila kondisi-kondisi demikian tidak terperhatikan dan dipedulikan dengan baik, maka bisa jadi akan dapat menjadi pemicu kehancuran dalam keluarga.

Di samping itu, tentu perlu untuk saling memprioritaskan, berkomitmen antara satu sama lain. Mengerti dan memahami keadaan pasangan, baik apakah terhadap latar belakang, kebiasaan, ciri-ciri, maka perlu dimiliki rasa sensitifitas positif dan kepekaan sesama pasangan dan anggota keluarga.

Hal ini dapat diberikan dengan cara memberikan perhatian, mulai dari akan keluar rumah, pulang kerja hingga persoalan percintaan. Namun, situasi-siatuasi dan momen tersebut sering terabaikan, karena kesibukan masing-masing dan tidak adanya keinginan yang kuat meluangkan waktu untuk saling memberikan perhatian.

Maka, kembali untuk merencanakan keluarga itu sangat dibutuhkan, karena yang akan mengisi ‚Äėjabatan-jabatan strategis‚Äô dalam sebuah rumah tangga yang disebut dengan bapak atau ibu, ayah atau bunda atau sebutan lainnya adalah semestinya diisi oleh orang-orang yang cerdas serta memiliki kemampuan; cerdas dalam merawat suami atau istri, cerdas dalam merawat anak, cerdas menata ekonomi keluarga dan cerdas mengatur dan kehangatan dalam rumah agar setiap anggota rumah tangga betah dan merasakan ketenagan di dalam rumah, karena unsur-unsur tersebut jika tidak ditata dengan baik, juga akan dapat menjadi permasalahan dalam rumah tangga.

Mungkin banyak lagi bentuk cinta keluarga dan cara yang pas dalam merawat keluarga yang dapat dilakukan. Contoh lain, seperti Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sebagai institusi negara yang tidak hanya diamanahkan untuk urusan kependudukan, Keluarga Berencana (KB), namun juga pembangunan keluarga-keluarga Indonesia memberikan jalan melalui menerapkan delapan fungsi keluarga yaitu fungsi agama, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, ekonomi, sosialisasi dan pendidikan, dan lingkungan pada setiap keluarga Indonesia.

 

Dengan demikian, melalui upaya cinta terhadap keluarga, cinta terencana akan memupuk dan menumbuhkan cinta kepada Indonesia sebagai tumpah darah, sehingga menjadikan Negara Indonesia negara yang kuat, mandiri dan bermartabat, apalagi saat ini Bangsa Indonesia memasuki era bonus demografi. Selamat Merayakan Hari Keluarga Nasional ke XXV, Cinta Keluarga, Cinta Terencana, Cinta Indonesia!. (**)





Komentar : 0


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)