Agam

Bupati Agam, "Satayu" Maestro Fenomenal di Tanah Air Ini

Warta Andalas | Selasa, 13 Maret 2018 - 20:33:24 WIB | dibaca: 147 pembaca

WARTA ANDALAS, AGAM - Siapa yang tidak kenal dengan Syahrul Tarun Yusuf (Satayu), sang Maestro pencipta Lagu Minang Klasik tahun 1960-an. Seniman fenomenal kelahiran 1942, di Balingka Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, Sumbar itu sudah melahirkan ratusan Lagu Minang Klasik yang populer sejak 1960-an sampai sekarang.

Sudah lebih dari 400 judul lagu yang tercipta dari imajinasi Satayu sejak ia mulai berkarya pada tahun 1960-an. Banyak diantaranya yang menjadi hits dan abadi sepanjang masa bagi penggemar musik Minang. Karya-karya Satayu banyak dibawakan dan membesarkan penyanyi-penyanyi Minang, seperti Elly Kasim, Tiar Ramon, Yan Bastian, Lily Syarif, Nurseha, dan beberapa penyanyi Minang lainnya.

Salah satu lagu perdana yang hits sampai sekarang adalah, lagu yang berjudul Bugih Lamo, Ampun Mande, Bapisah Bukannyo Bacarai, Batu Tagak, Kasiah Tak Sampai, dan banyak lagi lagu yang sudah dikombinasikan menjadi aliran Minang Pop. 

Lagu-lagu ciptaan Satayu tidak hanya dinikmati oleh warga Sumatera Barat, namun juga digemari oleh publik sejumlah negara tetangga, seperti Malaysia, Singapura, dan lainnya. Sering lagu ciptaannya didaur ulang sampai beberapa kali. Lagu karya Syahrul juga sempat mewarnai film layar lebar yang berjudul Merantau. Bagi warga Sumatera Barat, karya Syahrul Tarun Yusuf adalah bentuk peninggalan budaya Minang Modern. Syair lagu-lagu Syahrul sering menjadi sumber tesis bagi para mahasiswa karawitan.

Walaupun namanya kalah tenar dibandingkan lagu-lagu ciptaannya, namun Satayu merupakan nama yang tak bisa dilupakan begitu saja dalam sejarah pop Minang Klasik yang berakar pada pantun modern. Dengan menganut prinsip kehati-hatian, tidak asal jadi dalam mencipta lagu, serta belajar dari alam dan Budaya Minangkabau, Syahrul telah menghasilkan lagu-lagu yang berkesan mendalam dan abadi bagi masyarakat Minang maupun warga lainnya.

Sebagai bentuk penghargaan terhadap karya-karyanya, pada tahun 2009 buku biografi tentang perjalanan hidup Syahrul Tarun Yusuf yang ditulis oleh Muchsis Muchtar St. Bandaro Putiah diluncurkan.

Bertepatan hari ini, tanggal 12 Maret 2018, genap 76 umur sang maestro dan masih dalam keadaan sehat. Di hari bahagianya itu, salah satu bentuk penghargaan yang diberikan keluarga, sahabat, fans dan masyarakat setempat, adalah membuat pameran dokumentasi Maestro Satayu yang dipamerkan dalam bentuk foto-foto, dengan tujuan untuk mengenang dan mengabadikan hasil karyanya, agar bisa menjadi inspirasi bagi generasi penerus, di kediamannya, Senin (12/3) Balingka, Kecamatan IV Koto. Pameran yang menampilkan jejak perjalanan dari sang maestro berlangsung  sejak 12 Maret sampai 17 Maret 2018, di kediamannya di Balingka Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam.

Tidak terkecuali, orang nomor satu di Kabupaten Agam, Bupati Agam, H. Indra Catri Dt Malako Nan Putiah, ikut berpartisipasi dan mengapresiasi karya-karya sang legendaris musikal Lagu Minang, yang dipajangkan dalam sebuah pameran. 

Pemerintah Kabupaten Agam memiliki komitmen yang kuat untuk terus melestarikan dan mengembangkan kesenian daerah, baik seni berupa lagu, tari, silek, maupun randai.

Konsep dan tema pameran yang diusung sangat relevan untuk mengapungkan dan mengangkat kembali nama besar Satayu ke pencinta musik Lagu Minang tanah air.

Sebagai bentuk penghargaan itu, Bupati Agam berencana dalam waktu dekat ini membuat Gallery di Balingka, agar semua karya-karyanya terbingkai dalam sebuah album, yang bertajuk Kenangan Sepanjang Masa. 

"Saya berharap, tidak hanya membesarkan Satayu tapi membawa kita intropeksi bagaimana melanjutkan karya besar beliau dan mentransfer keahliannya bagi regenerasi selanjutnya. Maka penting sekali gallery, untuk menunjukan bahwa kita dari generasi berkualitas.

Kepada generasi muda, saya mengajak agar bisa mencontoh, melanjutkan dan melestarikan kepiawaian Satayu sehingga ke depan akan melahirkan Satayu-Satayu baru," ujar pengagum sang maestro itu.

Di mata bupati, Satayu sosok Maestro fenomenal yang merupakan aset berharga bagi negeri ini. Perjalanan hidupnya, sebagai seniman, sangat dramatis dan menarik perhatian semua kalangan masyarakat, dan lagunya tetap menjadi inspirasi bagi penyanyi sekarang. 

Yang mengagumkan, semua karya lagunya terinspirasi dari alam dan lingkungannya. 

Bupati menjelaskan, bagi Satayu adalah suatu yang tak diduga bila banyak lagu ciptaannya menjadi lagu-lagu yang populer dan abadi di masyarakat hingga kini. 

Lirik lagunya bergelut dengan cinta, semua pendengar terbawa hanyut, terenyuh, seakan-akan manjadi pelaku dari kisah cinta itu sendiri. Begitu juga, pada lagu yang berjudul tinggalah kampuang menceritakan tentang kerinduan terhadap ibunda yang ditinggalkan. Banyak orang yang ikut terdiam, membisu, larut dalam kerinduan itu.

"Bagi orang lain, putus cinta itu marasai, tapi bagi Mak Satayu putus cinta itu kedai (sebuah penghasilan). Artinya, Mak Satayu bisa mengbingkai kisah hidupnya dalam sebuah imajinasi dalam bentuk uangkaian kata-kata yang kemudian dikemas menjadi sebuah lagu. Itu lah Mak Satayu," jelas bupati.

Bupati mengatakan ada tiga landasan yang mengantarkan Satayu menjadi seorang Maestro fenomenal di tanah air ini. Yaitu, memiliki kekuatan iman yang kuat, memiliki roman, dan reman. Pertama, memiliki iman yang kuat, artinya bagi orang minang, ketika Ia pandai mengaji dan paham ilmu agama maka tidak akan sulit membuat syair lagu, dan juga paham tentang seluk beluk tambo minangkabau. Kemudian, yang kedua-nya adalah memiliki roman. Artinya, seorang Satayu bisa memanfaatkan sebuah perjalanan hidup, baik asmara maupun percintaan, ke dalam sebuah bingkian kata-kata yang dibuat menjadi lirik lagu. 

"Yang terakhirnya adalah, Mak Satayu memiliki sifat reman. Artinya, Ia jeli dalam mengangkat isu-isu yang ada di tengah masyarakat. Seperti judul lagu Batu Tagak, Bika Si Mariana, Ampun Mande, dan judul lagu lainnya. Semua lagu itu Ia tulis berasal dari kisah-kisah yang ada, dan hebatnya mampu mengadopsinya menjadi sebuah lagu," kata bupati menjelaskan.

Sehingga, susunan kata-kata yang didukung oleh alunan suara penyanyi serta musik yang mendayu-dayu begitu menyentuh dan mengena di hati setiap pendengarnya. Kebolehannya dalam membawa hanyut para pendengar juga diperlihatkan pada lagu-lagu bertemakan sosial kemasyarakatan dan realita kehidupan masyarakat Minangkabau. 

"Bagi geberasi penerus, saya berpesan, teruslah berkarya jangan berhenti. Jadikan Mak Satayu sebagai inspirasi dan motivasi dalam membuat sebuah lagu. Saya ingin Agam tidak berhenti untuk mencetak orang-orang hebat," harap bupati dengan suara dan nada semangat saat diwawancarai oleh beberapa awak media. (khw)

 





Komentar : 0


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)