Pariwara

Laporan: Jonata Ramadhan

Bupati Agam: Melalui Nagari Madani, Kita Wujudkan Kehidupan Beragama dan Beradat

Warta Andalas | Rabu, 04 Oktober 2017 - 16:29:42 WIB | dibaca: 913 pembaca

Bupati Agam, H. Indra Catri, Dt. Malako Nan Putiah, melaunching Gerakan Nagari Madani di halaman kantor bupati, Sabtu (30/9) kemarin. Hal tersebut merupakan suatu upaya Pemerintah Kabupaten Agam untuk mewujudkan kehidupan beragama, dan beradat pada 82 nagari di 16 kecamatan yang ada di kabupaten ini. 

 

Launching ditandai dengan pemukulan gong oleh bupati, didampingi Wakil Bupati Agam, H. Trinda Farhan Satria Dt. Tumangguang Putiah, Kemenag Agam, Forkopimda, dan lainnya. Namun, sebelumnya dilakukan pengucapan Ikrar dan penandatangan komitmen pelaksanaan Gerakan Nagari Madani, oleh TNI, Polri, ASN, PGRI, wali nagari, perangkat nagari, kelembangaan nagari, PKK, pemuda, mahasiswa, dan siswa.

Pada kesempatan itu bupati mengatakan, dari literatur dapat dimaknai bahwa, launching adalah meluncurkan. Tentu diharapkan apa yang diluncurkan itu dapat dikendalikan, tidak lepas begitu saja tanpa kendali. Berangkat dari data, dan fakta awal hasil asesment, maka perlu melakukan monitoring, dan evaluasi secara berkesinambungan, dan berkala, sehingga maksud untuk mewujudkan pemahaman, dan pengamalan nilai-nilai keislaman, dan nilai Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK) dapat tercapai.

"Secara sederhana, penerapan Gerakan Nagari Madani adalah upaya kita untuk lebih menggairahkan semangat Baliak Kasurau. Secara fisik atau zahir, masjid diramaikan, dan secara substantif adalah bagaimana menghidupkan kembali pendidikan surau, yang memuat olah hati, rasa, fikir, dan raga," ujarnya.

 

Ia menjelaskan, untuk menjadi perhatian terhadap muatan dalam Gerakan Nagari Madani sebagai alat kontrol, yaitu optimalisasi pendidikan informal Al-qur'an. Peningkatan peran masjid atau surau sebagai sentra kehidupan sosial masyarakat. Pelaksanaan perlindungan atas kampung, dan masyarakat nagari. Peningkatan rasa kepedulian sosial ukhuwah islamiyah, kekeluargaan dan gotongroyong. Penerapan adat, seni budaya dan olahraga sesuai dengan filosofi adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah. Peningkatan peran serta lembaga, dan organisasi masyarakat. Peningkatan kesalehan individu, dan sosial.

Untuk mengawali penerapan Gerakan Nagari Madani, pemerintah telah melakukan asesment terhadap 82 nagari yang ada di Kabupaten Agam. Dengan menggunakan tujuh kriteria, dan 43 indikator yang menghasilkan lima tingkatan atau level nagari madani.

"Hasil asesment awal ini, menujukan bahwa level nagari kita masih antara level I hingga III, dengan rincian, level I sebanyak 38 nagari, level II sebanyak 28 Nagari, dan level III sebanyak 16 nagari," ujarnya pula.

Hakikat pelaksanaan Gerakan Nagari Madani, bukan pada tingginya jumlah nilai pengukuran yang didapat suatu nagari. Namun, adanya progres peningkatan nilai yang signifikan dari pelaksanaan Gerakan Nagari Madani dari waktu ke waktu. 

Untuk itu, secara berkesinambungan pemerintah daerah akan melakukan penilaian setiap tahun. Tentunya dari penilaian akan ada reward, dan punishmentnya.

 

Bupati menghimbau, dan mengajak semua pihak  untuk sama-sama menyukseskan pelaksanaan Gerakan Nagari Madani di Kabupaten Agam. Tentunya, sinergitas antar seluruh stakeholders, pemangku kepentingan di nagari, kecamatan dan kabupaten, cita-cita Agam yang madani dapat diwujudan.

"Semoga, dengan moment bulan Muharram ini, akan menjadi kenangan tersendiri bagi kita masyarakat Kabupaten Agam," ujar bupati berharap.

Pada kesempatan itu, Panitia Pelaksana Martias Wanto mengatakan, penyelenggaraan lounching Gerakan Nagari Madani tersebut berdasarkan Perda Kabupaten Agam Nomor 6 tahun 2016, tentang RPJMD tahun 2016, Perbup Nomor 74 tahun 2016, tentang Pedoman Pelaksanaan Gerakan Nagari Madani, DPA Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Nagari (DPMN) Agam, dan DPA SKPD terkait.

"Pelaksanaan Gerakan Nagari MAdani akan diukur nantinya dengan beberapa kriteria dan indikator. Untuk memulai kegiatan itu, secara menyeluruh, terlebih dahulu diperlukan penyamaan pemahaman, dan semangat seluruh unsur lapisan masyarakat Agam, dalam mewujudkan kehidupan beragama, dan beradat dengan filosofi ABS-SBK," ujarnya.

Launching tersebut, dihadiri Wakil Bupati Agam H. Trinda Farhan satria, Dt. Tumangguang Putiah, Forkopimda Agam, pimpinan BUMN, dan BUMD, Kepala OPD serta seluruh ASN jajaran Pemkab Agam, Camat, Wali Nagari, Forkopimka, lembaga nagari, pimpinan masjid, majelis taklim se- Agam. 

Nagari Madani Cita-cita Kolektif yang Berat, Tapi Mulia

Sementara itu, Wakil Bupati Agam H. Trinda Farhan Satria Dt. Tumangguang Putiah mengatakan, Gerakan Nagari Madani merupakan cita-cita kolektif masyarakat Kabupaten Agam, yang menjadi kesepakatan bersama, telah dituangkan dalam RPJP Kabupaten Agam, dan ini merupakan cita-cita yang berat, tapi mulia.

"Untuk itu, pemerintah berkomitmen kuat agar cita-cita kolektif tersebut bisa direalisasikan, pelan tapi pasti. Sebagai salah satu bentuk komitmen kita di Pemkab Agam, serta upaya menjalankan amanah yang diamanahkan kepada kami," ujar Trinda Farhan Satria, usai launching Gerakan Nagari Madani, di halaman kantor bupati, Sabtu (30/9).

Beranjak dari hal tersebut, digulirkan gerakan itu, dan berpikir seandainya 82 nagari yang ada di Agam seluruhnya bergerak mewujudkannya, maka dengan sendirinya Gerakan Nagari Madani bisa diwujudkan, dan diimplementasikan dengan menjadikan nagari sebagai ujung tombak.

Dikatakan Wabup, Gerakan Nagari Madani merupakan upaya, yang dilakukan bersama-sama dengan stakeholder terkait, untuk mewujudkan misi pertama dari cita-cita kolektif masyarakat Agam, yaitu mewujudkan kehidupan beragama, dan norma adat, berlandasan adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, syarak mangato adat mamakai.

 

"Agar gerakan itu menjadi kongkrit, dan relefan di tengah kehidupan masyarakat, serta dalam kehidupan sehari-hari, sengaja disiapkan konsep capaian indikator, dan kriteria dengan semua stakeholder terkait. Dengan ini, kita bisa mengukur, menatap, dan mengevaluasi capaian tersebut dari waktu ke waktu," ujarnya pula.

Dengan hal tersebut, yang pertama diutamakan persepsi bersama, apa yang sebenarnya ingin dicapai dari nagari madani ini. Dari sekian banyak definisi, maka disepakati bahwa yang ingin dicapai adalah masyarakat nagari yang religius, berperadaban tinggi, dan maju dengan kehidupannya berbasis pada nilai-nilai norma, hukum, dan moral, yang berlandaskan ABS-SBK.

Di samping itu, masyarakat dalam kehidupan sehari-harinya, yang berlandasan kepada ukhuwah islamiyah, menghormatri perbedaan, bersikap demokratis, terbuka, gotong royong, hidup dalam suasana  kekeluargaan.

Diharapkan, masyarakat yang dicita-citakan seluruh komponen, senantiasa bekerjasama dalam kebaikan, bahu membahu menyejahterakan masyarakat, menguatkan keimanan serta ketaatan kepada Allah SWT. Juga senantiasa melindungi kampung, anak kemenakan, serta masyarakat nagari, dari segala ancaman penyakit masyarakat, dan berupaya menghidupkan budaya yang produktif.

 

Menurut Wabup, untuk bisa mewujudkan Nagari Madani, tentu tidak bisa pisahkan dengan program "baliak ka surau," dan baliak ka nagari. Kedua poin tersebut, tidak bisa dipisahkan, dalam pengertian baliak kasurau secara fisik dan dzahir, kembali meramaikan masjid dengan berbagai aktivitas.

Sedangkan baliak ka nagari, dengan artian menghidupkan kembali substansi pendidikan surau, sebagai muatan pendidikan karakter anak nagari secara terpadu, dan berkesinambungan.

"Agar yang diharapkan bisa dievaluasi, kita jalankan secara konsisten, perlahan tapi pasti, dan berkesinambungan, ada tujuh kriteria yang kita harus capai, dan 45 indikator yang ingin kita raih bersama-sama. Ini yang akan kita ukur setiap tahunnya, sehingga 82 nagari bisa dikategorikan menjadi lima level yaitu level I hingga V," ujarnya, menjelaskan. (**)

 





Komentar : 0


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)