Lismomon

Oleh:Lismomon Nata, S.Pd

Budaya Bajapuik

Warta Andalas | Selasa, 07 Januari 2014 - 19:31:59 WIB | dibaca: 1452 pembaca

Suku bangsa Minangkabau sebagai salah satu suku bangsa yang ada di Indonesia. Secara wilayah adat, orang Minangkabau secara umum mengenal 2 (dua) bagian daerah yaitu daerah darek atau luhak nan tigo (luhak Agam, luhak 50 Koto, dan luhak Tanah Datar). Daerah luhak ini diyakini oleh orang Minangkabau  sebagai daerah ‘asa’ (asal), dimana awalnya secara tambo turun dari daerah Pariangan Padang Panjang. Kemudian, seiring dengan perkembangan, maka masyarakat Minangkabau mencari daerah baru yang dikenal dengan daerah rantau. Akar kata ‘Rantau’ umumnya berati ‘pantai, sungai, dan luar negeri’. Akan tetapi di Minangkabau, rantau mempunyai arti khusus yaitu daerah- daerah yang berbatasan dengan darek (Sutan Pamuncak 1935) atau biasa disebut sebagai daerah Pasisia karena pada umumnya daerah perkembangan ini pada umumnya berada pada sepanjang pesisir pantai, salah satunya adalah rantau Pariaman.

Pariaman, merupakan salah satu rantau yang sangat berpengaruh dalam perkembangan orang Minangkabau. Hal ini ditandai dengan perkembangan masyarakatnya serta kebudayaan yang dimiliki. Letak yang strategis, dekat dengan pantai sebagai tempat berlabuhnya para pedagang dari negara luar serta keterbukaan masyarkat Pariaman terhadap masyarakat untuk menerima orang lain menyebabkan masyarakat tersebut dapat melakukan hubungan dan berpengaruh terhadap kebudayaan yang dimiliki orang Pariaman. Diantara kebudayaan tersebut adalah masyarakat Pariaman dikenal sebagai pembuat Batik Sampan, merupakan pelaut ulung, pedagang emas, hingga terkenal sebagai saudagar yang sukses.

Dalam tulisan ini penulis tertarik untuk menganalisis tentang Budaya Banjapuik yang sangat berhubungan dengan gelar yang digunakan dalam stratifikasi masyarakat Pariaman. Petitih adat Minangkabau “Ketek banamo, gadang bagala”(laki- laki di Minangkabau sewaktu kecil dipanggil dengan nama, jika setelah besar atau setelah menikah diberikan dan dipanggil berdasarkan gelar), dijadikan sebagai landasan tentang sebuah status seseorang pada masyarakat Minangkabau. Gelar adat yang digunakan oleh orang Pariaman itu adalah Sidi, Bagindo, dan Sutan.

Hadirnya ketiga gelar ini pada masyarakat Pariaman, tidak lain tersebab pengaruh budaya asing yang melakukan akulturasi (penggabungan dua kebudayaan tanpa menghilangkan budaya lama), dalam hal ini penulis melihat besarnya pengaruh bangsa Arab terhadap perkembangan masyarakat Pariaman. Secara historisnya, ketiga gelar tersebut merupakan ‘adopsi’ dari gelar- gelar bangsa Arab, yaitu Sidi merupakan adopsi dari kata Syaidina (Yang Mulia), Bagindo merupakan adopsi dari kata Baginda dan Sutan merupakan adopsi dari kata Sultan. Dengan demikian pada hakekatnya lelaki pada masyarakat Pariaman yang telah menikah maka tersandanglah salah satu status tersebut pada dirinya.

Pada awalnya gelar pada lelaki Pariaman tersebut merupakan suatu status yang sangat penting, hal yang tabu bagi pihak perempuan (mertua atau saudara dari pihak istri) apabila menantunya tidak dipanggilkan gelarnya, sehingga gelar tersebut dianggap sebagai ‘harga diri atau martabat’.  Pemberian stratifikasi (tingkatan) ketiga gelar tersebut, ditentukan oleh proses bagaimana seorang laki-laki pada masyarakat Pariaman itu dijadikan sebelum menjadi menantu. Disinilah adanya budaya “Menjapuik” (Budaya Menjemput) ada dan berperan.

Adanya budaya manjapuik pada masyarakat Pariaman didasarkan kepada alasan logis terhadap peran yang akan ‘dimainkan’ oleh lelaki pada masyarakat Pariaman ketika dia menjadi kepala keluarga, karena dengan alasan menjadi seorang kepala keluarga memiliki peran yang penting dan memiliki tanggung jawab yang besar dalam keluarganya kelak. Budaya manjapuik yang pada awalnya adalah pemberian barang berharga (biasanya berupa emas) yang diberikan oleh pihak perempuan dengan jumlah tertentu, sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak terhadap keluarga laki-laki.

Budaya manjapuik dilakukan sebagai bentuk penghargaan pihak perempuan terhadap pihak laki-laki, dimana nantinya setelah dilakukannya pernikahan anak dari pihak perempuan menjadi tanggung jawab penuh oleh lelaki. Disamping itu, barang jemputan yang diberikan oleh pihak perempuan tersebut pada dasarnya merupakan sebagai pegangan bagi perempuan, apabila terjadi perceraian atau meninggalnya suami, sehingga dapat dimantaafkan si perempuan setelah itu. Dengan kata lain, ‘jemputan’ tersebut pada dasarnya bukanlah sesuatu kerugian pihak perempuan kepada pihak lelaki, karena jemputan tersebut akan dikembalikan kepada perempuan tadi yang dikembalikan sewaktu prosesi “Manjalang Mintuo” bahkan jumlah yang dikembalikan itu lebih dari jumlah yang diberikan pihak perempuan kepada pihak laki- laki tersebab pihak keluarga laki- laki, sanak- saudaranya ikut dalam berpartisipasi dalam ‘mengisi’ pada saat Manjalang Mintuo .

Masyarakat Pariaman juga mengenal dengan ‘uang hilang’, yaitu sejumlah uang yang diberikan oleh pihak perempuan kepada pihak laki-laki yang jumlahnya sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak (pihak perempuan dan pihak laki-laki), sebagai bentuk rasa kepedulian pihak perempuan terhadap pihak laki-laki untuk melakukan pesta perkawinan, dan biasanya uang hilang ini disebut juga dengan ‘uang dapur’.

Seiring dengan perjalanan waktu budaya banjapuik mulai terkikis dan bahkan hampir hilang pada masyarakat Pariaman. Begitupun dengan terjadinya pergeseran makna serta tidak jarang terjadinya salah persepsi terhadap budaya banjapuik. Hal ini ditandai dengan terjadinya perubahan pemahaman masyarakat terhadap budaya banjapuik ini. Dimana saat sekarang ini jemputan tersebut diasumsikan dengan uang dalam jumlah besar dan barang mewah lainnya seperti mobil. Dengan demikian timbulnya persepsi bahwa Budaya Manjapuik menjadi beban bagi pihak perempuan bahkan menjadi ‘momok’ yang menakutkan hingga menjadi suatu bahan ‘cemoohan’ yaitu diumpamakan dengan ‘dibeli’ .

Menurut hemat penulis budaya banjapuik merupakan sebuah local genius (pemikiran yang rasional dalam sebuah komunitas atau masyarakat tertentu) masyarakat Pariaman. Dimana budaya banjapuik memiliki makna yang besar dalam ‘pertahanan dalam keluarga’, bukan pemahaman yang sempit seperti apa yang dipersepsikan oleh masyarakat pada umumnya. Akankah Budaya Manjapuik dapat bertahan seiring dengan kuatnya kesimpang siuran atau salah persepsinya Budaya Manjapuik atau memang benar Budaya Manjapuik akan hilang pada masyarakat Pariaman? Hanya waktu yang dapat menjawabnya. (**)   





Komentar : 0


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)