Opini

Oleh: Amin Pratikno

“Kacung” Jabatan Paling Bergengsi?

Warta Andalas | Rabu, 11 Juli 2018 - 08:14:35 WIB | dibaca: 1185 pembaca

Di sebuah negeri nun jauh di sana, tersebutlah nama seorang penguasa yang dalam menjalankan roda kerajaannya terkenal sombong, arogan dan suka mempermalukan para “pembantu” yang ada di singgasananya.

Bertahun-tahun Raja itu menjadi penguasa yang lalim, yang hanya mementingkan urusan pundi-pundinya dari hasil konspirasi dengan bawahan serta berbagai pihak nepotisnya.

Tak ayal, perangai tuan Raja pun di copy paste oleh para abdi dalemnya untuk melanggengkan posisi atau jabatan, meski harus pontang-panting mencari setoran bagi sang Raja. Sebab, kalau tidak, bersiaplah untuk di lengserkan dan diganti dengan orang lain.

Ya… setoran yang akan dijemput oleh Kacung sang Raja, yang tentunya tak akan ada yang berani untuk membantah atau membangkangnya.

Jika si Kacung mendatangi para Abdi Dalem atas perintah tuan Raja, Abdi Dalem pun akan menjadi gemetaran seolah sedang berhadapan langsung dengan sang Raja, sehingga apapun yang dikatakan si Kacung, niscaya akan diturutinya. Jika tidak, si Kacung pun berani bertolak pinggang dan bahkan mengancam serta menggertak Abdi Dalem yang natabenenya adalah abdi para rakyat.

Tak hanya mengatur proyek, melalui si Kacung, Sang Raja pun tak segan-segan untuk meminta upeti jika ada peringatan hari besar, apalagi hari raya Idul Fitri.

Celakanya, para abdi dalem dibandrol setoran antara 10 hingga 20 Ringgit per-orang, tergantung posisi Abdi Dalem seperti Patih, Senopati, Demang hingga Hulubalang.

Woow.. sungguh luar biasa peran si Kacung. Tak ada yang berani membantah, apalagi melawan dan menolak apa yang ia katakan.

Namun sayang.. keberuntungan dalam kekuasaan itu tak selalu berpihak kepadanya. Dan ternyata benar kata pepatah, “Roda akan selalu berputar”.

Seiring berjalannya waktu, dan di tengah muaknya rakyat atas keporak porandaan perekonomian, kekuasaan sang Raja pun berhasil ditumbangkan oleh sosok pemuda nan tangguh, gagah berwibawa serta bijaksana, hingga rakyat melakukan sujud syukur atas berakhirnya perjalanan sang Raja lalim itu dengan harapan akan mampu menata kembali sendi-sendi kerajaan demi membaiknya ekonomi.

Lazimnya sebuah kerajaan dengan penguasa baru, tentu akan terjadi perombakan cabinet yang dipandang memiliki kompetensi dan mampu membantu kinerja sang Raja baru, bukan menempatkan Abdi Dalem yang hanya mampu memberikan laporan yang dalam bahasa gaul zaman now di sebut “ABS” (Asal Bapak Senang).

Menjelang penobatan sang Raja baru, muncullah issue keresahan dari para Abdi Dalem yang khawatir dan ketakutan jabatannya akan dicopot atau dalam bahasa kerennya di reshufel.

Bahkan, beberapa orang abdi dalem yang merasa posisinya terancam, langsung mendatangi sang Raja baru untuk meminta maaf dan menyatakan bersalah dengan dalih terpaksa karena adanya intervensi dari penguasa sebelumnya. Itu hal wajar dan lumrah dilakukan oleh para Abdi Dalem yang ingin tetap memiliki jabatan dalam kerajaan.

Tetapi di sisi lain, ada yang terdengar lucu dan menggelitik. Pasalnya, di sejumlah kalangan Abdi Dalem yang konon disisihkan pada masa penguasa sebelumnya, mengatakan tak berambisi untuk mendapatkan jabatan tinggi seperti Patih, Senopati, Demang ataupun Hulubalang, tetapi justru jabatan Kacung lah yang mereka harapkan.

Sebab, mereka menilai jabatan Kacung merupakan jabatan yang paling bergengsi. Buktinya, tingginya pangkat para Abdi Dalem tak akan punya nyali untuk melawan sang Kacung, entah itu atas titah tuan raja, entah itu permainan pribadi sang Kacung. Intinya, sang Kacung bisa membentak seorang pejabat tinggi kerajaan.

Nah, siapakah yang akan menggantikan posisi Kacung, kita lihat saja babak baru kerajaan ini. (**)





Komentar : 0


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)