Pariwara

“Ameh Hitam” dari Agam, Kopi Terbaik

Warta Andalas | Sabtu, 17 Maret 2018 - 11:16:47 WIB | dibaca: 1070 pembaca

Kabupaten Agam yang dikenal dengan  daerah yang subur dan kaya dengan berbagai hasil buminya. Agam merupakan daerah yang memiliki pegunungan dan lembah, yang sangat ideal untuk daeah pertanian dan perkebunan. Bahkan sekarang  Agam yang dikenal dengan hasil perkebunan kopi di beberapa Nagari yang sangat lezat dan nikmat.

Untuk saat ini kopi  merupakan salah satu komoditi sub sektor perkebunan yang memegang peranan penting dalam meningkatkan pertumbuhan  perekonomian masyarakat Agam maupun secara  nasional khususnya sebagai sumber devisa dan penyedia lapangan kerja.

 

Kabupaten Agam merupakan salah satu sentra kopi di Propinsi Sumatera Barat diantara 5 daerah lainnya yaitu Kabupaten Solok, Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Limapuluh Kota, Kabupaten Solok Selatan dan Kabupaten Pasaman.

Bupati Agam H. Indra Catri Dt. Malako Nan Putiah mengatakan  mengatakan di Kabupaten Agam, tanaman kopi tersebar hampir di seluruh kecamatan, namun terdapat 5 kecamatan produsen kopi utama  itu adalah di Kecamatan Palupuh yang terkenal dengan Kopi Luwak Raflesia dan Kopi Luwak Amai, Kecamatan Canduang yang terkenal dengan Kopi Lasi, Kecamatan IV Koto yang terkenal dengan Kopi Minang Singgalang, Kecamatan Palembayan yang terkenal dengan Kopi Palembayan dan Kecamatan Tanjung Raya dengan Kopi Sibarasok.  

 

"Sebagian wilayah Kabupaten Agam yang berada pada ketinggian 900-2.000  dari pemukaan laut sangat cocok untuk ditanami komoditi kopi. Hal ini tentu menjadi salah satu peluang bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya petani kopi." Ujar Bupati Agam usai mempromosikan kopi Rang Agam di Jakarta kemaren

Ke ikutsertaanya Kopi Agam dalam pameran di Jakarta tersebut hanya  bertujuan untuk memperkenalkan berbagai jenis kopi yang dikembangkan di Kabupaten Agam ,yang mampu mendorong berbagai peluang pemasaran baik secara lokal maupun  secara nasional.Bahkan sekarang saat ini  gencar dilaksanakan dengan harapan kopi dari Kabupaten Agam mampu bersaing di  pasar nasional bahkan dunia.

"Untuk itu, petani bersama Pemerintah Kabupaten melalui OPD terkait membuka peluang pengembangan kopi di Kabupaten Agam secara lebih profesional sehingga mampu mendorong peningkatan ekonomi masyarakat  Agam secara umum dan kesejahteraan petani secara khusus" Ujar Bupati Agam

 

Sejarah Kopi Di Kabupaten Agam

Sejarah perkembangan kopi di Ranah Minang khususnya di Kabupaten Agam sudah dimulai sejak ratusan tahun yang lalu. Sekitar abad ke-18, dimana masyarakat minang sudah memanfaatkan daun kopi untuk minuman. Di zaman itu dikenal dengan sebutan “Melayu kopi daun”.Sekarang sejarah itu yang  sudah hampir punah di Agam,dengan bangkitnya kembali “ameh hitam” dari luhak Agam,juga mampu menggeliatkan ekonomi masyarakat.

Sebutan “melayu kopi daun”kata Bupati adalah sebuah sejarah yang ditinggalkan oleh pendahulu  nenek moyangnya orang Agam.Karena itu adalah  merupakan  sebuah kalimat singkat atau julukan yang diberikan oleh penjajah Belanda “ sebagai bentuk merendahkan martabat rakyat Minang di waktu itu. Dan sampai sekarang, kebiasaan minum daun kopi tersebut dikenal dengan sebutan “kawah daun”atau dilafalkan menjadi “kawa daun”, dimana tempat atau wadah atau kawah minumnya juga khas dengan tempurung kelapa yang sudah dibersihkan.

Dan kawa daun ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Sumatera Barat. Masyarakat pecinta kopi bisa mendapatkannya di kedai kedai kopi di wilayah Agam kata Bupati.

 

"Berdasarkan cerita yang berkembang turun temurun di tengah masyarakat, sejarah minum kawa daun ini lahir dari peristiwa tanam paksa kopi  dimasa penjajah Belanda. Karena biji kopi harus dijual kepada Belanda, masyakarat yang ingin menikmati kopi hanya bisa menyeduh daunnya saja" ujar Bupati Agam

Namun Pakar sejarah dari Universitas Andalas Prof. Gusti Asnan memiliki pendapat yang berbeda tentang lahirnya kopi kawa daun ini. Menurut beliau, kebiasaan meminum kopi kawa daun sudah dilakukan oleh masyarakat Minang jauh sebelum kedatangan Belanda ke Ranah Minang.

 

Bupati Agam Juga Mengatakan kopi telah tumbuh subur sebelum Belanda datang ke pedalaman Minangkabau. Masyarakat minang sendiri baru menyadari bahwa biji kopi ini bernilai tinggi daripada yang mereka kenal sebelumnya ketika di akhir abad ke-18, sejak saudagar Amerika datang membeli biji kopi.

"Bibit kopi yang ada di Sumatera Barat menurut sejarah awalnya dibawa oleh haji dari Arab yang pulang dari Mekkah dengan jenis kopi arabica. Perkembangan tanaman kopi di wilayah Sumatera Barat mulanya berkembang di daerah Agam dan sekitarnya yang memiliki geografis yang cocok dengan jenis tanaman itu" kata Bupati Agam ketika menceriatakan sejarah kopi di Kabupaten Agam.

Mulanya dalam pola pengembangan, kopi tidak ditanam dengan teratur, tapi dibiarkan tumbuh liar, baik di sekitar rumah (kopi pagar) atau di hutan-hutan (kopi hutan). Kopi mulai menjadi komoditas perdagangan sejak tahun 1890 yang dibeli oleh pedagang dari Amerika Serikat.

 

Kondisi Aktual Kopi di kabupaten Agam Saat Ini

Kopi yang dijual di dunia biasanya adalah kombinasi dari biji yang dipanggang dari dua varietas pohon kopi seperti kopi arabika dan kopi robusta. Perbedaan di antara kedua varietas ini terutama terletak pada rasa dan tingkat kafeinnya. Biji arabika, lebih mahal di pasar dunia, memiliki rasa yang lebih mild dan memiliki kandungan kafein 70 persen lebih rendah dibandingkan dengan biji kopi robusta.

Selain memproduksi kopi biasa, Indonesia juga memproduksi  kopi special, yaitu kopi luwak, yang terkenal sebagai kopi termahal di dunia. Kopi ini diekstrasi dari biji kopi yang telah melalui sistem pencernaan musang luwak Asia (hewan yang mirip kucing). Karena proses fermentasi khusus di dalam perut hewan tersebut (dan juga karena fakta luwak bisa memilih buah kopi yang paling juicy) kopi ini dipercaya memiliki rasa yang lebih kaya. Proses produksinya yang memerlukan banyak tenaga kerja dan kelangkaannya di pasar internasional menyebabkan harganya menjadi mahal.

 

Bupati Agam, H. Indra Catri Dt. Malako Nan Putiah mengatakan produksi  2 jenis kopi yang dikembangkan di Kabupaten Agam yakni varietas Arabica dan Robusta terus mengalami peningkatan yang cukup membanggakan. Melalui kelompok tani yang semakin mengembangkan diri, terdapat berbagai kemajuan yang berarti dari proses penanaman, pengolahan, pengemasan hingga pemasaran. Peranan dari berbagai pihak yang ingin mendorong peningkatan kesejahteraan petani kopi juga sangat besar.

"Produksi kopi dengan luas lahan yang hampir sama sejak Tahun 2012 terus mengalami peningkatan produksi. Hal ini tidak terlepas dari program Pemerintah Kabupaten Agam melalui bantuan bibit, peremajaan dan berbagai pembinaan. Kondisi ini semakin menggairahkan kelompok tani untuk terus mengembangkan diri agar menghasilkan kopi yang tinggi secara kualitas dan kuantitas." ujar Bupati Agam

Produk kopi yang dijual ke pasaran terdiri dari 2 jenis diantaranya yaitu bubuk dan biji, pemasaran kopi di Kabupaten Agam sudah mencakup pasar tradisional, pasar regional dan pasar internasional.

 

Kabupaten Agam yang memiliki 5 wilayah sentra pengembangan dan pengolahan kopi yang tersebar di 5 kecamatan. Dilima Kecamatan tersebut dengan produksi yang berpariasi dan luas areal yang berbeda beda.

"Namun kopi yang di hasilkan di lima kecamatan ini semuanya sudah merambah kepasar  internasional seperti kopi luwak" ujar  Bupati Agam.

1.   Kecamatan  Tanjung Raya (Kopi Sibarasok)

Kopi Sibarasok merupakan kopi jenis robusta, dengan  rasa yang istimewa dari kopi ini adalah cara pengolahannya yang sangat alami. Pengeringan biji kopi dilakukan dalam kondisi masih dibungkus kulit dan tidak langsung terkena cahaya matahari, sehingga butuh waktu yang sangat lama sekitar 2 – 3 bulan.

Pola yang dilakukanpetani inilah yang menjadikan rasa kopi ini khas dan berkualitas. Kopi ini diproduksi dalam dua jenis olahan yaitu dalam bentuk bubuk dan biji (bean). Pada Festival Kopi Sumatera Barat yang diadakan tanggal 1-2  Agustus 2017 di Padang, Kopi Sibarasok meraih juara I untuk jenis Kopi Robusta. Beberapa kafe kota-kota besar yang ada di Sumatera Barat dan Indonesia, telah menjadi langganan kopi ini.

 

2.   Kecamatan  Candung (Kopi Lasi)

Sama halnya dengan Kopi Sibarasok, kopi Lasi dalam proses pengeringannya juga tidak langsung terkena cahaya matahari, karena menggunakan dome (media pengeringan) yang menyaring masuknya cahaya matahari. Hal ini mempengaruhi aroma dan kualitas biji yang jauh lebih baik daripada sebelum menggunakan domeNamun sebelum dikeringkan, kulit kopi sudah dilepas terlebih dahulu.

Kopi Lasi merupakan spesiality Arabica yang ditanam di ketinggian 1.500 mdpl dengan varietas Kartika dan Katimor dibandrol mencapai harga Rp. 120.000/250 gram. Dalam Festival Kopi Sumatera Barat yang diadakan tanggal 1 – 2 Agustus 2017, Kopi Lasi meraih juara III kategori Kopi Arabica.

 

3.   Kecamatan IV Koto (Kopi Minang Singgalang)

Kopi Minang Singgalang merupakan jenis Kopi Arabica. Kebun kopi ini berada di kaki Gunung Singgalang Nagari Balingka pada ketinggian 1280 – 1400 mdpl. Dalam proses pengeringan biji, juga menggunakan dome sebagai media pengeringan, sehingga cahaya matahari tidak langsung mengenai biji kopi. Kopi ini dijual dalam bentuk bubuk dan biji, yang mengisi kafe – kafe atau kedai kopi di wilayah Sumatera Barat.

4.   Kecamatan  Palupuh (Kopi Luwak Rafflesia)

Kopi luwak dari Nagari Batang Palupuh merupakan kopi luwak alami karena berasal dari hewan luwak yang hidup bebas dihutan sehingga menghasilkan kopi luwak organik dengan kualitas tinggi. Harga saat ini 100 gram mencapai 200 ribu atau Rp. 2 juta perkilogram.Salah satu kopi luwak dengan label Rafflesia sudah memiliki sertifikat lab dari Sucofindo.

 

Raflesia Luwak Coffee Batang Palupuah, Kecamatan Palupuah, Kabupaten Agam, telah mampu menembus pasar internasional, bahkan mampu menarik wisatawan manca negara (Wisman) untuk berkunjung ke Palupuh. 

Kopi luwak ini telah diekspor di antaranya ke Belanda, Korea, Thailand dan Amerika. Pengiriman tidak bisa banyak, karena persediaan kopi terbatas. Jumlah produksi kopi luwak berkisar hanya sekitar 40 kg/bulan.

5.   Kecamatan  Palembayan (Kopi Palembayan)

Pengembangan kopi di Palembayan melalui penanaman 10 ribu kecambah di tiga kelompok tani pelaksana di Kecamatan Palembayan di tiga kelompok tani setempat. Kelompok Tani Pelaksana Bukik Sakura sebanyak 3.500 kecambah, Kelompok Tani Monggong Indah sebanyak 3.250 kecambah dan Kelompok Tani Lambah Saiyo sebanyak 3.250 kecambah.

Kopi Palembayan siap go Internasional seiring beragam persiapan yang dilakukan petani kopi yang dibantu khusus tim Palembayan Heritage (PH) dan pemerintah. PH juga menyiapkan pendampingan khusus kepada petani kopi dan mendorong masyarakatprospek pengembangan kopi Palembayan pada petani kopi.

Harga biji kopi saat ini dijual dengan kisaran Rp. 30 ribu per kilogram, sedang kopi bubuk Rp.60 ribu per kilogram. Jika dikelola secara profesional harga biji kopi bisa melambung apalagi biji kopi kualitas bagus bisa menembus Rp. 160.000 per kg, dan yang sudah melalui proses roasting mencapai  Rp. 400.000 per kilogram.

 

Prospek Pengembangan Kopi

Kabupaten Agam mempunyai kondisi topografi yang cukup bervariasi, mulai dari dataran tinggi hingga dataran yang relatif rendah, dengan ketinggian berkisar antara 0 - 2.891 meter dari permukaan laut.

Menurut kondisi fisiografinya, ketinggian atau elevasi wilayah Kabupaten Agam, bervariasi antara 2 meter sampai 1.031 mdpl, adapun pengelompokkan yang didasarkan atas ketinggian adalah sebagai berikut:

Wilayah dengan ketinggian 0-500 meter dari permukaan laut seluas 44,55 persen  sebagian besar berada di wilayah barat yaitu Kecamatan Tanjung Mutiara, Kecamatan Lubuakbasuang, Kecamatan Ampek Nagari dan sebagian Kecamatan Tanjung Raya.

Wilayah dengan ketinggian 500-1000 m dpl seluas 43,49% berada pada wilayah Kecamatan Baso 725-1525 m dpl, Kecamatan Ampek Angkek Canduang, Kecamatan Malalak 425-2075 m dpl, Kecamatan Tilatang Kamang, Kecamatan Palembayan 50-1425 m dpl, Kecamatan Palupuh 325-1650 m dpl, Kecamatan Banuhampu 925-2750 m dpl dan Kecamatan Sungai Pua 625-1150 m dpl.

 

Wilayah dengan ketinggian > 1000 meter dari permukaan laut seluas 11,96 persen meliputi sebagian Kecamatan IV Koto 850-2750 meter daruipermukaan laut Kecamatan Matur 825-1375 meter dari permukaan laut dan Kecamatan Canduang, Sungai Pua 1150-2625 meter dari permukaan laut.

Kawasan sebelah barat merupakan daerah yang datar sampai landai 0 – 8 persen mencapai luas 71.956 hektar, sedangkan bagian tengah dan timur merupakan daerah yang berombak dan berbukit sampai dengan lereng yang sangat terjal  45 persen yang tercatat dengan luas kawasan 129.352 hektar. Kawasan dengan kemiringan yang sangat terjal  45 persen berada pada jajaran Bukit Barisan dengan puncak Gunung Merapi dan Gunung Singgalang yang terletak di Selatan dan Tenggara Kabupaten Agam.

 

Temperatur udara di Kabupaten Agam terdiri dari dua macam, yaitu di daerah dataran rendah dengan temperatur minimum 250Cicius  dan maksimum 330Cilsius Lubuakbasuang, sedangkan di daerah tinggi yaitu minimum 200C dan maksimum 290C ilsius Tilatang Kamang. Kelembaban udara rata-rata n 8 persen, kecepatan angin antara 4-20 kilometer per jamdan penyinaran matahari rata-rata 58 persen

"Dari data tersebut, Kabupaten Agam sangat ideal terhadap pengembangan kopi mulai dari iklim, ketinggian, suhu dan jenis tanah. Pengembangan melalui perluasan lahan juga masih memungkinkan dilakukan, dari 3.394 Ha peruntukan lahan Kopi baru digunakan seluas 2.218 Ha atau 65 persen." ujar Bupati Agam Indra Catri

Kebijakan Pengembangan Kopi

Tren produksi kopi jenis arabika dan robusta masih menggunakan pola produksi tradisional dan konvesional sehingga belum banyak yang bisa mencapai target speciality. Khusus untuk kopi luwak organik dari Kecamatan Palupuh sudah memiliki sertifikat dari sucofindo dan di ekspor ke berbagai negara di eropa dan Australia.

Posisi kualitas kopi di Kabupaten Agam setara dengan kopi berkualitas lain di Indonesia seperti Kopi Gayo, Kopi Toraja dan yang lainnya. Jika dikelola dengan profesional dapat mencapai excellent cup. Kopi proses semiwash minang singgalang pernah mencapai cupping score 84,5 cupping score minimal 80,01

 

Hambatan dan tantangan:

Luas lahan existing dan petani kopi masih sedikit sehingga belum mampu memenuhi permintaan pasar kuantitas. Proses pelaksanaan panen dan pasca panen ada yang masih tradisional kualitas.Teknik pemasaran yang semakin kompetitif, permintaan pasar terhadap varietas kopi di Kabupaten Agam sangat tinggi.

Potensi pengembangan kopi di Kabupaten Agam didukung oleh iklim, suhu, ketinggian dan jenis tanah yang sangat baik.

Bupati Agam H. Indra Catri Dt. Malako Nan Putiah juga mengatakan pengembangan kopi di Kabupaten Agam ke depan merupakan langkah yang harus dilakukan dalam menjawab peluang pasar yang ada, yang tentu berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan petani. Hal yang menjadi program Pemerintah Kabupaten Agam guna mendorong produktifitas kopi yang berkualitas.

 

Sekaranag Pemerintah Kabupaten Agam, melanjutkan program peningkatan kualitas petani kelompok tani melalui pembinaan dan bimbiingan teknis dari Kepala OPD terkait. Program pemberian bantuan bibit berkulitas dan peremajaan tanaman kopi, program pembinaan manajemen pemasaran, pengemasan produk, jejaring kerjasama dengann pihak investor.

"Kopi adalah jenis minuman yang penting bagi sebagian besar masyarakat di Kabupaten Agam dan Sumatera Barat. Bukan hanya karena kenikmatan konsumen peminum kopi namun juga karena nilai ekonomis bagi Kabupaten Agam yang memproduksi dan mengekspor biji kopi  pasar pasar tradisioanl maupun ke seluruh pelosok Nusantara. Beberapa produk ini, dibuat dari biji tanaman kopi yang dipanggang (tanaman berbunga dari famili Rubiaceae), disebut sebagai komoditi kedua yang paling banyak diperdagangkan secara legal." ujar Bupati Agam.​ (khw)





Komentar : 0


Nama

Email

Komentar



(Salin kode keamanan diatas)